Sabtu, Mei 28, 2022
BerandaNewsRegionalKisah Menyentuh Hati, Seorang Ibu di Tulungagung Rela Dikarantina dengan Anaknya yang...

Kisah Menyentuh Hati, Seorang Ibu di Tulungagung Rela Dikarantina dengan Anaknya yang Positif COVID-19

NUSADAILY.COM–TULUNGAGUNG- Seorang ibu di Tulungagung rela dikarantina dengan anaknya yang positif COVID-19. Sang ibu ini negatif COVID-19, anaknya berusia 7 tahun harus dikarantina setelah terkonfirmasi corona.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) COVID-19 Tulungagung, Kasil Rohmat memberi penjelasan kepada nusadaily.com. Selama berada di dalam karantina, bocah tersebut tetap mengikuti prosedur karantina. Namun pihaknya belum ada layanan psikologi untuk bocah tersebut.

“Kalau pendampingan sosial belum ada, kita memaksimalkan saudaranya yang dikarantina bersama itu, kan dia tidak sendiri,” akunya.

Pihaknya berharap, saudara maupun orang tua bocah yang ikut dikarantina bisa menjadi faktor mendorong kesembuhan yang bersangkutan agar bisa segera pulang.

Sementara itu, SR, ibu kandung bocah tersebut yang ditemui media ini, mengaku khawatir tertular juga. Namun dia lebih mengkhawatirkan kondisi anaknya yang harus menjalani karantina sendirian.

“Khawatir ya ada juga, tapi bagaimana lagi daripada saya dirumah, saya kan juga khawatir anak saya ini bagaimana,” ungkapnya.

SR mengisahkan, anaknya tertular dari salah satu kakaknya yang terkonfirmasi terlebih dahulu karena bekerja di pabrik rokok. Namun yang bersangkutan kini sudah bisa pulang dan menjalani isolasi mandiri karena 2 kali swab dinyatakan negatif.

“Kakaknya dia itu kan kerja di pabrik rokok. Awalnya yang kena dia dulu terus dikarantina di sini. Tapi sekarang sudah sembuh dan boleh pulang,” jelasnya.

Kini untuk mengisi kejenuhan, dirinya membiarkan anak keempatnya tersebut untuk leluasa bermain. Bahkan berkali kali videocall dengan kakaknya yang menjalani isolasi mandiri.

“Dia ini hobinya menggambar mewarnai. Karena di sini ndak ada alat itu ya akhirnya paling paling videocall an sama kakaknya. Terus mainan sepeda itu,” imbuh SR kepada induk imperiumdaily.com ini.

Dirinya mengaku secara psikologis kondisi anaknya cukup baik. Bahkan saat dinyatakan terkonfirmasi positif corona, bocah tersebut tidak takut. Dan memahami harus menjalani masa karantina usai dinyatakan terkonfirmasi Corona.

“Sejak awal diswab itu tau kok kalau diswab itu artinya kena corona. Dia sudah tahu dan selama dikarantina juga tahu, kenapa kok di karantina,” ungkapnya.

Ada Dua Bocah Dikarantina

Sementara itu, Koordinator Tim Layanan Dukungan Psikososial Tagana Tulungagung, Imam Syafii mengatakan, tidak hanya 1 bocah berusia 7 tahun saja yang menjalani karantina di Rusun Mahasiswa IAIN Tulungagung. Sebab saat ini ada dua bocah perempuan berusia 7 tahun dan balita 2 tahun yang menjalani karantina.

“Ada dua bocah sekarang, satu datangnya lebih dulu, satunya lagi sehari kemudian, satunya lagi masih 2 tahun,” ujarnya.

Tak ada tangis sedih maupun haru dari kedua bocah 7 tahun terebut. Satu bocah datang lebih awal bersama dengan ibunya yang non reaktif dan non terkonfirmasi. Namun ibu di Tulungagung ini rela dikarantina dengan anaknya. Sedangkan satu bocah lainnya dikarantina bersama kedua orang tuanya yang sama sama terkonfirmasi.

“Satu bocah itu dikarantina sama bapak dan ibunya yang sama-sama terkonfirmasi. Terus satu lagi itu ditungguin ibunya, ibunya sudah diberi penjelasan risikonya tapi tetap ingin dikarantina bareng” jelasnya.

Imam menjelaskan, guna meminimalkan potensi kejenuhan yang dialami oleh keduanya. Pihaknya secara personal melakukan pendekatan dengan mengenal karakter bocah tersebut dan mengajaknya berinteraksi.

Mulai dari keseharian dan aktivitasnya, bahkan dirinya mengusulkan kepada keluarga bocah agar mengirimkan sepeda kesayangan bocah tersebut ke lokasi karantina. Sehingga bisa menghilangkan kebosanan yang mungkin saja dialaminya saat menjalani karantina.

“Ya saya tanya hobinya apa, bilangnya suka pasaran terus suka sepedahan. Akhirnya saya usulkan kepada keluarganya untuk mengirimkan sepedanya itu. Dan sekarang sudah dikirim ke sini,” pungkasnya.(fim/cak)

BERITA KHUSUS

Logo dan Maskot MTQ XXX Jatim 2023 Segera Rilis, Gus Ipul Apresiasi Karya Para Desainer

NUSADAILY.COM – PASURUAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan bakal segera memperkenalkan logo dan maskot ajang Musabaqah Tilawatil Qur'an ke XXX Jawa Timur tahun 2023...

BERITA TERBARU

Viral Siswi SMP di Ngawi Minggat, Tinggalkan Sepucuk Surat

NUSADAILY.COM – NGAWI – Seorang siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) bernama Mallika Syifa Addhuha minggat dari rumah pada Jumat, 27 Mei 2022, sekitar subuh....
@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily

NUSADAILY.COM–TULUNGAGUNG- Seorang ibu di Tulungagung rela dikarantina dengan anaknya yang positif COVID-19. Sang ibu ini negatif COVID-19, anaknya berusia 7 tahun harus dikarantina setelah terkonfirmasi corona.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) COVID-19 Tulungagung, Kasil Rohmat memberi penjelasan kepada nusadaily.com. Selama berada di dalam karantina, bocah tersebut tetap mengikuti prosedur karantina. Namun pihaknya belum ada layanan psikologi untuk bocah tersebut.

“Kalau pendampingan sosial belum ada, kita memaksimalkan saudaranya yang dikarantina bersama itu, kan dia tidak sendiri,” akunya.

Pihaknya berharap, saudara maupun orang tua bocah yang ikut dikarantina bisa menjadi faktor mendorong kesembuhan yang bersangkutan agar bisa segera pulang.

Sementara itu, SR, ibu kandung bocah tersebut yang ditemui media ini, mengaku khawatir tertular juga. Namun dia lebih mengkhawatirkan kondisi anaknya yang harus menjalani karantina sendirian.

“Khawatir ya ada juga, tapi bagaimana lagi daripada saya dirumah, saya kan juga khawatir anak saya ini bagaimana,” ungkapnya.

SR mengisahkan, anaknya tertular dari salah satu kakaknya yang terkonfirmasi terlebih dahulu karena bekerja di pabrik rokok. Namun yang bersangkutan kini sudah bisa pulang dan menjalani isolasi mandiri karena 2 kali swab dinyatakan negatif.

“Kakaknya dia itu kan kerja di pabrik rokok. Awalnya yang kena dia dulu terus dikarantina di sini. Tapi sekarang sudah sembuh dan boleh pulang,” jelasnya.

Kini untuk mengisi kejenuhan, dirinya membiarkan anak keempatnya tersebut untuk leluasa bermain. Bahkan berkali kali videocall dengan kakaknya yang menjalani isolasi mandiri.

“Dia ini hobinya menggambar mewarnai. Karena di sini ndak ada alat itu ya akhirnya paling paling videocall an sama kakaknya. Terus mainan sepeda itu,” imbuh SR kepada induk imperiumdaily.com ini.

Dirinya mengaku secara psikologis kondisi anaknya cukup baik. Bahkan saat dinyatakan terkonfirmasi positif corona, bocah tersebut tidak takut. Dan memahami harus menjalani masa karantina usai dinyatakan terkonfirmasi Corona.

“Sejak awal diswab itu tau kok kalau diswab itu artinya kena corona. Dia sudah tahu dan selama dikarantina juga tahu, kenapa kok di karantina," ungkapnya.

Ada Dua Bocah Dikarantina

Sementara itu, Koordinator Tim Layanan Dukungan Psikososial Tagana Tulungagung, Imam Syafii mengatakan, tidak hanya 1 bocah berusia 7 tahun saja yang menjalani karantina di Rusun Mahasiswa IAIN Tulungagung. Sebab saat ini ada dua bocah perempuan berusia 7 tahun dan balita 2 tahun yang menjalani karantina.

“Ada dua bocah sekarang, satu datangnya lebih dulu, satunya lagi sehari kemudian, satunya lagi masih 2 tahun,” ujarnya.

Tak ada tangis sedih maupun haru dari kedua bocah 7 tahun terebut. Satu bocah datang lebih awal bersama dengan ibunya yang non reaktif dan non terkonfirmasi. Namun ibu di Tulungagung ini rela dikarantina dengan anaknya. Sedangkan satu bocah lainnya dikarantina bersama kedua orang tuanya yang sama sama terkonfirmasi.

“Satu bocah itu dikarantina sama bapak dan ibunya yang sama-sama terkonfirmasi. Terus satu lagi itu ditungguin ibunya, ibunya sudah diberi penjelasan risikonya tapi tetap ingin dikarantina bareng” jelasnya.

Imam menjelaskan, guna meminimalkan potensi kejenuhan yang dialami oleh keduanya. Pihaknya secara personal melakukan pendekatan dengan mengenal karakter bocah tersebut dan mengajaknya berinteraksi.

Mulai dari keseharian dan aktivitasnya, bahkan dirinya mengusulkan kepada keluarga bocah agar mengirimkan sepeda kesayangan bocah tersebut ke lokasi karantina. Sehingga bisa menghilangkan kebosanan yang mungkin saja dialaminya saat menjalani karantina.

“Ya saya tanya hobinya apa, bilangnya suka pasaran terus suka sepedahan. Akhirnya saya usulkan kepada keluarganya untuk mengirimkan sepedanya itu. Dan sekarang sudah dikirim ke sini,” pungkasnya.(fim/cak)