Kamis, September 29, 2022
BerandaNewsRegionalReview RTRW 2013-2033, FKMS Sumenep Sebut Tidak Berdasar Kajian Terhadap Dampak Lingkungan

Review RTRW 2013-2033, FKMS Sumenep Sebut Tidak Berdasar Kajian Terhadap Dampak Lingkungan

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

NUSADAILY.COM- SUMENEP – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Front Keluarga Mahasiswa Sumenep (FKMS) melakukan audensi di kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Kamis 21 Januari 2021.

Kedatangan mahasiswa tersebut dalam rangka review Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2013-2033. Dan penambangan fosfat di beberapa wilayah di Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur yang mendapat kecaman keras dari berbagai kalangan.

“Pemerintah kabupaten, utamanya Bapedda Sumenep dalam memasukkan titik lokasi di beberapa Kecamatan, terkait RTRW untuk penambangan Fosfat. Tidak berdasarkan kajian atau penelitain terhadap dampak lingkungan,” kata Kordinator FKMS, Abd Mahmud.

Menurutnya, pihak Bappeda hanya berdasarkan pada kajian potensi alam yang sudah dilakukan oleh beberapa penelitian.

Selain itu, lanjut Mahmud, kesiapan masyarakat di kabupaten berjuluk kota keris ini, pasca adanya penambangan tersebut masih belum diketahui kejelasannya.

Bahkan, kata Mahmud, Pemerintah setempat sampai saat ini masih belum menjawab terkait nasib masyarakat tehadap dampak dari pertambangan itu.

“Sehingga kami mengusulkan harus ada kajian penelitian terhadap dampak lingkungan. Artinya Pemda tidak hanya memikirkan perkembangan Sumber daya alam untuk berpotensi terhadap pertumbuhan ekonomi saja,” urainya.

Selain itu, di dalam peraturan daerah (Perda) Sumenep tentang RTRW 2013-2033 di pasal 33, kawasan cagar alam geologi dan  merupakan kawasan lindung kars. Yang salah satunya terletak di kecamatan Batu Putih, sangat jelas tidak diizinkan untuk alih fungsi lahan serta mutlak tidak boleh dieksploitasi.

“Dan ini bersebrangan dengan pasal 40  yang menjadi lokasi pertembangan Fosfat di kecamatan Batu Putih juga. Sementara lokasi tersebut termasuk kawasan lindung kasrt. Maka dari itu kami mengusulkan harus ada pengurangan,” ungkapnya.

Menjadi Bahan Diskusi Provinsi dan Nasional

Disisi lain, Kepala Bappeda Sumenep, Yayak Nurwarhyudi menuturkan, masukan dari mahasiswa tekait temuannya sangat luar biasa. Misalnya pada kawasan kars yang ada di batu putih ini menjadi bahan diskusi dengan provinsi dan nasional.

“Jadi masih terbuka draf RTRW kita diskusikan dan ini menjadi salah satu bahan yang akan kita bawa di tingkat provinsi. Apalagi dipertengahan tahun ini di DPR kita diskusikan lebih intensif lagi,” ulasnya.

Pembahasan terkait Review RTRW dengan pihak provinsi, lanjut dia, masih belum diketahui. Dirinya menargetkan di triwulan harus selesai di tinggkat provinsi.

“Saya belum tahu, saya kemaren baru di undang 3 kali Webinar. Makanya target saya triwulan ini, harus selesaikan ditingkat provinsi. Karena kita harus melakukan diskusi yang lebih intens lagi terkait tata ruang itu,” tutupnya. (nam/aka)

BERITA KHUSUS

Tujuh Poktan Situbondo Bakal Dapat Bantuan Alat Jemur Tembakau

NUSADAILY.COM - SITUBONDO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo menggelontorkan anggaran dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) tahun 2022 sekitar Rp180 juta. Duit jumbo...

BERITA TERBARU

Eks Bek MU Sarankan Harry Maguire Kunjungi Psikolog

NUSADAILY.COM - LONDON - Harry Maguire disarankan mengunjungi psikolog. Bek asal Inggris itu dinilai butuh bantuan untuk bisa bermain lebih baik. Maguire baru saja dikecam...