Dongeng COVID-19

  • Whatsapp
hewan keledai
Ilustrasi empat keledai tua.
banner 468x60

Oleh: Dr. Surya Masniari Hutagalung, M.Pd.

Pada zaman dahulu kala berjalanlah seekor keledai dengan rasa putus asa, karena dia diusir tuannya dan mengejek dia sebagai keledai tua yang tak berguna. Dalam kepenatan pikiran keledai tersebut, dia berniat ingin menghabiskan masa tuanya dengan sisa kemampuan yang ada.

Dia ingin bermain musik di kota Bremen. Di perjalanan, dia bertemu dengan teman-teman senasib, yang sudah tua, tidak bisa dimanfaatkan lagi dan akan dibuang tuannya. Lalu keledai mengajak ketiga temannya tersebut. 

Keempat hewan tersebut sudah tua. Tua dan tidak mampu bekerja lagi seperti yang diharapkan tuannya. Keledai yang sudah tidak diperdulikan tuannya karena tenaganya tidak bisa dimanfaatkan lagi. Mereka lari sebelum dibuang tuannya.

Ketiga temannya itu antara lain: Anjing yang lebih sering dimaki-maki tuannya karena sudah tidak kuat berburu. Kucing yang sudah tidak bisa duduk dekat tuannya di perapian, karena sudah tidak manis lagi.

Ayam yang diniatkan tuannya akan dipotong saat menjamu tamunya, karena kukuruyuk tuanya sudah tidak nyaring lagi. Ternyata usia non produktif memaksa mereka nyaris mati.

Baca Juga: Sungai Kambaniru Sumba Timur Meluap, Rumah dan Hewan Ternak Warga Tersapu Banjir

Itu adalah dongeng di zamannya yang ditulis kembali oleh Brüder Grimm., yang berjudul asli “Die Bremer Stadtmusikanten“. Konon dongeng ini berasal dari zaman di mana orang-orang yang sudah tidak  lagi “berguna” dibuang ke hutan.

Sadisnya lagi, orang yang tidak berguna tersebut harus dibuang oleh anggota keluarga. Orangtua harus dibuang anaknya sendiri, jika tidak penguasa akan membuang secara paksa.

Baca Juga: Ayam Hutan Hijau, Hewan Endemik Kota Batu Diambang Kepunahan

Usia non produktif tidak bisa lagi menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Kurangnya rasa kemanusiaan dan tingginya tuntutan hidup serta kebutuhan akan makanan pada zaman dongeng, membuat orang terpaksa berpisah dengan orangtua yang dikasihi.

Menurut  hasil analisis  dongeng tersebut, penguasa  negeri dongeng memerintahkan semua keluarga untuk membuang orang-orang tua yang menjadi beban keluarga. Cerita inilah yang menjadi latar belakang terciptanya dongeng “Die Bremer Stadtmusikanten”.

Baca Juga: Brazil Harap Fasilitas Kedokteran Hewan Bantu Produksi Vaksin COVID-19

Latar belakang cerita inilah yang kemudian menjadi kecurigaan pada  persamaan instink strukturasi orang zaman dulu dengan instink strukturasi manusia teknologi zaman sekarang.

Kecurigaan dilihat dari beberapa berita yang berpikir negatif terhadap pandemi COVID-19. Tuduhan akan virus yang sengaja diciptakan untuk mengurangi jumlah penduduk, terlebih lagi yang sudah ada penyakit bawaan.

Baca Juga: LIPI Perkirakan Vaksin COVID-19 Diuji Coba ke Hewan pada Kuartal Ketiga 2021

Kecurigaan yang membabi buta yang mengatakan, virus COVID-19 diciptakan tangan manusia yang tidak punya hati. Tentu saja  hal ini tidak akan dibahas dalam tulisan ini.

Kita abaikan saja dulu masalah itu atau masalah persamaan instink strukturasi atau bahkan mungkin Freud dengan teori psikonalisisnya  tentang instink sebagai struktur interaktif, yang mungkin terkait sedikit dengan topik ini.

Baca Juga: Hewan Tarsius Leucistic Ditemukan Warga di Minahasa

Fokus cerita ini adalah bagaimana peristiwa Pandemi COVID-19 bisa ditransformasikan menjadi satu dongeng yang menarik sebagaimana halnya dongeng  “Die Bremer Stadtmusikanten”.

Jika Brüder Grimm masih hidup pada zaman ini, mungkin saja peristiwa ini bisa ditulis kembali menjadi satu dongeng yang menarik. Jika dongeng di atas menggambarkan empat hewan yang sudah tua dan tidak produktif lagi, maka dongeng COVID-19 berkisar pada terpaparnya orang-orang dengan tidak pandang bulu.

Baca Juga: Tim Kesehatan Hewan Kabupaten Bangka Temukan Dugaan Demam Babi Afrika

Tidak perduli orang yang tak mampu memberi manfaat lagi dalam kehidupan ini atau orang yang bahkan masih sangat bermanfaat bagi sekelilingnya.  Hanya mungkin penulis dongeng akan sedikit bingung dalam menyelesaikan penokohan dan penceritaan.

Dalam penulisan dongeng, penokohan dan penceritaan sangatlah penting. Menetapkan tokoh dan membuat alur penceritaan dalam dongeng seputar pandemi COVID-19 rasanya sangat sulit. Bayangkan banyaknya orang yang harus ditokohkan.

Orang yang terpapar COVID-19 dari berbagai kalangan. Orang-orang yang berkepentingan ada dari berbagai profesi, berbagai instansi, berbagai sarana dan prasarana, berbagai kepentingan yang terlibat juga sangat banyak.

Banyaknya orang yang cari keuntungan di atas penderitaan orang lain. Banyaknya orang yang menipu hanya untuk menaikkan reputasi. Banyaknya prosedur yang tidak masuk akal hanya untuk menghindari penderita COVID-19.

Banyaknya orang-orang yang ketakutan dan trauma karena kehilangan orang terkasih. Banyaknya ahli pengobatan dan racik dadakan. Banyaknya tanggapan negatif dan positif terhadap pemerintah. Banyaknya perubahan dalam berbagai sektor yang secara tidak sadar sebenarnya banyak menuju peningkatan dan kemajuan.

Bagaimanapun akhir penokohan dan penceritaan itu, kiranya dongeng yang akan ditulis berakhir dengan penyelesaian yang membahagiakan. Sebagaimana akhir dari dongeng.

Keempat hewan tersebut menjadi pengamen jalanan yang sukses di kota Bremen, dan sekarang patung keempat hewan tersebut diabadikan menjadi salah satu simbol kota Bremen.

Semoga dongeng yang akan ditulis berakhir dengan kemenangan dan keselamatan umat manusia, agar lebaran tahun depan bisa dirayakan tanpa larangan mudik. Selamat menyambut hari kemenangan. Mohon maaf lahir dan batin.

*Penulis adalah dosen bahasa Jerman Universitas Negeri Medan, dan pengurus DPP Cebastra.