Ki Asmoro Sampir, Setia Membuat Wayang Kulit di Tengah Gemerlapnya Modernisasi

  • Whatsapp
Ki Asmoro Sampir sedang membikin wayang.
banner 468x60

NUSADAILY.COM – BANYUWANGI – Wayang kulit merupakan warisan budaya bangsa Indonesia yang tersohor hingga penjuru manca negara. Bahkan, hubungan Indonesia sempat memanas dengan Malaysia lantaran saling mengklaim pemilik warisan budaya dunia tersebut. 

Sayangnya, lambat laun minat masyarakat mulai memudar terhadap seni tradisional asli jawa ini. Amat jarang sekali menemukan generasi muda yang menggeluti dunia pewayangan. Mereka lebih asyik menikmati hiruk pikuk kemegahan era modernisasi.

Seni pertunjukan wayang pun jarang terlihat. Kalaupun ada, itu karena tradisi adat istiadat yang mungkin hanya setahun sekali digelar. Penikmatnya pun bisa dihitung. Rata-rata mereka adalah generasi tua, yang amat faham atas nilai filosofi dari pewayangan.

Di tengah meredupnya seni tradisional wayang kulit, ada satu sosok yang tetap setia membuat maha karya dari kulit lembu tersebut. Dia adalah Ki Asmoro Sampir, seorang pensiunan dalang asal Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi.

Tunjukkan Rasa Cintanya Kepada Wayang

Di usianya yang menginjak 70 tahun, Ki Asmoro Sampir tetap menunjukkan rasa cintanya terhadap wayang kulit. Tergerusnya seni pewayangan oleh perubahan zaman, tak lantas menghalangi dirinya untuk tetap membuat sebuah karya. 

“Awal membuat wayang Tahun 1973 saat pertama kali saya jadi dalang,” kata Ki Guno sapaan akrab Ki Asmoro Sampir, saat ditemui Nusadaily.com.

Dengan menggunakan tangannya yang masih kukuh, Ki Guno menatah lembaran kulit sapi menjadi sebuah maha karya asli pulau Jawa. Mengandalkan cahaya sinar mentari, detail setiap bagian wayang kulit ia garap dengan penuh hati – hati.

Tangan kirinya memegang pahat kecil, dengan pelan memukulkan palu kayu ke pahat tersebut. Lubang demi lubang dia buat, mengikuti pola yang sudah digambar sebelumnya. Mengubah bentuk kulit menjadi sebuah wayang yang telah dipesan orang. Semua proses dia kerjakan sendiri, menggambar, menatah, mewarnai, hingga finishing. 

“Ini namanya Raden Werkudara. Dia adalah Bima, fase sesudah bertemu dengan Dewa Ruci,” katanya, sambil menunjukan wayang dengan karakter gagah memiliki rambut tergelung keatas.

Menurut Ki Guno, pesanan wayang kulit sudah tidak sebanyak dulu. Mungkin, karena banyak anak muda yang sudah tidak tertarik dengan kesenian tinggalan Sunan Kalijaga ini. “Ini memang kuno dan tradisional. Tapi ini merupakan sejarah dan jati diri masyarakat Jawa,” katanya.

Ki Guno mengaku ada sejumlah wayang kulit yang sudah menemaninya hingga usianya saat ini. Tidak satupun, diantara wayang tersebut yang akan dia jual, bahkan meski ditawar dengan harga yang cukup tinggi.

Sempat Ditawar dengan Harga Jutaan

“Wayang ini merupakan karya pertama. Sempat ditawar dengan harga jutaan, namun tidak saya lepaskan. Hampir 50 tahun wayang ini bersama saya,” katanya.

Semasa muda, ki Guno sering bepergian ke luar daerah, bahkan hingga luar Jawa untuk manggung. Namun, usianya yang rentan memaksanya untuk berhenti dari profesinya tersebut. Untuk menutupi kebutuhan hidupnya, bapak 4 anak laki-laki itu juga bekerja di pasar sebagai petugas kebersihan.

Di usianya yang sepuh ini, Ki Guno berharap ada generasi muda yang mau menekuni dan melestarikan seni pewayangan di Banyuwangi. Ke empat anak laki – lakinya memang menyukai pagelaran wayang kulit, namun tidak ada seorang pun dari mereka yang meneruskan profesinya sebagai dalang atau pembuat wayang. (ozi/aka)