Senin, Juni 27, 2022
BerandaOpinion & ArtShort StoryGlencik dan Eglem Part 6

Glencik dan Eglem Part 6

Oleh: Evelyn D.P.

Glencik yang mendengar ucapan Lilyn, bahwa ada Peri Pengirim Pesan di dalam Hlombung Book tak tinggal diam. Glencik tiba-tiba membuka pintu ruangan itu dengan cepat, “Brok!” Kali ini, tanah berbatu lagi yang keluar.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

“Kau hendak mengambil Hlombung Book di gua kan!” Lilyn membentak keras. Glencik tertunduk takut. “Sudah telat. Yuthang mengambil Hlombung Book! Yuthang itu iblis, tahu!” wanita itu melanjutkan.

Glencik mendelik kaget, bulu kuduknya berdiri. Lalu, anak itu lebih mendekat ke arah Lilyn, karena berkeringat dingin. Lilyn tertawa cekikikan mencurigakan, “Iblis itu memang mudah menyamar. Kau juga aneh! Bisa-bisanya mempercayai dia. Gua itu adalah gua suci. Makanya, iblis memberimu makan dengan perantara perosotan dan tangga.

Aku sudah malas berhadapan dengan iblis brengsek itu. Tak ada gunanya melawan dia. Dia mudah menipu.” Glencik mengangkat satu alisnya, pertanda terkejut, tapi bertanya-tanya tentang apa pentingnya Hlombung Book, dia sedang di mana, dan masih banyak lagi.

Glencik berusaha mengolah kata-katanya dan menyusun kalimatnya yang buruk. Menurutnya, karakter wanita kembaran ibunya itu  berbanding terbalik dengan ibunya. “Hadah! Sudahlah, katakan yang kau mau!” gertak Lilyn. Alangkah terkejutnya Glencik. Ia langsung tak bernapas beberapa detik. Lagi-lagi, Lilyn bisa mengerti apa yang ada di pikirannya.

“Lupakan, itu hanya telepati,” jelas Lilyn. Wanita itu mengambil palang razia di bawah meja sambil menunjukkannya kepada Glencik, “Nih! Yayaya, aku seorang polisi gadungan!” Lilyn tertawa. Glencik berpikir, bahwa Lilyn adalah orang yang mencari dirinya dan adiknya saat berada di gua beberapa waktu yang lalu, karena beberapa barang Lilyn terlihat seperti milik polisi.

Mengetahui pikiran Glencik, Lilyn mengacungkan jempolnya pertanda membenarkan. “Aku bekerja sebagai polisi gadungan selama 2 tahun. Si pecundang itu mengatahui kalau aku seorang polisi gadungan, jadi dia menyuruhku untuk mencari kau dan adikmu bersamanya. Sekarang, si pecundang itu sudah tak mengurus kalian berdua,” jelas Lilyn.

“Si pecundang?! Siapa yang kau maksud?” tanya Glencik. “Ayahmu!” jawabnya. Glencik yang mendengar hal tersebut, secara spontan menutup mulutnya, kaget. “Ya! Ayahmu itu pecundang! Hahahha, upsss,” ujar Lilyn.

Lilyn mengatakan, bahwa saat Glencik dan Eglem hilang, Ayah mereka justru senang. Wanita itu bilang, tujuan Ayah Glencik dan Eglem pergi ke gua untuk mencari anaknya hanyalah untuk sekedar formalitas, kalau Ayahnya menyayangi mereka. “Tapi, tidak! Ayahmu tak sungguh menyayangi kalian berdua,” tambah Lilyn.

Eglem yang sudah terbangun dari tidurnya, mendengar apa yang dikatakan Lilyn. Meski sudah mencoba menyembunyikan suara tangisannya, apalah daya, suara tangisan Eglem terdengar lirih. Glencik membalikkan badannya, melihat adiknya sembari menghampirinya.

“Tak apa. Kau bingung, ya? Kakak juga,” bisik Glencik. Eglem mengangguk sambil masih menangis. “Hentikan tangisan itu! Dasar bocah!” Lilyn membentak. Glencik dengan tegas menjawab, “Apa kau tak pernah menangis? Yaa, kau bercerita kalau Ibuku orang yang buruk, kan. Tapi, setidaknya aku bangga menjadi anak Ibuku, daripada ditakdirkan menjadi anakmu, kau orang yang buruk untuk menjadi ibu, tak dewasa sekali!”

Setelah itu, Glencik mengelus punggung adiknya lembut untuk menenangkannya. Sementara itu, Lilyn mengepalkan tangannya menahan marah. “Lalu, bagaimana kelanjutan ceritanya?” tanya Glencik berusaha mencairkan suasana.

Dengan agak berat hati, Lilyn melanjutkan, “Dunia visualisasi dari egoisme mu sekarang sudah menyatu dengan dunia nyata, Glen! Oleh karena itu, Yuthang, si Iblis sedang mengejarmu, karena sekarang kau di dunia nyata, artinya tidak ada pelindung dari dunia visualisasi.

Sebelumnya, saat kau berada di dunia visualisasi, Yuthang berusaha membuatmu akrab dengannya untuk melancarkan aksinya. Makanya, saat itu aku menyelamatkan kalian berdua, sebelum Yuthang menangkap kalian.” Setelah itu, Glencik hanya diam tak menjawab apa-apa. “Aku maunya ketemu Ibu! Ibu!” Eglem merengek.

Lilyn tak mengucapkan sepatah katapun untuk mengurangi rasa rindu Eglem. Beberapa saat kemudian, Lilyn membawa toples merah yang ditutupi kain dan menuju ke sebuah ruangan kecil di ujung ruangan itu, ukurannya seperti toilet 1×1 meter.

Rasa penasaran Eglem muncul. Ia mengintip dari lubang kunci ruangan kecil itu. Eglem melihat Lilyn sedang mengeluarkan cacing dari toples, lalu meremas cacing-cacing dengan tangan kosongnya. Daging cacing yang sudah halus, Lilyn bentuk tak beraturan, setelah itu digoreng dalam teflon di atas semangkuk cairan merah panas.

Bocah perempuan itu hanya bisa menutupi mulutnya melihat apa yang dilakukan Lilyn, bibinya. Glencik tanpa berpikir langsung menyeret Eglem ke pangkuannya. “Stt! Jangan menangis lagi ya!” ingat kakaknya. Mereka berdua sudah lama menunggu Lilyn yang entah sedang melakukan apa di dalam ruangan kecil itu. Sehingga, kakak-beradik itu pun tertidur.

Tiba-tiba, kaki Eglem dan Glencik digerak-gerakkan oleh seseorang. Glencik mulai membuka matanya, ia tahu, itu ternyata Lilyn. Bibinya itu seketika tersenyum lebar dengan membawa dua piring berisi daging yang terlihat lezat.

Glencik langsung mengambil salah satu piring daging itu, karena kelaparan. “Kau sangat baik! Ini menu yang lezat, pasti,” ujar Glencik. Ia memakan satu gigitan, lalu memuntahkan makanannya,

“Hih, apa-apaan ini?! Rasa yang tak bisa dirasakan!” Lilyn kaget sambil tertawa, “Apa kamu tidak pernah makan daging cacing? Padahal, ini makanan mewah.” Glencik bertanya kepada Eglem, apa yang dilihatnya tadi di ruangan kecil itu. Lalu, Eglem mempraktekkannya dengan bahasa isyarat.

“Hei! Aku bertanya, apa kamu tidak pernah makan daging cacing?” tanya Lilyn ulang. Glencik menjawab, “Tentu saja tidak. Mana ada orang makan daging cacing.” Mendengar itu, Lilyn malah tertawa-tertawa aneh sendiri. Glencik berpikiran, mungkin saja, karena Lilyn sudah hidup lama di bawah tanah, jadi ia memakan daging cacing, akibat kehabisan makanan.

“Ayo kita tidur. Ini sudah malam,” ajak Lilyn beberapa jam kemudian. “O ya? Ini di bawah tanah, bagaimana kau tahu ini sudah malam?” Glencik bertanya, sementara Eglem sudah tertidur di pangkuannya beberapa saat yang lalu. “Aku tahu waktu dari arloji tua pemberian Ibuku, ia meninggal saat aku dan Ibumu masih berusia belia,” jawabnya.

“Kasihan sekali. Tapi, arloji tua apa masih bisa berfungsi?” gumam Glencik. Tiba-tiba saja, tanpa diduga, ruangan itu menghantam suatu benda raksasa. “Apa itu?” Eglem berteriak. “Ruangan ini sebenarnya juga roket bor, tapi lebih besar. Dari tadi kalian berada di ruangan yang berjalan untuk menggali bumi. Apa mungkin kita sampai di kerajaan Peri Peringan?” kata Lilyn.

Lilyn mendobrak pintu ruangan itu, tapi tak berhasil. Glencik dan wanita itu mencoba segala cara untuk membuka pintu. Sedangkan, Eglem malah bermain-main di meja Lilyn, memegang roket bor mini. “Nah, itu dia!” Glencik menunjuk roket bor mini mengisyaratkan kepada bibinya.

Lilyn seraya mengambil roket bor mini, lalu menyalakannya di atas lantai. Eglem dan Glencik menutup telinganya masing-masing, karena suara sangat bising yang diciptakan roket bor. “Brok,” lantai seketika runtuh, mereka bertiga jatuh di sebuah tempat asing.

Di manakah mereka bertiga sekarang? Apakah mereka akan bertemu dengan Peri Peringan? Tunggu episode selanjutnya. (Bersambung)

BACA SEBELUMNYA:
Glencik dan Eglem Part 1
Glencik dan Eglem Part 2

Glencik dan Eglem Part 3
Glencik dan Eglem Part 4
Glencik dan Eglem Part 5

*Evelyn Dhyana Paramita adalah pelajar kelas 7 SMP Insan Amanah Malang. Di samping menulis fiksi, ia juga memilili minat di bidang teater.

BERITA KHUSUS

Ada Penampakan Kuntilanak di Acara Gowes HUT ke-104 Kota Mojokerto

NUSADAILY.COM – MOJOKERTO – Masih dalam rentetan HUT ke 104 Kota Mojokerto, kali ini ribuan masyarakat berpartisipasi ramaikan gowes bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah...

BERITA TERBARU

Jokowi Hadiri KTT G7, Bakal Bicara Gawatnya Krisis Pangan & Energi

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah tiba di Jerman pada Minggu (26/6) sekitar pukul 18.40 waktu setempat. Rencananya, Jokowi akan mengikuti...

Oleh: Evelyn D.P.

Glencik yang mendengar ucapan Lilyn, bahwa ada Peri Pengirim Pesan di dalam Hlombung Book tak tinggal diam. Glencik tiba-tiba membuka pintu ruangan itu dengan cepat, “Brok!” Kali ini, tanah berbatu lagi yang keluar.

“Kau hendak mengambil Hlombung Book di gua kan!” Lilyn membentak keras. Glencik tertunduk takut. “Sudah telat. Yuthang mengambil Hlombung Book! Yuthang itu iblis, tahu!” wanita itu melanjutkan.

Glencik mendelik kaget, bulu kuduknya berdiri. Lalu, anak itu lebih mendekat ke arah Lilyn, karena berkeringat dingin. Lilyn tertawa cekikikan mencurigakan, “Iblis itu memang mudah menyamar. Kau juga aneh! Bisa-bisanya mempercayai dia. Gua itu adalah gua suci. Makanya, iblis memberimu makan dengan perantara perosotan dan tangga.

Aku sudah malas berhadapan dengan iblis brengsek itu. Tak ada gunanya melawan dia. Dia mudah menipu.” Glencik mengangkat satu alisnya, pertanda terkejut, tapi bertanya-tanya tentang apa pentingnya Hlombung Book, dia sedang di mana, dan masih banyak lagi.

Glencik berusaha mengolah kata-katanya dan menyusun kalimatnya yang buruk. Menurutnya, karakter wanita kembaran ibunya itu  berbanding terbalik dengan ibunya. “Hadah! Sudahlah, katakan yang kau mau!” gertak Lilyn. Alangkah terkejutnya Glencik. Ia langsung tak bernapas beberapa detik. Lagi-lagi, Lilyn bisa mengerti apa yang ada di pikirannya.

“Lupakan, itu hanya telepati,” jelas Lilyn. Wanita itu mengambil palang razia di bawah meja sambil menunjukkannya kepada Glencik, “Nih! Yayaya, aku seorang polisi gadungan!” Lilyn tertawa. Glencik berpikir, bahwa Lilyn adalah orang yang mencari dirinya dan adiknya saat berada di gua beberapa waktu yang lalu, karena beberapa barang Lilyn terlihat seperti milik polisi.

Mengetahui pikiran Glencik, Lilyn mengacungkan jempolnya pertanda membenarkan. “Aku bekerja sebagai polisi gadungan selama 2 tahun. Si pecundang itu mengatahui kalau aku seorang polisi gadungan, jadi dia menyuruhku untuk mencari kau dan adikmu bersamanya. Sekarang, si pecundang itu sudah tak mengurus kalian berdua,” jelas Lilyn.

“Si pecundang?! Siapa yang kau maksud?” tanya Glencik. “Ayahmu!” jawabnya. Glencik yang mendengar hal tersebut, secara spontan menutup mulutnya, kaget. “Ya! Ayahmu itu pecundang! Hahahha, upsss,” ujar Lilyn.

Lilyn mengatakan, bahwa saat Glencik dan Eglem hilang, Ayah mereka justru senang. Wanita itu bilang, tujuan Ayah Glencik dan Eglem pergi ke gua untuk mencari anaknya hanyalah untuk sekedar formalitas, kalau Ayahnya menyayangi mereka. “Tapi, tidak! Ayahmu tak sungguh menyayangi kalian berdua,” tambah Lilyn.

Eglem yang sudah terbangun dari tidurnya, mendengar apa yang dikatakan Lilyn. Meski sudah mencoba menyembunyikan suara tangisannya, apalah daya, suara tangisan Eglem terdengar lirih. Glencik membalikkan badannya, melihat adiknya sembari menghampirinya.

“Tak apa. Kau bingung, ya? Kakak juga,” bisik Glencik. Eglem mengangguk sambil masih menangis. “Hentikan tangisan itu! Dasar bocah!” Lilyn membentak. Glencik dengan tegas menjawab, “Apa kau tak pernah menangis? Yaa, kau bercerita kalau Ibuku orang yang buruk, kan. Tapi, setidaknya aku bangga menjadi anak Ibuku, daripada ditakdirkan menjadi anakmu, kau orang yang buruk untuk menjadi ibu, tak dewasa sekali!”

Setelah itu, Glencik mengelus punggung adiknya lembut untuk menenangkannya. Sementara itu, Lilyn mengepalkan tangannya menahan marah. “Lalu, bagaimana kelanjutan ceritanya?” tanya Glencik berusaha mencairkan suasana.

Dengan agak berat hati, Lilyn melanjutkan, “Dunia visualisasi dari egoisme mu sekarang sudah menyatu dengan dunia nyata, Glen! Oleh karena itu, Yuthang, si Iblis sedang mengejarmu, karena sekarang kau di dunia nyata, artinya tidak ada pelindung dari dunia visualisasi.

Sebelumnya, saat kau berada di dunia visualisasi, Yuthang berusaha membuatmu akrab dengannya untuk melancarkan aksinya. Makanya, saat itu aku menyelamatkan kalian berdua, sebelum Yuthang menangkap kalian.” Setelah itu, Glencik hanya diam tak menjawab apa-apa. “Aku maunya ketemu Ibu! Ibu!” Eglem merengek.

Lilyn tak mengucapkan sepatah katapun untuk mengurangi rasa rindu Eglem. Beberapa saat kemudian, Lilyn membawa toples merah yang ditutupi kain dan menuju ke sebuah ruangan kecil di ujung ruangan itu, ukurannya seperti toilet 1×1 meter.

Rasa penasaran Eglem muncul. Ia mengintip dari lubang kunci ruangan kecil itu. Eglem melihat Lilyn sedang mengeluarkan cacing dari toples, lalu meremas cacing-cacing dengan tangan kosongnya. Daging cacing yang sudah halus, Lilyn bentuk tak beraturan, setelah itu digoreng dalam teflon di atas semangkuk cairan merah panas.

Bocah perempuan itu hanya bisa menutupi mulutnya melihat apa yang dilakukan Lilyn, bibinya. Glencik tanpa berpikir langsung menyeret Eglem ke pangkuannya. “Stt! Jangan menangis lagi ya!” ingat kakaknya. Mereka berdua sudah lama menunggu Lilyn yang entah sedang melakukan apa di dalam ruangan kecil itu. Sehingga, kakak-beradik itu pun tertidur.

Tiba-tiba, kaki Eglem dan Glencik digerak-gerakkan oleh seseorang. Glencik mulai membuka matanya, ia tahu, itu ternyata Lilyn. Bibinya itu seketika tersenyum lebar dengan membawa dua piring berisi daging yang terlihat lezat.

Glencik langsung mengambil salah satu piring daging itu, karena kelaparan. “Kau sangat baik! Ini menu yang lezat, pasti,” ujar Glencik. Ia memakan satu gigitan, lalu memuntahkan makanannya,

“Hih, apa-apaan ini?! Rasa yang tak bisa dirasakan!” Lilyn kaget sambil tertawa, “Apa kamu tidak pernah makan daging cacing? Padahal, ini makanan mewah.” Glencik bertanya kepada Eglem, apa yang dilihatnya tadi di ruangan kecil itu. Lalu, Eglem mempraktekkannya dengan bahasa isyarat.

“Hei! Aku bertanya, apa kamu tidak pernah makan daging cacing?” tanya Lilyn ulang. Glencik menjawab, “Tentu saja tidak. Mana ada orang makan daging cacing.” Mendengar itu, Lilyn malah tertawa-tertawa aneh sendiri. Glencik berpikiran, mungkin saja, karena Lilyn sudah hidup lama di bawah tanah, jadi ia memakan daging cacing, akibat kehabisan makanan.

“Ayo kita tidur. Ini sudah malam,” ajak Lilyn beberapa jam kemudian. “O ya? Ini di bawah tanah, bagaimana kau tahu ini sudah malam?” Glencik bertanya, sementara Eglem sudah tertidur di pangkuannya beberapa saat yang lalu. “Aku tahu waktu dari arloji tua pemberian Ibuku, ia meninggal saat aku dan Ibumu masih berusia belia,” jawabnya.

“Kasihan sekali. Tapi, arloji tua apa masih bisa berfungsi?” gumam Glencik. Tiba-tiba saja, tanpa diduga, ruangan itu menghantam suatu benda raksasa. “Apa itu?” Eglem berteriak. “Ruangan ini sebenarnya juga roket bor, tapi lebih besar. Dari tadi kalian berada di ruangan yang berjalan untuk menggali bumi. Apa mungkin kita sampai di kerajaan Peri Peringan?” kata Lilyn.

Lilyn mendobrak pintu ruangan itu, tapi tak berhasil. Glencik dan wanita itu mencoba segala cara untuk membuka pintu. Sedangkan, Eglem malah bermain-main di meja Lilyn, memegang roket bor mini. “Nah, itu dia!” Glencik menunjuk roket bor mini mengisyaratkan kepada bibinya.

Lilyn seraya mengambil roket bor mini, lalu menyalakannya di atas lantai. Eglem dan Glencik menutup telinganya masing-masing, karena suara sangat bising yang diciptakan roket bor. “Brok,” lantai seketika runtuh, mereka bertiga jatuh di sebuah tempat asing.

Di manakah mereka bertiga sekarang? Apakah mereka akan bertemu dengan Peri Peringan? Tunggu episode selanjutnya. (Bersambung)

BACA SEBELUMNYA:
Glencik dan Eglem Part 1
Glencik dan Eglem Part 2

Glencik dan Eglem Part 3
Glencik dan Eglem Part 4
Glencik dan Eglem Part 5

*Evelyn Dhyana Paramita adalah pelajar kelas 7 SMP Insan Amanah Malang. Di samping menulis fiksi, ia juga memilili minat di bidang teater.