Ngabalin Bela Menteri Edhy Soal Ekspor Benih Lobster

  • Whatsapp
Ali Mochtar Ngabalin (kanan) saat berkunjung ke Banyuwangi bersama Menteri Kelautan Perikanan. (foto: ozi/nusadaily.com)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – BANYUWANGI – Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden, Ali Mochtar Ngabalin memberikan pembelaan atas kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo yang membuka kran ekspor benih lobster.

Baca Juga

Kebijakan tersebut dinilainya menguntungkan nelayan yang selama ini terpuruk akibat larangan penangkapan dan ekspor benur lobster di era Menteri Susi Pudjiastuti.

Menurut Ngabalin, saat diberlakukan kebijakan larangan memangkap dan mengekspor benur, banyak nelayan dan pengusaha jatuh bangkrut. Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang harus mendekam di penjara.

“Bayangkan, saya pernah mengurus mereka (pelaku penangkapan benur) di penjara. Mereka bangkrut. Lihat keluh kesah mereka,” kata Ngabalin saat menemani kunjungan Menteri Edhy di Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan dan Pembenihan Banyuwangi, Kamis 9 Juli 2020.

“Antum bayangkan di Pantura ini hampir semuanya hidup dari hasil laut. Mereka tidak bisa apa-apa. Ada yang jatuh bangkrut. Dipenjara. Kapalnya tenggelam mereka tidak bisa apa-apa,” tambahnya.

Dengan dibukanya kran ekspor benih lobster oleh Kementerian KKP, kata Ngabalin, menjadi angin segar bagi sektor perikanan di Indonesia. “Jadi ini ada kepastian terhadap dibukanya kran lobster. Ini waktu yang tepat,” katanya. 

Menanggapi kritikan atas kebijakan tersebut, Ngabalin menyebut setiap masa pasti ada perubahan, baik person maupun kebijakan yang dibuat. 

“Ibu Susi sudah selesai dengan regulasinya. Ada kurang ada lebih. Sekarang menterinya baru. Regulasinya direvisi, dilihat. Dibuka krannya selebar-lebarnya. Alhamdulillah saya bersyukur kepada Allah SWT,” imbuhnya.

Ngabalin mengakui, langkah Menteri Edhy membuka kran ekspor tak luput dari pro-kontra di tengah masyarakat. Namun alangkah baiknya, publik memberi kesempatan kepadanya agar bisa bekerja secara maksimal.

“Setiap orang punya masa. Setiap masa ada orangnya. Mudah-mudahan (kebijakan) ini bisa bermanfaat dengan segala resiko dan konsekuwensi. Ya dibully, dicaci maki,” tutup Ngabalin. (ozi/aka)

Post Terkait

banner 468x60