Mantan Rektor Unipar Jember Buka-Bukaan Peristiwa Skandal Pelecehan Seksualnya

  • Whatsapp

NUSADAILY.COM – JEMBER – Profesor Rudi Sumiharsono buka suara mengenai masalah pelecehan seksual yang pada akhirnya membuat dia mengundurkan diri dari jabatan Rektor Universitas IKIP PGRI Argopuro (Unipar) Jember.

Bacaan Lainnya

Sang guru besar ini sama sekali tidak menampik dengan pengakuan telah bertindak keliru atas perbuatan melecehkan diri dosen perempuan berinisial H.

“Terus terang saya mengakui khilaf,” tuturnya saat memberi keterangan kepada media, Jumat, 18 Juni 2021.

Rudi mengisahkan, peristiwanya terjadi di sela-sela acara Diklat PGRI Jawa Timur yang berlangsung dalam sebuah hotel di Tretes, Kabupaten Pasuruan dalam rentang antara tanggal 4-5 Juni 2021 lalu.

Sekitar pagi hari, dia mengetuk pintu kamar korban dengan maksud membangunkan dan mengajaknya sarapan bersama. Tatkala korban membuka pintu, seketika itu juga Rudi terdorong oleh hasrat dalam dirinya.

“Saya enggak ada rencana, tiba-tiba cium dia,” ungkap dia menceritakan tentang tindakan cerobohnya tersebut.

Korban melawan dengan cara menghindar. Rudi langsung menyadari keinginannya ditolak oleh korban. Sehingga, ia pun menyampaikan permintaan maaf.

“Tidak sampai ada paksaan atau lebih dari itu,” tutur Rudi dengan nada penyesalan.

Tudingan pelecehan di mobil saat perjalanan dari Jember ke Tretes juga diklarifikasi oleh Rudi. Menurutnya, sebatas kejadian tidak sengaja kakinya menyenggol tangan korban.

“Tanggapan dia saja barang kali seperti itu. Kaki saya kemeng (pegal), kepingin selonjor tapi kena tangannya. Dia kan duduk di depan, saya di kursi belakang,” sergah Rudi.

Di dalam Mobil Ada Empat Orang

Selain Rudi dan korban, di dalam mobil tersebut ada dua orang lainnya. Salah seorang bertindak sebagai sopir dan seorang lagi duduk berdampingan dengan Rudi. Mereka berempat memang pergi bersama-sama ke Tretes.

Selebihnya, Rudi merelakan jabatannya sebagai Rektor Unipar dilepas. Walau dalam hati kecilnya masih sedikit berat, karena ia merasa baru saja meraih sukses menaikkan status kampus dari institut menjadi universitas pada awal Mei 2021 silam.

Terkait pengunduran diri, Rudi menganggap akibat tekanan kuat dari berbagai pihak yang berambisi menggantikan posisinya dengan cara mendompleng kasus pelecehan seksual saat ini.

Ia berkata demikian, lantaran upayanya meminta mediasi agar dapat diselesaikan secara kekeluargaan selalu menemui jalan buntu. Bahkan, kemudian muncul gerakan dari dalam kampus yang menuntut Rudi mengundurkan diri.

“Kasusnya tidak terlalu, tapi dipolitisir sehingga meluas. Saya rasa tidak adil, karena ternyata dilebih-lebihkan. Tidak sesuai apa yang saya ini lakukan. Saya merasakan ketidakadilan, ada yang menekan,” ucapnya.

Rudi tidak berniat melawan balik. “Saya pikir buat apa? Ngeman kampus, ngeman lembaga. Monggo siapapun yang mau menduduki itu. Saya sudah berjuang perubahan status kampus ke universitas,” tutur dia.

Sebelumnya, suami korban yang mengadukan Rudi ke Yayasan IKIP PGRI Jember dengan menuntut supaya diberlakukan sanksi tegas. Hingga dalam beberapa rapat diputuskan untuk memberi sanksi kepada Rudi sampai akhirnya terjadi pengunduran diri. (sut/aka)

Pos terkait