Kamis, Desember 9, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaOpinionBhapa’-Babhu’, Guruh, Ratoh: Sebuah Filosofi Kepatuhan Orang Madura yang Mulai Terpinggirkan

Bhapa’-Babhu’, Guruh, Ratoh: Sebuah Filosofi Kepatuhan Orang Madura yang Mulai Terpinggirkan

Oleh: Abd. Basid Muslim, M.Pd.

Judul tulisan di atas merupakan sebuah idiom atau ungkapan yang pada hakikatnya syarat dengan makna. Rupanya nenek moyang kita (baca: orang Madura) ingin agar para generasi muda berikutnya tetap berpegang teguh pada idiom tersebut.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Agar kepatuhan tetap bisa berjalan seimbang yang muaranya adalah jati diri kita dalam menjalani kehidupan. Namun seiring waktu, idiom Bhapa’-Babhu’, guruh, ratoh ini seolah-olah mulai terpinggirkan bahkan mulai ditinggalkan.

Agar pembaca memahami apa idiom Bhapa’-Babhu’, guruh, ratoh, penulis akan mencoba menjelaskannya dalam bahasa Indonesia.

Baca Juga: Miris Nasib Guru Honorer Ngawi, Tinggal di Gubuk Tepi Hutan Jati

Kata Bhapa’-Babhu’ berarti bapak dan ibu sebagai orang tua kita, guruh berarti guru atau orang yang pernah mengajarkan ilmu, dan ratoh adalah penguasa, pemimpin atau pemerintahan.

Lalu apa kaitan antara idiom tersebut dengan “kepatuhan” seseorang dalam konteks kekinian? Patuh sering dikaitkan dengan kata hormat, yang berarti menghargai, takzim dan khidmat kepada orang lain.

Baca Juga: Pemkab Barito Timur Pacu Peningkatan Kualitas Guru

Hormat berarti menghargai, takzim dan khidmat kepada orang lain, baik orang tua, guru sesama anggota keluarga. Dalam hubungan dengan orang tua, perilaku hormat ditujukan dengan berbakti kepada orang tua.

Berbakti merupakan kewajiban anak kepada orang tua. Berbakti kepada orangtua merupakan salah satu amal salih yang mulia.

Baca Juga: Tak Ingin Tampil Seronok, Happy Asmara: Saya Ingin Jadi Guru

Perintah berbakti kepada orangtua terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur’an di antaranya Q.S. Al-Baqarah ayat 83 yang artinya:

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.”

Seiring realita yang ada, diakui atau tidak ternyata saat ini bakti anak terhadap orang tua mulai bergeser. Selain mulai berkurangnya “teladan” dari orang tua, ternyata peran dan perhatian terhadap tumbuh kembangnya anak lebih dipengaruhi berbagai gadget yang seolah-olah tidak bisa lepas dunia keseharian mereka.

Akibatnya adalah petuah-ptuah orang tua tidak lagi menjadi istimewa di mata anak-anak. Mereka lebih cenderung mencarinya melalui bantuan Mbah Google dan sejenisnya.

Baca Juga: Lowongan P3K Guru di Kota Batu Diikuti 343 Pelamar

Sama halnya dengan keberaan dan kepatuhan terhadap guru. Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik kita menjadi lebih baik.

Oleh karenanya wajib mematuhi perintah guru, selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat agama.

Guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa, namun kita sebagai muridnya wajib untuk selalu menghargainya.

Salah satu contoh akhlak terhadap guru adalah memuliakan, tidak menghina atau mencaci-maki, dan sebagainya.

Baca Juga: Kemendikbudristek Gelar Uji Kompetensi Bahasa Inggris untuk Guru

Namun selama hampir dua tahun sejak diberlakukannya kegiatan pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran daring, ternyata memberikan dampak sangat signifikan terhadap hakikat guru dan laju pendidikan.

Salah satunya adalah runtuhnya sendi-sendi pembelajaran akhlak dan budi pekerti. Mungkin dari sisi kecerdasan atau transfer of knowledge bisa dilakukan oleh alat canggih smartphone tapi pembentukan karakter terhadap anak-anak rasanya tidak mungkin karena hal itu harus melalui keteladanan.

Bagaimana dengan kepatuhan terhadap pemerintahan atau ratoh? Mematuhi dan membela negara merupakan kewajiban seluruh warga.

Namun akhir-akhir ini, terjadi kegamangan dalam kehidupan sehari–hari. Pemimpin yang sejatinya merupakan wakil rakyat, malah beberapa kali tertangkap tangan melakukan berbagai tindak kriminal seperti korupsi, pelecehan seksual, penghinaan nama baik, dan lain sebagainya.

Akankah hal ini akan terus berlanjut ?

Padahal nenek moyang kita menciptakan idiom Bhapa’-Babhu’, guruh, ratoh pada hakikatnya berangkat dari keteladanan yang bisa dijadikan contoh dari generasi selanjutnya.

Ayo kembali Saudaraku. Jangan terlena dengan gemerlapnya dunia yang semakin dan terus bersolek.

Penulis adalah Kepala SMP Negeri 1 Pakong – Pamekasan, mantan jurnalis Harian Bhirawa, dan anggota Cebastra.

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Peningkatan aktivitas gunung Semeru ##tiktokberita

♬ suara asli - Nusa Daily