Isu-isu Sensitif di Mata Netizen

  • Whatsapp
isu sensitif mereka
Ilustrasi
banner 468x60

Opini Isu-isu Sensitif di Mata Netizen
Oleh: Dr. Teguh Sulistyo, M.Pd.*

Noam Chomsky mengatakan bahwa language is a mirror of mind. Ungkapan kita, baik yang terucap maupun tertulis, sesungguhnya cerminan pikiran (dan perasaan) kita. Tidaklah mengherankan apabila seseorang dilanda asmara, maka ungkapannya akan cenderung berbunga-bunga.

Namun apabila seseorang diperlakukan tidak adil, maka ungkapann kesedihan bahkan kemarahanlah yang dilontarkan.

Kajian psikolinguistik juga mengedepankan hubungan antara bahasa, pikiran, dan budaya, dalam sebuah komunikasi. Ini berarti bahwa budaya ikut berperan penting dalam proses komunikasi.

Budaya membentuk pola-pola komunikasi yang muncul dalam kehidupan bermasyarakat. Budaya menciptakan norma-norma yang telah disepakati bersama.

Perlu dicermati bahwa netizen/warganet seringkali mengungkapkan isi hati atau pikirannya secara straight forward, langsung, spontan, tanpa filter dan tanpa basa basi.

Baca Juga: Literary Quotient (LQ) atau Kecerdasan Sastrawi

Mereka cenderung berani mengungkapkan pemikirannya, baik itu positif maupun negatif. Tanpa tedeng aling-aling. Kemungkinan, itu karena mereka tidak bertatap muka, bahkan tak saling mengenal.

Ada sebuah ilustrasi, bagaimana warganet mengungkapkan pikirannya di dunia maya, yaitu komentar mereka terhadap idola mereka atau “lawan” idola mereka. Sudah bukan rahasia kalau Lionel Messi selalu dibandingkan dengan Cristiano Ronaldo.

Fans Ronaldo tidak segan-segan mengolok-olok Messi apabila Barcelona kalah dengan mengatakan “Bancilonia” atau “Messi pemain goblok.”

Baca Juga: Kontra Narasi di Era Digital

Padahal besar kemungkinan, yang berkomentar tidak pandai bermain bola. Tapi itulah realita dunia maya. Netizen tidak segan-segan berkomentar pedas dan keras.

Ungkapan tersebut sebenarnya tidak didasarkan pada fakta. Messi masih dianggap sebagai salah satu “dewa bola” yang pernah ada.

Namun, bisa jadi komentar semacam itu dipengaruhi oleh alam pikiran para fans, karena Messi dianggap “lawan” Ronaldo, idola mereka. Jadi, dalam hal ini perasaan like and dislike jelas sangat mewarnai komentar netizen.

Baca Juga: Pandemi dan Konspirasi dalam Novel Disorder

Ungkapan rasa cinta tanah air dan bela bangsa ala netizen menggemparkan jagad maya media sosial tatkala kontingen Indonesia dipaksa mundur dari All England.

Hal ini dapat dimaklumi, karena olahraga bulutangkis selama bertahun-tahun telah mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Berbagai prestasi sudah ditorehkan oleh atlet-atlet bulutangkis selaku duta bangsa. Sejarah pun membuktikan, di samping Cina, Jepang, dan Korea, Indonesia adalah salah satu raksasa dunia di cabang olahraga ini.

Semangat tinggi untuk meraih prestasi sudah membara di sanubari para atlet. Perjalanan pesawat 20 jam dari Jakarta menuju Birmingham, Inggris, ditempuh untuk menggapai prestasi juara. Namun apa daya, fakta berbeda dari impian. Kontingen Indonesia dipaksa mundur dari ajang All England, karena rombongan berada satu pesawat dengan seorang penumpang yang positif Covid-19.

Baca Juga: Inmemoriam “Balnggur”: Penda Arkais Waktu Buka Puasa Zaman Dulu

Sesuai peraturan negara Ratu Elizabeth, seluruh atlet dan ofisial harus melakukan isolasi mandiri selama sepuluh hari. Atlet kita yang sudah bersiap bertanding di babak 32 besar kontan terkejut dan kecewa. Mereka bahkan marah dan frustasi karena dipaksa ‘pensiun dini’ di ajang bergensi ini.

Kontan saja netizen Indonesia mengguncang dunia maya dengan beragam komentarnya. Bahkan, akun All England pun tumbang setelah ‘disambangi’ netizen negeri merah putih. Selebritas pun tidak mau ketinggalan dengan mengunggah lebih dari seribu unggahan foto black shuttlecock. Mayoritas netizen mencaci maki BWF dan panitia AllL England. Mereka menganggap ini cara licik untuk menjegal tim Indonesia.

Baca Juga: UPAWASA, Tradisi Berpuasa dalam Berbagai Agama dan Keyakinan

Serangan ini sebenarnya hanya salah satu contoh ungkapan kekecewaan atas stimulus ketidakadilan (menurut netizen). Mari kita coba pahami ini sebagai dinamika kehidupan berkomunikasi di dunia maya.

Lalu, apakah pikiran netizen/warganet pecinta bulutangkis itu yang membangun ungkapan-ungkapan mereka? Bagaimanakah peran budaya Indonesia yang dikenal sopan dan santun? Apakah sudah berubah? Ataukah gaya bertutur di media sosial memang berbeda dengan di ranah lesan atau tatap muka?

Baca Juga: Emansipasi yang Menginspirasi

Komentar netizen akan berbeda sekali dalam merespon unggahaan facebook dosen mereka. Mereka akan berkomentar dengan sangat santun untuk menyetujui. Dan, apabila mereka kurang setuju, maka akan berkomentar dengan kata-kata yang santun pula. Misalnya, dengan mengatakan “Maaf, Prof. Menurut saya…..sekali lagi maaf, ini hanya pemikiran saya.”

Dalam konteks ini, netizen memahami dengan siapa mereka berbicara (berkomentar). Oleh sebab itu, ungkapan yang disampaikan diutarakan secara hati-hati. Hal ini menunjukkan konteks budaya masih dipegang dengan baik bila mereka merespon atau berkomunikasi dengan sosok yang dikenal atau dihormati, meskipun itu melalui dunia maya, tanpa tatap muka.

Baca Juga: Alih Wahana Cerita Wayang

Seyogyanya netizen berkomentar secara baik dan positif, dengan siapapun mereka berkomunikasi atau merespon peristiwa. Mereka perlu memahami bahwa dunia maya yang tanpa batas waktu dan wilayah mesti dimanfaatkan secara bijak.

Pengetahuan mengenai intercultural communication, yaitu komunikasi dengan melibatkan orang lain dengan latar belakang budaya yang berbeda, perlu dipelajari. Budaya yang berbeda memungkinkan memahami suatu permasalahan dari sudut pandang yang berbeda pula.

Tak jarang, komentar netizen di dunia maya dalam menanggapi suatu topik lebih menarik dari pada topik itu sendiri. Keanekaragaman komentar tersebut pasti berasal dari pemikiran yang berbeda atau sudut pandang budaya yang berbeda. Komentar pro dan kontra akan suatu isu atau peristiwa saling “bertarung” untuk dimenangkan.

Kebebasan berekspresi di dunia maya nampaknya menjadi trend literature baru dengan segala kebebasan dan keaneka ragaman. Hal ini terkait erat dengan salah satu fungsi bahasa yaitu sebagai interpersonal function (berfungsi antar-pribadi).

Bahasa digunakan sebagai media untuk menjalin hubungan dengan orang lain dan/atau masyarakat. Dalam hal ini masyarakat dunia maya, yaitu para netizen/warganet.

Era digital memang memberikan kesempatan luas bagi kita untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan, baik positif maupun negatif, dengan mudah dan cepat.

Ini merupakan konsekuensi normal dari perkembangan jaman, utamanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Tinggal kita mau ikut perkembangan jaman atau tertinggal di belakang, atau bagaimana kita menyikapinya.

Sulit dibayangkan reaksi netizen Indonesia andai tim sepakbola Indonesia yang sudah bermain di pertandingan pertama fase group piala dunia dan menang melawan tim Jerman, tiba-tiba dipulangkan. Pasti super gempar. Unggahan bernuansa Black Ball akan riuh menghiasi dunia medsos.

Ah, ini kan baru fantasi liar saya. Kebebasan berfantasi dan berkomentar di dunia maya. Mungkin ada yang menilai fantasi ini terlalu gila atau mimpi di siang bolong laksana waiting for Godot, penantian yang tidak akan terjadi. Tapi itu terserah komentar netizen.

*Penulis adalah dosen Universitas PGRI Kanjuruhan Malang dan anggota Perkumpulan Cendikiawan Bahasa dan Sastra (CEBASTRA)