DLH Kota Batu Klaim Sumber Pencemaran Kali Kebo dari Dua Lokasi

  • Whatsapp
Aliran Kali Kebo yang berada di Kampung Damai, Kelurahan Ngaglik terlihat hijau pekat. Warga setempat berkeyakinan jika Kali Kebo tercemar limbah kotoran ternak yang berada di Desa Pesanggrahan.
Aliran Kali Kebo yang berada di Kampung Damai, Kelurahan Ngaglik terlihat hijau pekat. Warga setempat berkeyakinan jika Kali Kebo tercemar limbah kotoran ternak yang berada di Desa Pesanggrahan.
banner 468x60

NUSADAILY.COM-KOTA BATU– Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu menyebutkan sumber pencemaran di Kali Kebo, Kampung Damai, Jalan Lesti, Kelurahan Ngaglik berasal dari dua tempat berbeda. 

Pertama berasal dari kotoran ternak sapi yang berada di Desa Pesanggrahan. Terbaru, Kepala DLH Kota Batu, Aris Setiawan mengungkapkan, sumber lainnya berasal dari Agrowisata Kusuma. Sebuah industri pengolahan minuman sari buah.

Baca Juga

“Tim Pengawas Lingkungan DLH Kota Batu melaporkan jika ada dua sumber pencemaran. Laporan itu hasil penelusuaran tim,” ungkap Aris dilansir Nusadaily.com.

Ia mengatakan, DLH telah berkordinasi dengan pihak manajemen Agrowisata Kusuma. Menurutnya, sumber pencemaran itu lantaran ada kebocoran pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Timnya pun telah memberikan pendampingan untuk proses pembenahan.

“Pihak Agro sudah melakukan pembenahan dan sudah ada progres,” terang Aris.

Selain itu, terkait pencemaran yang berasal dari limbah kotoran ternak, DLH Kota Batu akan berkoordinasi dengan dua pemangku wilayah Kelurahan Ngaglik dan Pemdes Pesanggrahan. Serta juga akan mengundang Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Lantaran dampak dari pencemaran di Kali Kebo mengakibatkan ikan yang dibudidayakan warga setempat banyak yang mati.

“Termasuk juga menguji baku mutu air sungai,” timpal dia.

Sebelumnya diberitakan, warga Kampung Damai, Kelurahan Ngaglik mengeluhkan bau tak sedap yang berasal dari aliran Kali Kebo. Bau tak sedap itu dikarenakan Kali Kebo tercemar limbah ternak sapi. Selain bau tak sedap, pencemaran itu mengakibatkan kerugian bagi pembudidaya ikan karena memanfaatkan aliran air dari Kali Kebo.

Salah satu warga, Arif Kurniawan mengatakan, jika tletong (kotoran sapi) itu dibuang begitu saja tanpa diolah sehingga mengalir hingga Kali Kebo. Pencemaran itu terjadi sejak 1 tahun lebih atau hampir 2 tahun. Bau menyengat paling kentara ketika pagi dan sore.

“Sudah mengadukan ke Kelurahan Ngaglik dari dulu. Ya nggak tahu apa ditindaklajuti ke Pemkot Batu apa belum. Soalnya hingga kini belum ada hasilnya,” kata Arif dilansir Nusadaily.com.

Aliran ini dimanfaatkan untuk irigasi persawahan di Kelurahan Sisir dan Kelurahan Temas. Serta dialirkan untuk kolam budidaya ikan di Kampung Lesti. “Kalau diurut terus, mengalirnya bisa sampai ke DAS Brantas. Coba bayangkan pencemarannya meluas gitu,” imbuh Arif.

Ikan yang siap panen di kolam milik Didik Hariyanto banyak yang mati. Ia mengamati, insang ikan berwarna kemerahan dan lebam. “Itu tandanya kurang oksigen dan keracunan. Kualitas airnya buruk karena pencemaran,” timpal pria berusia 50 tahun itu.

Ia membudidayakan ikan nila dan koi di kolam seluas 15×7 meter. Air yang dimanfaatkan berasal dari aliran Kali Kebo. Sebelum dialirkan ke kolam, air itu disalurkan terlebih dulu ke bak filtrasi. Namun, karena pencemaran air dirasa telah parah, membuat ikan-ikan yang dibudiyakannya banyak yang mati. 

“Selama seminggu banyak ikan yang mati. Sehari bisa 20-50 ekor ikan yang mati. Bahkan pernah hingga satu ember penuh,” kata dia.

Didik menghitung sudah 1 kuintal lebih ikan yang mati dampak dari tercemarnya air dari Kali Kebo. Per kilogramnya ikan itu dijual sekitar Rp 30 ribu. Kerugian yang dialaminya berkisar Rp 3 juta. “Tahun kemarin tidak seperti ini. Sekarang sudah parah pencemarannya. Ikan banyak yang mati,” sahut dia. (wok/wan)