Sabtu, November 27, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaNewsMetropolitanKontroversi Sistem New Normal, Warga: Antara Setuju dan Tak Setuju

Kontroversi Sistem New Normal, Warga: Antara Setuju dan Tak Setuju

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Rencana pemberlakuan sistem new normal atau hidup normal baru dalam menghadapi wabah Corona (Covid 19) oleh pemerintah pusat pada 1 Juli mendatang menuai kontroversi di kalangan masyarakat, ada yang setuju dan tidak setuju.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

PP Muhammadiyah menginginkan pemerintah mengkaji ulang rencana sistem new normal, lantaran banyak kebijakan-kebijakan yang masih berlaku dan belum efektif berjalan, seperti penerapan PSBB dan karantina wilayah di daerah tertentu.

Lain halnya dengan warga Jakarta, Mohammad Dawam (45 tahun), Ia setuju dengan penerapan new normal tanpa mempertajam perbedaan – perbedaan furu’iyyah, fiqh termasuk perbedaan politik, bahkan perbedaan agama, perbedaan suku, perbedaan ras, gender dan agama bahkan perbedaan politik yang dianut antar lintas negara.

“Jadi mari kita ambil hikmah Covid 19 tanpa mempermasalahkan problem yang ada, semoga ini yang terbaik untuk kita semua,” ujarnya kepada Nusadaily.com di Jakarta, Sabtu 30 Mei 2020.

Dikatakannya, bahwa sesuatu hal yang diciptakan Allah Swt pasti ada hikmahnya. Karenanya, jangan pelihara perbedaan begitu tajam tanpa solusi dan alternatif titik temu.

“Misalnya soal ibadah, NU vis a vis HTI dalam batas tertentu. Wahabi – Sunni – Syiah dalam batas-batas tertentu. Itu Pesan Covid. Setidaknya inilah yang saya rasakan. Termasuk perbedaan ideologi privat, maupun ideologi publik,” ujar tokoh muda NU DKI ini

Menurut Mohammad Dawam, dunia kedepan saatnya satu padu, kompak memikirkan dan membangun sistem tata kelola baru: pertama, sistem pemerintahan manusiawi berkeadilan. Kedua, dengan pola satu padu membasmi kemiskinan. Ketiga, membangun sistem dan komitmen membasmi kebodohan dan keterbelakangan berbagai sendi. Keempat, mengelola hasil alam yang sportif dan proporsional. Kelima, membangun sistem kesehatan yang bagus untuk umat manusia.

“Ini paling penting dari pesan covid 19,” ungkapnya

Ia pun menceritakan pengalaman pribadi sat salat jumat di Masjid Media Dakwah, Jakarta pada Jumat terkahir Ramadan lalu. Ia tercengang melihat para jamaah dari berbagai aliran perbedaan ormas duduk bersama tanpa sekat.

“Yaa Allah Engkau telah menyingkirkan sekat friksi perbedaan keagamaan yang selama ini berabad-abad lamanya tak kunjung usai dengan kiriman wabah covid di dunia ini. Yakni perbedaan kaum cingkrang yang jika sholat berjama’ah selalu “memefet-mepetkan” kan kakinya dengan beradu kaki kita. Itu tak tampak lagi,” ujarnya

Demikian pula, kata Dawam setelah berjama’ah tak tampak lagi: tradisi bersalaman sebagai tradisi NU. “Maha Suci Engkau Yaa Allah yang telah ingatkan kami manusia yang amat lemah ini untuk tidak terkotak-kotak dalam memandang suatu realitas ini,” rebungnya.

Intinya, lanjut Dawam, sebagai masyarakat yang baik harus mentaati aturan pemerintah dan pemimpin selama untuk yang terbaik bagi sesama.

“Jangan lihat NU, jangan lihat Muhammadiyah, jangan lihat HTI, jangan lihat Wahabi, kaum Cingkrang, dan lain sebagainya.

“Pandanglah Allah sebagaimana Porsinya,”Innii Wajjahtu Wajhiya Lilladzi Fatharas-Samaawati wal Ardha Haniifan Musliman wa Maa Ana Minal Musyrikiin,” pungkasnya. (hud)

- Advertisement -spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA POPULAR