“Dewi Kesejukan Air dan Penyembuh Sakit” Shitala pada Jaladwara Patirthan Geneng

  • Whatsapp
Dewi Shitala
Relief Dewi Shitala mengendarai keledai di Patirthan Geneng Desa Brumbung Kemamatan Kepung Kabupaten Kediri. Foto: M. Dwi Cahyono/nusadaily.com
banner 468x60

Oleh : M. Dwi Cahyono*

Tombo Pagebluk Teko

Tatkala pagebluk (pandemi) COVID-19 masih belum berakhir, bahkan pada sebulan terakhir Jawa Timur tampil menjadi episenter, pada awal Juli 2020 viral berita penemuan tinggalan arkeologi di lingkungan Geneng Desa Brumbung Kebupaten Kediri. Setelah dua periode ekskavasi (penggalian arkeologis) yang dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur pada pertengahan himgga akhir Juli 2020, diidentifikasikan bahwa temuan itu adalah kolam air suci (patirthan) yang dilengkapi dengan sembilan buah pancuran air (jaladwara). Sebuah diantaranya memiliki detail pahatan berupa Dewi berwahana keledai, yang dapat diidentifikasi sebagai Dewi Shitala, yakni “dewi kesejukan air” dan sekaligus “dewi penyembuh penyakit” yang tengah mewabah pada anak-anak, yakni penyakit demam yang ditebarkan oleh asura bernama Jwarasura. Temuan relief “dewi penyembuh penyakit” Shitala, yang, sejauh telah didapati baru satu-satunya yang pernah diketemukan di Indonesia ini, seakan-akan memberi sinyal tentang “bakal hadirnya penyirna pagebluk”. Benarkah demikian? Semogalah.

Dewi Shitala
Arkeolog M. Dwi Cahyono dalam eskavasi Situs Patirthan Geneng, Sabtu (25/7/2020).

A. Dewi Shitala dalam Kaitan dengan Air
1. Mitologi Dewi Shita dalam Agama Hindu-Siwa

Beberapa waktu yang lalu saya pernah membahas perihal “Dewi Shitala (varian tulisannya “Sheetala dan Sitala”) pada sebuah artikel berjudul “Malang Kuceswara, Pemujaan kepada Dewata Peniada Sakit Era Jawa Kuna”, yakni dalam edisi “Sejarah Kesehatan”. $ecara harafiah kata Sanskreta “shitala” mengandung arti : kesejukan. Ada indikasi, konteks kesejukannya berkenaan dengan unsur alamiah air, yakni kesejukan air. Shitala merupakan dewi rakyat, yang memiliki areal pemujaan yang luas di India Raya (regional Asia Selatan bahkan utara), baik di India Utara, Benggala Barat, Nepal, Bangladesh, bahkan hingga Pakistan. Shitala diyakini sebagai inkarnasi Dewi Durga, yang dikonsepsikan sebagai Dewi Penyembuh ragam penyakit, seperti cacar, luka, huntu, pustula, maupun penyakit-penyakit lain.

Baca Juga

Mitologi Hindu mengkisahkan bahwa Dewi Durga menjelmakan menjadi “Katyayani” untuk hancurkan semua kekuatan jahat yang dikirim oleh Kaalkeya. Di antara kekuatan jahat itu adalah iblis (asura) yang bernama “Jwarasura”, yang menyebarkan penyakit yang tidak tersembuhkan, seperti penyalit kolera, disentri, campak dan cacar. Dewi Katyayani berhasil menyembuhkannya, bahkan sang Dewi sanggup untuk membebaskan dunia dari semua penyakit. Katyayani mengambil wujud sebagai Dewi Shitala untuk menghadapi Jwarasura yang menyebarkan demam (istilah Sanskerta “jvara” mengandung arti : demam) yang tidak tersembuhkan. Lantaran petaka penyakit yang disebarkannya tersebut, maka para ibu menangis dan meratap. Sementara para dokter tidak berhasil menemukan obat penyembuhnya.

Dewi Shitala

2. Ikonografi Dewi Shitala

Dewa Siwa Mahadewa dan Dewi Parwati kemudian memutuskan untuk mengambil tindakan tegas guna mengentikan sepak terjang Jwarasura. Untuk itulah Siwa Mahadewa mengubah diri menjadi Bhairawa guna ​​mencegah Jwarasura sebarkan demam yang melukai anak-anak. Adapun Dewi Parvati mengubah diri-Nya menjadi Dewi Shitala. Secara ikografis, Dewi Shitala mempersonifikasi diri dengan wujud yang menyerupai seorang gadis. Acap disosokkan bertangan empat buah (catur bhyuja), yang masing-masing tangan membawa : (1) mangkuk (kapala), (2) sapu pendek, (3) menampi kipas, serta (4) kendi yang berisi air pendingin dan gelas minum. Berkat “air pendingin” dari dalam kendi atau gelas minum yang dibawanya itulah, maka penyakit yang diderita oleh anak-anak, utamanya penyakit demam, mampu disembuhkan oleh Dewi Shitala

Acap juga Dewi Shitala digambarkan bertangan dua dan mengendarai wahana yang berbentuk keledai. Apabila dipersonifikasi bertangan delapan (hasta bhyuja), masing- masing tangan-Nya membawa : (1) trisula , (2) sapu, (3) cakra, (4) stoples abrasia atau pot penuh berisikan air, (5) cabang daun mimba, (6) pedang (kadga), (7) cangkang kerang (sangka), dan (8) waramudra. Pada ikonografi ini, hubungan Dewi Shitala dengan air tergambarkan jelas, yakni membawa stoples abrasia atau pot yang berisikan air. Selain itu, wahana-Nya yang berupa keledai juga tampil, yaitu sang Dewi diapit oleh dua binatang yang berwujud sebagai keledai, yakni semacam kuda kecil berponi. Pada ikonografi Hindu, keledai menjadi wahana dari Dewi Navadurga Dewi Kali, dan Dewi Shitala. Binatang ini menjadi bnatang budidaya warga India Raya, yang meskipun kecil tubuhnya, namun kokoh kekuatannya.

Dewi Shitala
Ilustrasi ikonografi Dewi Shitala.

foto: google.com

Personifikasinya dengan sikap tangan (mudra) yang berupa “waramudra”, menggambaran dari-Nya sebagai : dewi pelindung, pemberi keberuntungan, kesehatan maupun kekuasaan. Shitala dimitoskan sebagai memberi bantuan kepada anak-anak. Air dingin yang dibawa-Nya amatlah berfaedah, yakni memberi kelegaan bagi semua anak yang tengah menderita wabah demam. Mereka berhasil untuk dipulihkan kesehatannya dan semua orang tua bersuka cita. Semua orang memberi penghormatan kepada Shitala. Begitu pula, semua anak berterima kasih terhadap-Nya, lantaran disembuhkan dari demam oleh Dewi Shitala. Sebutan “Shitala” yang berarti “kesejukan” berlawanan arti dengan sebutan “Jwarasura” yang berarti “demam”. Tergambarlah bahwa Shitala adalah lawan dari Jwarasura.

Dewi Shitala muncul di medan laga, padamana Siwa Bhairava ​​dan Jwarasura bertempur. Lantas Sheetala memarahi Jwarasura atas kesalahannya dalam menyebarkan penyakit demam terhadap anak-anak. Siwa Bhairava juga membuat Jwarasura menjadi tahu bahwa Sheetala tidak hanya dapat sembuhkan penyakit cacar, luka, huntu, pustula dan penyakit, namun Shitala sendiri merupakan dewi luka, huntu, dan penyakit. Shitala adalah penyebab penyakit, dan sekaligus merupakan obatnya. Pada akhirnya, Shitala menginfeksi Jwarasura dengan kasus cacar yang hebat, dan mengakhiri semua terornya. Setelah itu, Mahadewa membebaskan diri-Nya dari Bhairawa, adapun Parvati bebaskan diri-Nya dari Sheetala. Mereka berdua kemudian pulang ke Kailasha.

B. Dewi Shitala pada Bangunan Suci di Jawa
1 . Pemujaan terhadap Dewi Shitala di India

Dewi Shitala terutama populer di India bagian utara. Pada beberapa tradisi, Dewi Shitala diidentikkan dengan aspek Dewi Parvati, yakni pendamping Dwa Siwa. Dewi Shitala disebut sebagai “Ibu”, sebagai dewi musiman (Vasant, yaitu Musim Semi), yang oleh karenamya Shitala menyandang beberapa gelar kehormatan seperti : Thakurani, Jagrani (“Ratu Dunia”), Karunamayi (“Dia yang penuh belas kasih”), Mangala (‘Yang Menguntungkan), Bhagavati (“Sang Dewi ‘), atau Dayamayi (‘Dia yang Penuh Rahmat dan Kebaikan”). Sejumlah sebutan kepada-Nya itu menunjukkan bahwa Shitala memberikan berkah bagi manusia, khususnya bagi para pemuja-Nya.

Peran Dewi Shitala di India Selatan diambil oleh inkarnasi-Nya, yaitu Dewi Mariamman. Adapun di Gurgaon dan negara bagian Haryana, Dewi Shitala dinggap sebagai Kripi, yakni istri Guru Dronacharya. Penyembahan terhadap Shitala acap dilakukan oleh para Brahmana dan para pemuja lainnya, utamanya tatkala memasuki musim kemarau, musim dingin dan musim semi, tepatnya pada hari yang dinamai “Sheetala Asthami “. Shitala digambarkan sebagai seorang gadis muda yang dimahkotai dengan kipas menampi, mengendarai keledai, memegang (a) sapu pendek (digunakan untuk sebarkan ataupun untuk membersihkan kuman), (b) pot yang penuh virus atau air dingin sebagai alat penyembuhan. Di antara komunitas Hindu dengan kasta rendah, Dewi Shitala diwakili dengan batu lempengan atau kepala yang berukir.

Terkadang Shitala digambarkan membawa seikat daun neem (Azadirachta indica ), yakni ramuan obat yang digunakan di seluruh India sejak zaman kuno dan diyakini sebagai obat yang efektif untuk sebagian besar penyakit kulit. Shitala adalah bentuk dewi Katyayani, yang memberi kesejukan kepada pasien demam. Ketika Jvarasura tebarkan demam kepada semua anak, kala itu Dewi Katyayani datang dalam bentuk Shitala untuk bersihkan darah anak- anak serta menghancurkan bakteri demam dalam darah. Penyakit itu digambarkan sebagai Jvarasura, penyebar demam. Pada pantheon Buddhisme, iblis Jvarasura dan Dewi Shitala turut pula dihadirkan, sebagai “pengawal” bagi Paranasabari, yakni dewi penyakit menurut konsepsi Buddhis.

2. Pemujaan Dewi Shitala di Jawa Masa Lampau

Apabila di India Raya terdapat indikasi bahwa Dewi Shitala dipuja dipenjuru Asia Selatan, tak demikian di Nusantara lama. Sejauh ini belum atau tidak banyak didapatkan arca atau relief yang dapat diidentifikasikan sebagai Dewi Shitala, baik yang dikonsepsikan sebagai (a) Dewi yang membawa “kesejukan” lewat air yang dibawanya, (b) Dewi penyembuh sakit, utamanya sakit demam pada diri anak-anak, maupun (c) dewi pemberi anugerah (wara) yang berupa perlindungan, keberuntungan, kesehatan dan kekuasaan. Sebelum penemuan patirthan di lingkungan Geneng Desa Brumbung Kecamatan Kepung pada sub-area utara-timur Kabupaten Kediri, tidak pernah diperoleh kabar tentang adanya penemuan arca ataupun relief Dewi Shitala.

Dewi Shitala
Terdapat tiga buah jaladwara pada dinding sisi timur Patirthan Geneng. Posisi relief Dewi Shitala diapit dua jaladwara berbentuk makara.
Foto: M. Dwi Cahyono/nusadaily.com

Kehadiran Dewi Shitala tampak pertama kali pada Patirthan Geneng, yakni di salah satu pancuran air (jaladwara) pada bilik tengah sisi timur. Pancuran air ini dibuat dari bahan yang berupa batu andesit. Diantara total sembilan jaladwara pada Patirthan Geneng itu, hanyalah sebuah yang bergambarkan demikian itu. Delapan lainnya berbentuk makara. Dinding sisi timur adalah dinding patirthan yang utama, yang berhadapan dengan tangga turun ke-/ naik dari dalam kolam, yang berada di dinding sisi barat. Selain itu, yang menarik untuk lebih dicermati adalah bahwa jaladwara ini berada di bilik tengah, yang diapit oleh bilik kanan-kiri, dengan jaladwara keduanya berwujud sebagai makara. Yang tidak kalah menariknya, antara tangga di sisi barat dan bilik tengah di sisi timur terdapat adanya tatanan bata bercampur batu kerakal melintas dasar kolam dengan Arab barat-timur yang menjadi petunjuk kuat bahwa jaladwara yang utama atau yang memjadi “center” di Patirthan Geneng adalah yang berada di bilik tengah pada dinding timur, yang menampilkan figur Dewi Shitala.

Indikator sebagai Shitala antara lain : (a) berjenis kelamin perempuan (Dewi), yang diindikatori oleh sepasang payudara serta rambutnya yang panjang, (b) berwahanakan kuda kecil — sangat menyerupai keledai, yang dilengkapi dengan poni di dahinya, serta (c) adanya sirascakra pada sekitar posisi duduk-Nya di pelana pada punggung keledai (hare). Kedua tangan-Nya tengah memegang tali kekang keledai. Pada relief ini, jelas sekali wahana (वहन;) Dewi Shitala berupa hewan berhenti keledai, yang berfungsi sebagai binatang pengangkut (kata “vah” berarti : membawa atau mengangkut. Para Dewa hampir selalu memiliki hewan sebagai wahana, tak terkecuali Dewi Shitala, yang berwahanakan keledai.

Terdapat kesesuaian antara mitologi Dewi Shitala dengan keberadaan (baca “pemahatan”)-Nya pada salah pancuran air (jaladwara) di Patirthan Geneng, mengingat bahwa Dewi Shitala merupakan “Dewi Kesejukan”. Demikan pula laksana (atribut khusus-Nya)-Nya yang berupa kendi atau gelas berisi air pendingin dan gelas minum — terkadang stoples abrasia atau pot yang penuh berisikan air — juga sesuai dengan realitas pemahatannya di kolam air suci (patirthan), tepatnya pada suatu pancuran air. Seperti kendi, gelas, stoples ataupun pot yang dibawa Dewi Shitala, daripada air mengucur keluar. Berkat kasiat air sejuk, yang dianugerahkan (winara) oleh Dewi Shitala, maka anak-anak yang tengah menderita demam akibat virus yang ditebar oleh iblis Jwarasura berhasil disembuhkannya.

C. Unikum dan Urgensi Patirthan Geneng

Kendati bukan merupakan patirthan yang berukuran besar, namun kolam suci berbahan bata dalam bentuk bujur sangkar ini cukup. Season untuk dinyatakan sebagai patirthan yang (a) unikum dan (b) penting. Uniknya adalah satu-satunya patirthan — sejauh telah ditemui — yang jaladwaranya berpahatkan figur Dewi Shitala. Pada patirthan di Geneng inu, jaladwara di bilik tengah dinding kolam sisi timur adalah sebuah diantara sembilan buah jaladwara yang utama”, dengan fungsi yang sangat mungkin khusus pula, yaitu air yang keluar dari jaladwara ini amat boleh jadi konon berfungsi religio-magis, yakni untuk “penyembuhan pentakit”, khususnya demam pada anak-anak — sesuai dengan mitologi Dewi Shitala sebagai penyembuh demam.

Dinding sisi timur Patirthan Geneng
Patirthan Geneng dipotret dari sisi atas, terlihat jelas posisi jaladwara pada dinding patirtan.
Foto: M. Dwi Cahyono/nusadaily.com

Dewi Shitala adalah penyebab penyakit, sekaligus penyembuh penyakit. Sebutan lain kepada dirinya adalah “Dewi Bhagawati”, yang di dalam susastra Calon Arang dikisahkn sebagai dewata yang dipuja oleh rangda (janda) Girah (ssebutan “Girah’ mirip sekali dengan “Gurah”, yakni Calon Arang, untuk mendapat bantuan guna melancarkan “teluh”-nya yang berwujud wabah demam tinggi dan sangat mematikan. Tergambar bahwa di sub-area Kediri timur dan utara konon terdapat Durgapuja (visa just diistilahi dengan “Bagawatipuja atau Shitalapuja”). Relief Sudhamala di Candi Tigawangi adalah salah satu pembukti) pemukaan terhadap Durga. Begins pula, relief di jaladwara patirthan Geneng menjadi pembukti adanya Shitalapuja.

Patirthan yang kini telah memperlihatkan sosok arsitekturalnya setelah dua periode ekskavasi di bulan Juli 2020 ini, sangat mungkin juga menjadi tempat bersuci (diksa air) dan tempat pengambilan tirtha (air suci) untuk ritus yang dilakukan bangunan suci (candi), yang reruntuhannya didapatkan pada “tanah geneng” berada pada sekitar 100-an meter di Selatan atas dari lokasi Patithan Geneng. Bahwa di areal tanah yang kini berupa sebidang tanah tegal ini sangat mungkin terdapat bangunan candi di bawah permukaannya tanah adalah pernah didapati (a) sepasang arca Dwarapala, (b) kepala jala, (c) yoni, dan (d) bata-bata kuno. Jika kelak dilakukan ekskavasi di areal yang diduga terdapat reruntuhan candi ini, apakah bakal dijumpai arca Dewi Shitala? Semoga saja demikian.

Dinding sisi timur Patirthan Geneng
Jaladwara berbentuk makara di Patirthan Geneng, total ada 8 jaladwara berbentuk makara, namun baru ditemukan empat buah. Serta satu buah jaladwara berbentul relief Dewi Shitala. Sehingga total seharusnya ada sembilan jaladwara.
Foto: M. Dwi Cahyono/nusadaily.com

Boleh jadi, keberadaan candi dan patirthan ini penjadi “pertimbangan” untuk menetapkan desa (thani) Geneng sebagai bidang tanah di desa Geneng sebagai perdikan (sima, atau swatantra). Hasil alam dari tanah sima itu digunakan untuk penyelenggaraan upacara keagamaan Hindu-Siwa di candi ini. Perihal pemetaan tanah di thani Geneng sebagai sima tersebut bisa jadi diberitakan dalam prasasti Geneng I bertarikh 31 Juli 1128 Masehi, yang disurat atas perintah dari sri maharaja Kadiri, yaitu Bhaneswara. Status “sima” yang disandang oleh thani di Geneng ini boleh jadi dikukuhkan ulang dan mendapat tambahan hak istimewa pada masa keemasan kerajaan Majapahit era pemerintahan Tribhuwanatunggadewi, yang pemberitaan tentang itu bisa jadi termuat di di dalam bagian sambhanda dari prasasti Geneng II (1329 Masehi) tulisannya sayang telah aus.

Demikianlah, Desa (Wanua) Geneng yang topinimi darinya telah disebutkan oleh prasasti Paradah II (943 Masehi) sebagai salah satu desa tetangga (wanua tpi siring) dari Desa Paradah. Ketika wanua Paradah ditetapkan oleh raja Pu Sindok (Sri Isana) sebagai suatu Desa Sima pada tahun 943 Masehi, pewakilan dari desa yang berada di berbatasan (parwatasan) sisi utara Desa Paradah diundang hadir dalam upacara manusuk sima sebagai saksi. Boleh jadi ketika ini Geneng masih belum sandang status “perdikan”. Anugerah (waranugraha) status istimewa “perdikan (sima, swatantra) Miranda baru diperoleh pada era pemerintahan raja Bhamesswara di kerajaan Kadiri (Pangjalu), dan dikukuhkan ulang pada masa keemasan Majapahit di era penerintahan ratu Trivhuwanatunggadewi.

D. Meretas Asa Wisata Saujana Dusun Geneng

Temuan Patirthan Geneng, yang mulanya terjadi tidak sengaja untuk pengambilan tanah urug dan kolam oleh warga setempat — sebagai fasilitas pendukung wisata “Kali Tempur” di Lingkungan (baca “Dusun”) Geneng, dan kemudian diekskavasi oleh BPCB berhasilkan mendapatkan patirthan lintas masa, yaitu dari Era Kerajaan Kadiri hingga Majapahit. Bagi Dusun Geneng yang mengidamkan kepemilikan “wisata desa”, temuan ini memberikan menu kultural yang berharga selain menu ecological yang berupa kali dan persawahan asri-alami. Apa yang kini ditemukan, yaitu patirthan itu barulah mememukan ” cendela”-nya, yang ke depan perlu pula diketemukan “pintu”-nya itu tinggalan yang berupa candi dan jejak permukiman kuno (abad X- XV Masehi) Desa (Thami) Purba Geneng seperti diberitakan oleh prasasti Paradah II, Geneng I maupun Geneng II.

Ke depan, Ada baiknya pula Dusun Geneng di Desa Brumbung menginisiasi “atraksi wisata tahunan” yang berupa “Bersih Dusun”, yang dilaksanakan di suatu momentum waktu, yaitu setiap tanggal 31 Juli, yang mendasarkan tarikh prasasti Geneng I (31 Juli 1128 Masehi), yakni tarikh “penetapan Thami Geneng sebagai Sima atau Swatantra oleh Sri Maharaja Bhameswara” di Masa Kerajaan Kadiri (Pangjalu). Demikianlah tulisan yang ringkas dan bersahaja ini dibuat sebagai narasi atas tinggalan historis-arkeolois-paleoekologis di satu tempat. Semogalah memberi kefaedahan.

Nuwun.

Sangkaling, 27 Juli 2020
Griyajar CITRALEKHA

*Arkeolog dan redaktur ahli nusadaily.com, induk dari imperiumdaily.com

Post Terkait

banner 468x60