Kamis, Oktober 21, 2021
BerandaNewsBisnis Perhotelan Terjungkal, Kesejahteraan Karyawan Sekarat

Bisnis Perhotelan Terjungkal, Kesejahteraan Karyawan Sekarat

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM-KOTA BATU– Sektor industri pariwisata Kota Batu kelimpungan sejak PPKM darurat diberlakukan, awal Juli lalu. Keadaan semakin terpuruk ketika pembatasan mobilitas masyarakat diperpanjang hingga 2 Agustus. Jebloknya tingkat kunjungan mengancam kesejahteraan pekerja.

Aryo, harus menanggalkan pekerjaannya. Ia bekerja sebagai karyawan kontrak di salah satu hotel ternama Kota Batu. Belum genap sebulan bekerja, kontraknya diputus. Perusahaan tempatnya bekerja kelimpungan karena merosotnya pendapatan sehingga melakukan efisiensi jumlah karyawan.

“Belum merasakan gaji sudah diputus kontrak yang belum genap sebulan,” kata Aryo dilansir Nusadaily.com.

Ia mengatakan, pihak manajemen meminta agar dirinya mencari mata pencaharian lainnya. Kabar itu semakin menambah beban dirinya di tengah himpitan ekonomi lantaran pembatasan aktivitas masyarakat. Apalagi dirinya sebagai tulang punggung keluarga menghidupi istri dan satu anaknya. Bantuan sosial dari Pemkot Batu bagi pekerja terdampak, sama sekali tak didapat. Sekalipun dirinya terdata beridentitas Kota Batu.

“Perusahaan memprioritaskan kepada karyawan senior. Mau cari kerja di luar kota tidak bisa karena kondisinya begini,” imbuh dia.

Nasib yang menimpa Aryo, merupakan secuil potret kecil dari imbas kebijakan pemerintah memberlakukan pembatasan sosial. Kebijakan ini memang digulirkan untuk menekan angka lonjakan kasus Covid-19. Namun ada konsekuensi yang ditimbulkan yakni tersendatnya roda perekonomian dan akibatnya menggadaikan kesejahteraan karyawan.

Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi mengatakan, beberapa hotel bintang 3 sampai bintang 5 mulai menutup sementara aktivitasnya. Perkiraan ada sekitar 30 persen hotel yang tutup sementara dari total 66 hotel yang tergabung sebagai PHRI Kota Batu. Sedangkan beberapa hotel maupun restoran lainnya ada yang memilih merger.

“Sekalipun memilih beroperasi di saat ini, pasti rugi. Biaya operasionalnya tak sebanding dengan pendapatan yang merosot,” kata pria yang juga menjabat Direktur PT Selecta.

Para pelaku industri pariwisata, seperti akomodasi jasa perhotelan dihadapkan pada situasi dilematis. Sekalipun beroperasi namun tingkat okupansi jeblok karena pembatasan mobilitas masyarakat. “Mayoritas tamu dari luar kota. Ketika ada pembatasan pastinya okupansi jeblok dan kerugian tak bisa dihindari,” kata Sujud.

Bisnis perhotelan dibelit kerugian sejak awal pandemi Covid-19 melanda. Rata-rata perbulan potensi kerugian tiap hotel mencapai Rp 1 miliar. Sujud mencontohkan, Hotel  Selecta mengalami potential loss sekitar Rp 50 miliar dihitung sejak tahun 2020 lalu, ketika pandemi melanda.

“Pastinya biaya operasional tak sebanding dengan perolehan. Banyak hotel yang memotong upah karyawan 50 persen. Bahkan ada yang dirumahkan karena tak sanggup membayarkan upah lagi,” terang dia. (wok/wan)

- Advertisement -spot_img
Nusa Magz Edisi 46

BERITA POPULAR

- Advertisement -spot_img

BERITA KHUSUS

@nusadaily.com

Akhir-akhir ini Kota Malang panas banget nih, ngadem dulu yuk🍦🍦 ##tiktoktaiment

♬ Happy Ukulele - VensAdamsAudio

LIFESTYLE

Polda Metro Periksa Rachel Vennya Hari Ini

0
NUSADAILY.COM - JAKARTA - Penyidik Polda Metro Jaya berencana memeriksa ​selebgram Rachel Vennya terkait dugaan kabur dari isolasi di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet...