Kisah Disabilitas Rungu yang Mengais Rezeki di Pasar Takjil Banyuwangi

  • Whatsapp
tricilia banyuwangi
Tricilia (22) dissabilitas rungu yang berjualan aneka menu berbuka puasa di Pasar Takjil Banyuwangi. (istimewa)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – BANYUWANGI – Tricilia (22) nampak sibuk menata berbagai menu takjil di lapak kecilnya. Sesekali ia melayani pengunjung yang hendak membeli takjil untuk berbuka puasa. 

Tak seperti pedagang lainnya, Tricilia berbicara dengan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan konsumennya. Ditemani seorang penerjemah, ia pun dengan lugas menyebutkan berapa harga menu takjil dagangannya tersebut.

Baca Juga

BACA JUGA: Kisah Rangga Bocah SD Penjual Donat Keliling, Kini Dagangannya Jadi Langganan Grahadi

Dara kelahiran Tahun 1999 ini memang dilahirkan dengan kondisi tak sempurna. Indra pendengarannya sudah tak berfungsi sejak ia kecil. Walhasil, perempuan muda ini tak bisa mendengar dan berbicara normal selayaknya manusia pada umumnya.

Meski hidup dalam kondisi tak sempurna, tak lantas menyurutkan semangatnya. Ia gigih untuk belajar hidup mandiri. Bahkan sejak awal Ramadan, ia berjualan di Pasar Takjil Jalan Brigjen Katamso, Kota Banyuwangi.

Bermacam-macam menu buka puasa tersedia di lapak kecilnya. Mulai dari kolak pisang, kerupuk, pelasan, kue donat, urap-urap, kue pethula dan takjil lainnya. Harganya pun terjangkau, mulai dari Rp 3.000 hingga Rp 10.000.

“Alhamdulillah, kami diberi kesempatan untuk belajar berwirausaha,” kata Tricilia melalui sang penerjemah, Alfian.

Tricila mengaku tidak malu berjualan takjil, meski dirinya tak bisa mendengar dan berbicara. Justru Ramadan ini membawa berkah bagi dirinya yang seorang disabilitas, untuk melatih kemandirian.

“Sama sekali tidak malu. Orang berjualan mencari rezeki halal kenapa harus malu,” ungkapnya.

Dalam sehari, Tricilia bisa meraup omzet rata-rata Rp300.000. Hasil keuntungannya ia gunakan untuk kebutuhan hidup keluarganya serta mengembangkan usaha kecilnya. “Hasilnya bisa diputar kembali,” tuturnya dengan bahasa isyarat.

Alfian sang penerjemah dari Komunitas Aura Lentera Banyuwangi mengatakan, dalam momen ramadan ini ada empat orang disabilitas yang berjualan di Pasar Takjil Jalan Brigjen Katamso. 

“Selain Tricilia ada tiga disabilitas lainnya yang berjualan. Dua disabilitas rungu, satu disabilitas daksa,” ungkapnya.

Untuk mempermudah konsumen, pihaknya juga menyediakan QR Code untuk transaksi jual beli. Hal ini juga sebagai upaya untuk mencegah penularan Covid-19. 

“Di stand kami tersedia handsanitizer. Juga kita sediakan layanan transaksi melalui QR Code. Semoga melalui momentum ramadan ini, pandemi bisa segera berlalu,” harapnya. 

BACA JUGA: Kisah Nurul Machrus: Temui Sosok Gaib dan Empat Ekor Harimau saat Tersesat di Hutan Banyuwangi

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memang memperbolehkan adanya Pasar Takjil Ramadan di tengah Pandemi Covid-19. Hal ini dilakukan semata-mata untuk memulihkan kembali perekonomian akibat terjangan virus corona.

“Ini ikhtiar kita untuk memulihkan perekonimian di tengah pandemi. Tetap dengan catatan harus melaksanakan protokol kesehatan ketat untuk mencegah penularan Covid-19,” kata Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani. (ozi/lna)