Selasa, Oktober 26, 2021
BerandaOpinionMenghadirkan Inovasi di Masa Pandemi: Antara Tantangan dan Identitas

Menghadirkan Inovasi di Masa Pandemi: Antara Tantangan dan Identitas

- Advertisment -spot_img

Dr. Sumani, M.M, M.Hum

Pandemi Covid-19 yang telah melanda dunia sejak tahun 2019 lalu telah memberikan dampak multidemensional. Siapapun mereka, pasti merasakan dampak yang ditimbulkan dari adanya pandemi ini.

Respon yang diberikan oleh masing-masing orang terhadap kondisi yang tidak nyaman sebagai dampak dari pandemi ini, ternyata juga sangat beragam. Ada di antara mereka yang mengalami schock, menolak kondisi ini, abai, sedih, bingung, marah dan sebagainya.

Respon yang seperti ini, menurut Kubler-Ross, seorang psikolog, adalah respon yang wajar. Justru tidak wajar ketika ada orang yang merasa biasa-biasa saja, ketika ada musibah besar menimpanya. Orang yang seperti ini adalah aneh, tidak normal, atau bermasalah.

Di posisi apapun, ketika mnghadapi kesulitan, orang akan mengalami apa yang disebut oleh Kubler-Ross dengan Grief Circle atau fase kesedihan. Fase kesedihan ini dimulai dari fase schock atau menolak, abai (denial), marah (anger), menawar (bargain), depresi (depresion) sampai dengan fase menerima (aceptance). Fase-fase seperti ini tentu juga bisa terjadi pada siapapun ketika dia mengalami peristiwa yang menyedihkan seperti terjadinya Pandemi-Covid-19 ini. Sebagai contoh, ketika pandemi Covid-19 ini terjadi, ada seorang pengelola lembaga pendidikan swasta di suatu daerah menceritakan kondisinya ketika pandemi ini melanda daerahnya untuk pertama kali.

BACA JUGA: Melahirkan Inovasi Sebagai Warisan Kehidupan di Masa Pandemi

Ketika pandemi ini terjadi, dia benar-benar mengalami Grief Circle, fase-fase kesedihan dari Kubler Ross. Dia mengisahkan, ketika pandemi ini melanda daerahnya, sebagai pengelola lembaga pendidikan, dia benar-benar merasa terpukul, schock sehingga tidak tahu apa yang akan dilakukan dengan lembaga pendidikannya.

Saat itu yang terbayang olenya adalah sekolanya akan bubar, puluhan gurunya dengan terpaksa ada akan di PHK dan pikiran-pikiran pesimis yang lainnya. Hal ini sangat beralasan, karena ketika pandemi ini melanda, uang SPP sebagai sumber pendapatan utama sekolah, mengalami hambatan. Hanya 30% saja uang SPP yang msuk, sementara 70% sisanya tidak jelas.

Sementara itu, guru dan karyawan harus tetap mendapatkan hak-haknya. Kondisi ini benar-benar membuatnya sangat cemas, bingung sampai tidak tahu apa yang harus dilakukan. Selama beberapa hari, dia tidak melakukan apa-apa. Yang ada dibenaknya adalah setumpuk pikiran dan persoalan yang dia belum tahu bagaimana cara memberikan solusinya.

Kondisi seperti di atas tentu bisa dialami juga oleh siapapun dengan kondisi psikologis mereka masing-masing, ketika menghadapi pandemi ini. Adanya kondisi cemas, tidak bisa menerima keadaan, depresi dan lain-lainnya. Tidak hanya pengelola sekolah yang mengalami kondisi seperti ini, namun bisa juga para siswa dan juga orang tua siswa.

Jika dikaitkan dengan upaya menghadirkan inovasi di masa pandemi, tentu ada berbagai macam kondisi yang bisa terjadi. Sebagai salah satu kondisi yang rasional, jika seseorang masih dalam posisi masih schock, menolak keadaan, marah, sampai dia masih dalam kondisi depresi akibat adanya kondisi yang menyedihkan, bisa dipastikan bahwa dia tidak akan bisa melakukan inovasi. Sementara itu dalam kondisi seperti ini, kemampuan untuk bisa beradaptasi juga sangatlah diperlukan.

Adaptasi adalah kemampuan yang diberikan kepada setiap mahluk hidup agar dia tetap bisa bertahan hidup. Sementara itu, kemampuan beradaptasi dari setiap mahluk hidup juga berbeda-beda. Kemampuan adaptasi manusia jauh lebih besar dibandingkan dengan makluk yang lain. Ini karena manusia diberikan kelebihan yaitu akal. Namun demikian, kemampuan melakukan adaptasi terhadap adanya perubahan yang terjadi itu, juga berbeda-beda antara satu dengan lainnya.

BACA JUGA: Deviasi Makna Istilah ‘Radikal’ di Tengah Masyarakat (1)

Tidak semua orang bisa menerima adanya perubahan-perubahan yang tidak mereka inginkan. Faktanya masih ada saja orang-orang yang masih dalam posisi denial atau menolak ketika terjadi suatu perubahan. Orang yang seperti ini menganggap perubahan itu bukan sebagai sebuah tantangan melainkan sebuah tekanan. Sementara orang-orang yang sudah pada posisi aceptance atau sudah bisa menerima perubahan tersebut, dia akan menganggap bahwa perubahan itu sebagai sebuah tantangan.

Sudah banyak bukti bahwa mereka yang sudah mampu mencapai tarap acceptance ketika mengalami sebuah musibah, akhirnya justru medapatkan banyak berkah. Sebagaimana dikisahkan oleh seseorang motivator yang telah mampu melampaui fase-fase kesedihan ketika dia dihadapkan pada pandemi Covid-19 ini.

Dia mengisahkan, di saat pandemi ini belum terjadi, sebagai seorang nara sumber pelatihan, dia biasa dua pekan sekali, diundang ke luar kota untuk menjadi nara sumber. Ketika pandemi ini terjadi, dia termasuk orang yang sempat mengalami fase-fase kesedihan, mulai dari fase denial sampai akhirnya dia sampai pada fase acceptance.

Namun demikian, setelah fase-fase itu dia lalui dengan sabar ada sesuatu yang di luar dugaannya. Dulu ketikan belum ada pandemi, dia biasa mengisi acara dua kali dalam satu bulan, namun setelah melewati fase acceptance di masa pandemi ini, justru dia bisa menjadi nara sumber dua kali cuma dalam satu hari, di dua kota yang berbeda karena semua ini dilakukan secara daring atau online.

Dari sini, terdapat banyak pelajaran yang bisa diambil khususnya dalam menyikapi setiap perubahan yang terjadi di sekitar kita. Ketika terjadi kondisi yang tidak kita inginkan, dan ketika kita masih dalam posisi denial, maka yang perlu kita lakukan adalah mencari sebanyak-banyaknya informasi mengenai perubahan yang terjadi tersebut.

Demikian juga, di saat kita dihadapkan pada pandemi ini, yang perlu kita lakukan adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang pandemi ini, kemudian juga cari informasi lainnya yang terkait, termasuk dampak-dampak yang mengikutinya. Misalnya bagaimana kita menyikapi perubahan pendikan yang terjadi sebagai akibat dari pandemi ini. Jika kita bicara tentang pendidikan ini, sebenarnya sepuluh sampai lima belas tahun yang lalu, orang juga sudah mulai menyuarakan tentang perlunya diadakan perubahan di dalam pendidikan kita. Namun orang masih denial.

Dengan adanya pandemi ini, pendidikan juga ikut berubah. Sebagai contoh, banyak materi yang dulu tidak diajarkan, sekarang dengan terpaksa harus diajarkan. Kemudian terkait dengan fase anger atau marah, ketika pandemi ini terjadi, semua harus menjaga jarak, sehingga ketika menyaksikan ada orang yang tidak menjaga jarak, respon kita adalah marah kepada orang tersebut. Fase berikutnya yang perlu dimunculkan adalah adalah empati. Setelah fase marah berlalu, kita baru bisa berempati pada diri sendiri. Setelah itu, baru kita bisa memasuki fase bargaining atau menawar. Ketika pada posisi ini, kita sudah bisa menerima kondisi yang tengah kita alami sehingga tidak lagi marah-marah dan sudah bisa menahan diri. Setelah itu, kita memasuki fase depresi.

Ketika memasuki masa depresi ini, yang perlu dilakukan adalah kita berusaha melepas fantasi ideal kita dalam arti tidak menuntut segalanya harus tetap sama dengan ketika kondisi normal. Setelah itu, kita perlu untuk mulai belajar mencintai diri sendiri dengan apa adanya. Ketika kita sudah pada fase aceptance, barulah kita bisa melakukan inovasi.

*Penulis adalah dosen Universitas PGRI Madiun dan pengurus DPP Cebastra.

- Advertisement -spot_img
Nusa Magz Edisi 46

BERITA POPULAR

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Istri Selingkuh, Suami Bawa Alat Berat Hancurkan Rumah😱##tiktokberita

♬ kau curangi cintaku - Milan indramayu