Tanam Pepaya untuk Menopang Ekonomi Jemaat

  • Whatsapp
banner 468x60

NUSADAILY.COM – KUPANG – Dalam menjalankan tugas pelayanan kepada jemaat. Di Gereja GMIT Imanuel Kukak kecamatan Sulamu Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur Pendeta Tamariska Koni Mali Soden Ndaparoka tidak fokus pada bagaimana pertumbuhan iman jemaat tapi terjun memberdayakan jemaat secara ekonomi. Demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan menanam pepaya bersama jemaat. Kini sudah ratusan pohon pepaya ditanam.

Menurut alumni fakultas teologi Ukaw Kupang ini, pola pelayanan yang dikemas secara jasmani dan rohani dapat berlangsung dengan baik dan membuahkan hasil.

"
"

Baca Juga

"
"

“Pertumbuhan iman diikuti dengan pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian kehidupan jemaat tidak timpang,” tuturnya dalam percakapan dengan Nusadaily.com Rabu (16/9) .

Pendeta Tamariska mengisahkan, dalam menjalankan pelayanan di jemaat tidak fokus pada urusan iman jemaat. Tapi terlibat dalam urusan jasmani. “Sejak melaksanakan tugas sebagai pelayan, saya terinspirasi dari bapak untuk turun ke tengah jemaat dan berdayakan jemaat,” kisahnya.

Dia mengatakan, ayahnya dalam pelayanan kepada jemaat di Gereja Kristen Sumba aktif berdayakan jemaat. “Bapak saat melayani di gereja Kristen Sumba, tidak fokus di mimbar. Tapi terjun dan memotivasi jemaat supaya berupaya untuk berinovasi. Dan tumbuhkan ekonomi keluarga dengan mendorong jemaat bertani. Sehingga tidak ada ketimpangan antara iman dan jasmani. Dengan demikian jemaat hidup dengan baik dan benar serta bisa nampak kehidupan yang layak secara jasmani dan rohani,” tuturnya.

Banyak Terjun ke Jemaat

Lebih lanjut dikatakan ketika masih aktif melayani banyak terjun ke tengah jemaat. Sehingga dari kecil melihat dalam pengabdian. “Beliau melayani tidak hanya di gereja, tapi di kebun-kebun. Dengan cara buka lahan baru bersama jemaat kemudian itu direspons baik oleh jemaat. Dan inovasi ini hasilnya memuaskan dan dapat meningkatkan kehidupan jemaat. Sehingga tidak saja tumbuh iman. Tapi seiring sejalan iman dan jasmani, maka tidak ada ketimpangan sosial. Dan saya juga dalam melayani di jemaat GMIT menggunakan metode seperti bapak. Sebab beliau berpesan agar jadi pendeta mesti mau untuk hidup dengan jemaat. Artinya mesti berdayakan apa yang bisa diberdayakan. Jangan diam di pastori, tapi mesti ada di tiap pergumulan jemaat supaya kalau dapur pendeta ada asap di dapur jemaat juga ada asap,” kisahnya.

“Untuk itu pesan bapaknya kata dia yang juga pelayan dalah dalam melayani jemaat terjun ke tengah jemaat untuk bertani. Karena pelayanan sesungguhnya jemaat bisa bertumbuh iman dan jasmani. Untuk jemaat hidup baik dalam kehidupan sehari-hari dan itu membuat pelayan bangga dengan pelayanannya yang jalankan,” tuturnya.

Ditambahkan dalam melayani, dirinya tidak saja fokus pada bagaimana pertumbuhan iman jemaat, tetapi ikut mengambil bagian dalam pemberdayaan ekonomi jemaat untuk pemenuhan kebutuhan dasar dalam keluarga melalui bidang pertanian. Diakui pola pelayanan tersebut semua dilakukan karena terinspirasi dari bapaknya Pdt Emr. Bili Ndaparoka, B.Th yang dalam melayani tidak saja fokus tentang iman jemaat tapi terjun mengambil bagian dalam urusan jasmani juga.

“Saya tidak fokus pada rohani tapi memperhatikan kebutuhan jasmani juga. Mengingat kebutuhan jasmani terpenuhi iman juga akan bertumbuh baik. Sehingga saya memperhatikan sejak ditugaskan untuk melayani sampai sekarang selalu melaksanakan tugas pelayanan kepada jemaat secara rohani dan jasmani,” ujar anak dari Yohana Bulu yang merupakan pensiunan guru ini.

Menurut pendeta yang memiliki hobi membaca buku, berolahraga dan menyanyi ini dalam menjalankan tugas pelayanan di jemaat sejauh ini membangun kerja sama dengan jemaat dengan membuka lahan tidur seluas sekitar satu hektar. Kemudian lahan tersebut ditanami pepaya sebanyak 432 pohon.

“Saya kerja sama dengan presbiter di bidang pertanian dan membuahkan hasil yang lumayan baik. Sehingga dapat membantu jemaat dari sisi ekonomi,” katanya.

Bangga dengan Palayanan yang Diemban

Pendeta kelahiran Nunkurus 11 Maret 1985 yang memiliki moto ‘Segala Perkara dapat Ku Tanggung di dalam Dia yang memberi Kekuatan kepada ku (Filipi 4.: 13)’ ini mengaku bangga dengan pelayanan yang diemban. Karena dapat melaksanakan dengan baik didukung para presbiter dan jemaat. Tak ketinggalan juga pemerintah desa ikut mendukung dengan memberikan dana desa.

“Syukur bantuan dana desa sangat membantu. Sehingga program kerja dari jemaat dapat dijalankan dengan baik. Kerja sama dengan semua pihak berjalan dengan baik dan membuahkan hasil yang baik,” tuturnya.

Diuraikan semua program yang dijalankan dengan jemaat sesuai dengan hasil keputusan persidangan jemaat. Sehingga dapat terlaksana dengan baik sesuai yang diputuskan bersama jemaat. Gereja membuka kelompok tani dengan nama kelompok tani Tunas Baru dengan anggota adalah presbiter, dan pengurus inti kategorial jemaat. Hasil dari usaha pertanian itu dapat membantu pembiayaan rutin dan program pelayanan jemaat.

“Usaha pertanian lumayan hasil bisa membiayai kebutuhan pelayanan di jemaat sejauh ini,” ujarnya.

Dia menuturkan sampai saat ini sudah ada seribu pohon pepaya yang ditanam dan hasil tahun pertama dan kedua, langsung diantar ke Transmart lewat supplier.

Untuk diketahui, kini jemaat sudah menanam 1000 pohon pepaya di kebun gereja. Belum termasuk yang jemaat tanam di kebun masing- masing. “Ini semua beranjak dari semangat untuk berusaha memberi yang terbaik bagi Tuhan. Dengan memberi yang terbaik dari apa yang Tuhan anugerahkan bagi saya untuk jemaat. Saya berusaha untuk ada bersama jemaat adalah suatu kebahagiaan tersendiri, tidak hanya untuk mereka tapi tentu juga untuk kita semua,” paparnya.

Di kisahkanya, dalam menjalankan tugas Melayani di jemaat ada banyak pengalaman tidak hanya yang indah, baik, suka menyenangkan tapi dapat diibaratkan tenunan, yang tidak hanya ada satu warna. Tapi aneka warna, tidak hanya warna yang terang tapi gelap pun ada, tapi sesungguhnya itu yang memperindah tenunan tersebut. (soy/tia/aka)

Post Terkait

banner 468x60