Jumat, Mei 27, 2022
BerandaOpinionShort StoryKiai Kasan, Matador de Java

Kiai Kasan, Matador de Java

Cerpen: Akadillah

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Kiai Kasan duduk di teras masjid dikelilingi 40 santrinya. Pondok pesantren kecil di sebuah kampung kecil yang banyak ditumbuhi pohon rambutan dan kelapa itu menampung santri dari desa-desa sekitar. Kampung yang rimbun oleh pohon-pohon hijau di lereng Gunung Kelud, Blitar. Kampung itu selalu terkena getah dari gunung yang sering marah dan muntah-muntah. Uban yang menggerogoti rambut Kiai Kasan tak mengurangi semangat kakek 10 cucu yang semuanya laki-laki itu untuk menceritakan pengalaman hidupnya semasa muda. Dan setiap Kiai Kasan duduk di teras masjid beratap limasan tiga tingkat itu untuk bercerita, selalu menarik santri untuk datang mendengar hikayat yang penuh hikmah dan semangat hidup.

Batuk-batuk yang kerap mengiringi alur cerita bukan menjadi penghalang, malah justru mirip sebuah musik yang menjadi instrumen penguat cerita. Jika batuk kerap datang, maka suara Kiai Kasan makin seksi, serak-serak dan putus-putus, mirip suara Karni Ilyas dalam sebuah acara televisi. ”Kali ini mungkin cerita terakhir yang akan aku sampaikan di hadapan kalian uhuk…uhuk…uhuk…. Tolong kalau ada yang masih tidur bangunkan semua suruh ke masjid”.

Kiai Kasan serius memerintahkan para santrinya agar mengecek supaya tidak ada santri yang terlewat mendengarkan cerita terakhirnya itu. Kiai Kasan tidak ingin gara-gara ada santri yang tidak lengkap mendengarkan cerita, di kelak kemudian hari salah dalam menyampaikan ceritanya itu kepada orang lain. Dia tidak ingin dari satu cerita itu lahir cerita dengan banyak mazhab dan aliran yang bisa membikin alurnya menyesatkan.

”Khusus pada cerita ini aku ingin kalian tidak banyak menafsirkan. Sehingga ketika kalian menceritkan kepada orang-orang dan anak cucu, semuanya sama. Karena sanad nya sama sehingga cerita ini shohih, bukan maudlu”.

Para santri tidak seperti biasanya, mereka lebih tegang dan menyimpan banyak tanda tanya dalam batok kepala dan kedipan matanya. Gerangan apa cerita yang katanya terakhir itu. Apakah ini pertanda wasiat atau memang karena sudah tidak ada cerita lagi yang dimiliki sang kiai yang pernah sekolah di Timur Tengah itu.”Dan tolong siapkan rekaman agar tidak ada yang salah kutip”.

BERITA KHUSUS

BERITA TERBARU

Nicolo Zaniolo Bangkit Jadi Pahlawan AS Roma!

NUSADAILY.COM - TIRANA - Nicolo Zaniolo mendedikasikan gelar Conference League untuk pihak yang di sisinya saat situasi sulit. Ia bangkit menjadi pahlawan AS Roma...
@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily