Kamis, Desember 9, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaNewsMetropolitanHNW: Kemenag Tidak Untuk Diklaim, Juga Bukan Dibubarkan

HNW: Kemenag Tidak Untuk Diklaim, Juga Bukan Dibubarkan

NUSADAILY.COM – JAKARTA -Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Dr. H. M Hidayat Nur Wahid, MA prihatin terhadap  munculnya wacana pembubaran Kementerian Agama. Wacana pembubaran Kementerian Agama, itu disinyalir muncul karena  pernyataan  internal  Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, namun malah menyebar. 

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Dia mengingatkan, Pejabat dan Umat termasuk kalangan Santri, mengkaji kembali sejarah serta latar belakang lahirnya Departemen Agama. 
Hal ini disampaikan dia dalam keterangan tertulisnya Rabu (27/10/2021) untuk mengkritisi pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sekaligus mengklarifikasi  polemik yang berkembang, terkait pernyataannya yang kontroversial bahwa keberadaan Kemenag adalah hadiah khusus untuk Nahdlatul Ulama (NU) 

HNW sapaan akrab Hidayat Nur WahidItu menambahkan, pernyataan Menag tersebut,  sekalipun  dilakukan dalam forum internal (tapi dipublikasikan) tidak sejalan dengan spirit inklusifitas dan moderasi Islam yang selalu disuarakan oleh Menag.

Apalagi, kata HNW dengan pernyataan bahwa dia bukan Menteri Agama Islam, tapi Menteri untuk semua Agama. 
“Kementerian Agama (Kemenag) lahir berkat perjuangan tokoh-tokoh Bangsa dari beragam latar belakang. Berdirinya Kementerian Agama, membawa tugas  untuk mengurusi Agama secara spesifik. dan  menjadi milik bangsa Indonesia secara umum, serta  merupakan konsekuensi logis dari kesepakatan para Pendiri Bangsa  bahwa finalnya Pancasila adalah dengan menerima kompromi sila pertama Pancasila menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa,” jelas HNW. 

Masih kata HNW, terkait klarifikasi dari pernyataan tersebut, ia menilai tidak  memadai untuk mengkoreksi  potensi terjadinya eksklusifitas yang bisa mengarah kepada laku yang tidak moderat.Menurutnya hal itu akan berpotensi memecah belah ormas-ormas Islam di Indonesia yang para tokoh tokoh yang terlibat dalam persidangan BPUPK dan PPKI terkait Piagam Jakarta. 

“Sekjend PBNU (KH Helmi Faishal Zaini) dan Ketua MUI berlatar belakang NU, yakni KH Chalil Nafis PhD secara terbuka,  mengoreksi statement bahwa Kemenag sebagai hadiah khusus untuk NU. Reaksi kritis juga disampaikan oleh tokoh-tokoh dari Ormas-Ormas Islam lainnya, juga dari kampus dan Partai-Partai. Seperti PPP, Gerindra dan PKS,”ujarnya

Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ini  mengingatkan peran dan jasa tokoh-tokoh NU memang sangat besar dalam pembentukan Indonesia Merdeka. 

Namun, ia menegaskan  tokoh NU yang aktif dalam rapat di BPUPK, Panitia Sembilan, maupun PPKI yang menyepakati rumusan final Pancasila (18/8/1945) adalah KH Wahid Hasyim putra Hadhratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari, bukan KH Wahab Hasbullah sebagaimana disebutkan oleh Menag Yaqut. 

“Saya seringkali menyampaikan ini dalam kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI, bahwa peran ulama dari NU sangat diakui; termasuk KH Wahid Hasyim, dan KH Hasyim Asyari serta KH Wahab Hasbullah, beserta tokoh Islam dari Ormas lainnya seperti, KH Kahar Mudzakkir, Ki Bagus Hadikusumo atau Kasman Singodimedjo (Muhammadiyah), H Agus Salim, H Abikusno Cokrosuyoso, M Natsir (Partai Masyumi) dan Tokoh Nasional/Bapak-Bapak Bangsa lainnya. Mereka sekalipun berlatar belakang Ormas Islam dan Parpol Islam berbeda, bisa bahu membahu memperjuangkan diadakannya Departemen Agama. Itu juga pelaksanaan terhadap penerimaan Umat bahwa sila pertama dari Pancasila yang merupakan dasar Negara yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa,” jelasnya. 

HNW menambahkan para tokoh nasional itu sudah berhasil, dan mestinya para Santri dicerahkan dengan sejarah ini. 

Sementara, lanjut HNW, para Pejabat termasuk Menag, menjadi teladan untuk melaksanakannya, baik dalam ungkapan maupun dalam kebijakan. Agar kehadiran Kementerian Agama betul-betul bisa merealisasikan tujuan kehadirannya. 

“Sehingga membawa manfaat yang luas dan mendasar untuk semua Agama dan Umat beragama, agar berkontribusi maksimal realisasikan cita-cita Proklamasi dan Reformasi. Agar tidak malah menjadi sumber kegaduhan dengan klaim dan polemik yang tidak diperlukan oleh Santri, Umat Beragama maupun NKRI, apalagi yang kini terdampak akibat pandemi covid-19,” pungkasnya.(sir/wan)

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Peningkatan aktivitas gunung Semeru ##tiktokberita

♬ suara asli - Nusa Daily