Senin, Juni 27, 2022
BerandaNewsRegionalSentra Penghasil Beras, Pemdes Pendem Ingin Lahan Pertanian Tak Beralih Fungsi

Sentra Penghasil Beras, Pemdes Pendem Ingin Lahan Pertanian Tak Beralih Fungsi

NUSADAILY.COM-KOTA BATU– Komoditi beras merupakan kebutuhan pokok utama bagi masyarakat Indonesia. Mayoritas masyarakat menjadikan nasi hasil olahan beras sebagai makanan pokok. Karena beranggapan, makan kurang mantap rasanya jika belum menyantap sumber karbohidrat itu. Meskipun pemerintah telah menggulirkan program subtitusi alternatif sumber karbohidrat pengganti beras.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Sehingga hal ini memiliki korelasi yang erat antara ketersediaan beras dengan kebutuhan masyarakat. Di Kota Batu masih mengalami defisit ketersediaan beras. Per tahunnya Kota Batu membutuhkan sekitar 19,1 ribu ton beras. Berdasarkan data Susenas BPS kebutuhan beras di Kota Batu hampir 53 ton per hari.

Hingga kini jumlah produksi beras yang dihasilkan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kota Batu. Sehingga harus mendatangkan dari luar daerah, seperti Blitar maupun Kabupaten Malang. Sedangkan hasil produksi dari petani lokal Kota Batu hanya bisa memenuhi 25 persen saja dari total kebutuhan.

Hasil panen yang dihasilkan dari Kota Batu sekitar 4700 ton per tahun dari tujuh desa. Yakni Desa Pendem, Junrejo, Mojorejo, Torongrejo, Temas, dan Desa Giripurno. Dari ketujuh desa itu, Desa Pendem menjadi lumbung padi terbesar untuk menopang kebutuhan beras di Kota Batu.

Kepala Desa Pendem, Tri Wahyuwono Effendi mengatakan, lahan pertanian di wilayahnya seluas 200 hektar. Mayoritas merupakan lahan persawahan budidaya padi. Luas areal pertanian separuh dari total luas wilayah Pendem yang mencapai 400 hektar. Per tahunnya padi yang dipanen dari wilayah ini sekitar 2400 ton.

“Rata-rata satu hektar bisa menghasilkan 6-7 ton kalau musim kemarau. Kalau musim hujan susut 20 persen. Menghasilkan 4-5 ton per hektarnya,” kata kepala desa dua periode itu.

Secara geografis, Desa Pendem berbatasan dengan dua kecamatan yang wilayah admnistrasinya masuk Kabupaten Malang. Yakni Kecamatan Karangploso dan Kecamatan Dau. Hal ini membuat banyak pengembang perumahan yang melirik kawasan ini untuk dialihkan menjadi bisnis properti.

“Ya kami harap agar petani tak menjual sawahnya. Kami ingin mempertahankan ikon Desa Pendem sebagai sentra penghasil padi di Kota Batu,” ujar Effendi.

Memang diakuinya beberapa area persawahan milik warga telah beralih fungsi. Namun konversi lahan pertanian tak terlalu signifikan luasannya. Pihaknya bersinergi dengan Diskumdag dan Dispertan untuk mempertahankan lahan pertanian.

“Ada perubahan alih fungsi lahan pertanian meski tak signifikan. Harapan saya, produksi beras di Desa Pendem bisa dipertahankan,” imbuh dia.

Effendi mengatakan, dirinya tak membuat perdes untuk mempertahankan lahan pertanian. Karena instrumen itu tak akan efektif dibandingkan dengan memberikan terobosan yang berdampak pada kesejahteraan petani. Apalagi mayoritas lahan pertanian sawah merupakan hak milik petani. Sehingga apapun aturan yang tertuang di dalamnya akan sia-sia jika pemilik berkeingan menjualnya dengan berbagai alasan.

“Memang mudah buat perdesnya. Cuma apakah efektif jika diimpelementasikan di lapangan. Apalagi minat anak muda cenderung menurun untuk menjadi petani. Terpenting bagaimana peran pemerintah untuk memberikan kesejahteraan bagi petani,” papar dia. (wok/wan)

BERITA KHUSUS

Ada Penampakan Kuntilanak di Acara Gowes HUT ke-104 Kota Mojokerto

NUSADAILY.COM – MOJOKERTO – Masih dalam rentetan HUT ke 104 Kota Mojokerto, kali ini ribuan masyarakat berpartisipasi ramaikan gowes bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah...

BERITA TERBARU

Pecahkan Rekor MURI, Gowes Presisi Nusantara Tempuh Jarak 508 Km Kurang dari 24 Jam

NUSADAILY.COM - MEDAN - Sebanyak 64 peserta Tim Gowes Presisi Khatulistiwa yang bersepeda menempuh jarak 508 km telah tiba di Akpol, Semarang. Upaya mereka...

NUSADAILY.COM-KOTA BATU- Komoditi beras merupakan kebutuhan pokok utama bagi masyarakat Indonesia. Mayoritas masyarakat menjadikan nasi hasil olahan beras sebagai makanan pokok. Karena beranggapan, makan kurang mantap rasanya jika belum menyantap sumber karbohidrat itu. Meskipun pemerintah telah menggulirkan program subtitusi alternatif sumber karbohidrat pengganti beras.

Sehingga hal ini memiliki korelasi yang erat antara ketersediaan beras dengan kebutuhan masyarakat. Di Kota Batu masih mengalami defisit ketersediaan beras. Per tahunnya Kota Batu membutuhkan sekitar 19,1 ribu ton beras. Berdasarkan data Susenas BPS kebutuhan beras di Kota Batu hampir 53 ton per hari.

Hingga kini jumlah produksi beras yang dihasilkan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kota Batu. Sehingga harus mendatangkan dari luar daerah, seperti Blitar maupun Kabupaten Malang. Sedangkan hasil produksi dari petani lokal Kota Batu hanya bisa memenuhi 25 persen saja dari total kebutuhan.

Hasil panen yang dihasilkan dari Kota Batu sekitar 4700 ton per tahun dari tujuh desa. Yakni Desa Pendem, Junrejo, Mojorejo, Torongrejo, Temas, dan Desa Giripurno. Dari ketujuh desa itu, Desa Pendem menjadi lumbung padi terbesar untuk menopang kebutuhan beras di Kota Batu.

Kepala Desa Pendem, Tri Wahyuwono Effendi mengatakan, lahan pertanian di wilayahnya seluas 200 hektar. Mayoritas merupakan lahan persawahan budidaya padi. Luas areal pertanian separuh dari total luas wilayah Pendem yang mencapai 400 hektar. Per tahunnya padi yang dipanen dari wilayah ini sekitar 2400 ton.

"Rata-rata satu hektar bisa menghasilkan 6-7 ton kalau musim kemarau. Kalau musim hujan susut 20 persen. Menghasilkan 4-5 ton per hektarnya," kata kepala desa dua periode itu.

Secara geografis, Desa Pendem berbatasan dengan dua kecamatan yang wilayah admnistrasinya masuk Kabupaten Malang. Yakni Kecamatan Karangploso dan Kecamatan Dau. Hal ini membuat banyak pengembang perumahan yang melirik kawasan ini untuk dialihkan menjadi bisnis properti.

"Ya kami harap agar petani tak menjual sawahnya. Kami ingin mempertahankan ikon Desa Pendem sebagai sentra penghasil padi di Kota Batu," ujar Effendi.

Memang diakuinya beberapa area persawahan milik warga telah beralih fungsi. Namun konversi lahan pertanian tak terlalu signifikan luasannya. Pihaknya bersinergi dengan Diskumdag dan Dispertan untuk mempertahankan lahan pertanian.

"Ada perubahan alih fungsi lahan pertanian meski tak signifikan. Harapan saya, produksi beras di Desa Pendem bisa dipertahankan," imbuh dia.

Effendi mengatakan, dirinya tak membuat perdes untuk mempertahankan lahan pertanian. Karena instrumen itu tak akan efektif dibandingkan dengan memberikan terobosan yang berdampak pada kesejahteraan petani. Apalagi mayoritas lahan pertanian sawah merupakan hak milik petani. Sehingga apapun aturan yang tertuang di dalamnya akan sia-sia jika pemilik berkeingan menjualnya dengan berbagai alasan.

"Memang mudah buat perdesnya. Cuma apakah efektif jika diimpelementasikan di lapangan. Apalagi minat anak muda cenderung menurun untuk menjadi petani. Terpenting bagaimana peran pemerintah untuk memberikan kesejahteraan bagi petani," papar dia. (wok/wan)