Disparekraf NTT Bentuk Sekolah Lapang Ekowisata Desa, Apa Itu?

  • Whatsapp
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Wayan Darmawa. (foto: antara)

NUSADAILY.COM – KUPANG – Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Wayan Darmawa mengatakan pihaknya memprioritaskan kegiatan konsolidasi.  Ini untuk menggeliatkan kembali sektor pariwisata di wilayah setempat pada masa awal penerapan normal baru.

“Di masa awal normal baru ini, konsolidasi menjadi aspek yang kami utamakan. Terutama membangun komunikasi dengan berbagai pelaku industri pariwisata, baik asosiasi maupun  pelaku di tingkat desatinasi,” katanya dalam keterangan yang diterima di Kupang, Selasa (23/6) dilansir dari kantor berita Antara.

Ia mengatakan, pada masa konsolidasi ini pihaknya telah membentuk sekolah lapang ekowisata desa untuk membangun jaringan secara virtual dengan pihak asosisasi industri wisata. Seperti GenPi, Asita, Asidewi, PHRI, HPI, maupun seluruh pelaku di desa-desa wisata.

Konsolidasi ini, lanjut dia, untuk membangun kepercayaan diri baru untuk bersama-sama menggeliatkan kembali sektor pariwisata yang melemah akibat pandemi COVID-19.

“Salah satunya fokus kami adalah bagaimana menjaga kebersihan selama masa pendemi ini dengan gerakan NTT BISA (Bersih, Indah Sehat, dan Aman),” katanya.

“Kita bersyukur desa-desa sudah memanfaatkan kondisi pelemahan yang ada di masa pandemi ini sehingga di tengah keterbatasan, mereka telah menetapkan protokol kesehatan secara baik,” katanya.

Perkuat Koordinasi Secara Virtual


Wayan Darmawa mengatakan, dalam masa konsolidasi ini pihaknya terus memperkuat koordinasi dan komunikasi secara virtual melalui web seminar (webinar) dengan melakukan sebanyak 10 kali pertemuan.

Pada masa ini juga, lanjut dia, promosi potensi pariwisata juga terus dilakukan dan sudah dihasilkan sebanyak 14 publikasi yang memuat narasi-narasi tentang berbagai objek wisata di provinsi berbasiskan kepulauan itu.

Lebih lanjut Wayan Darmawa mengatakan pada masa awal normal baru di NTT yang mulai diberlakukan sejak 15 Juni 2020, pihaknya mengutamakan kesiapan objek wisata untuk menerima kunjungan wisatawan lokal selama satu hingga dua bulan ke depan.

Hal ini, katanya, karena layanan transportasi udara belum normal sehingga belum banyak akses dari luar yang masuk NTT. “Di masa ini lah kami manfaatkan untuk konsolidasi untuk membangun optimisme baru lewat gerakan NTT BISA,” katanya.

Ia menambahkan, selanjutnya setelah akses transportasi mulai normal maka destinasi-destinasi wisata dipastikan lebih siap untuk menyambut kunjungan wisatawan nusantara serta mancanegara.(aka)