Arkeolog Temukan Topeng Emas Berusia 3.000 Tahun di China

  • Whatsapp
Ilustrasi topeng emas yang ditemukan di di area seluas 4,6 mil persegi di Sanxingdui, Chengdu. (Foto: AP/Antonio Calanni)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Para Arkeolog menemukan topeng emas di Provinsi Sichuan, China, diperkirakan berusia 3.000 tahun. Topeng itu memiliki berat sekitar 280 gram dan terbuat dari 84 persen emas.

Topeng itu merupakan salah satu dari lebih dari 500 benda yang digali dari enam ‘lubang pengorbanan’ yang baru ditemukan.

Baca Juga

BACA JUGA : Cerita Tentara Bayaran Dapat Order Menghabisi Pablo Escobar Namun Gagal

Melansir CNN, lubang pengorbanan itu berada di area seluas 4,6 mil persegi di Sanxingdui. Beberapa ahli mengatakan benda-benda itu mungkin berasal dari negara bagian Shu kuno, sebuah kerajaan yang memerintah di cekungan Sichuan barat sampai ditaklukkan pada 316 SM.

Selain topeng emas, para arkeolog menemukan perunggu, lapisan emas, dan artefak yang terbuat dari gading, batu giok, dan tulang. Enam lubang, yang terbesar memiliki tapak seluas 19 meter persegi, juga terdapat kotak kayu yang belum dibuka dan bejana perunggu dengan pola berbentuk burung hantu.

Lebih dari 50.000 artefak kuno telah ditemukan di Sanxingdui sejak 1920-an, ketika seorang petani lokal secara tidak sengaja menemukan sejumlah relik di situs tersebut. Sebuah terobosan besar terjadi pada tahun 1986, dengan ditemukannya dua lubang seremonial yang berisi lebih dari 1.000 item, termasuk topeng perunggu yang rumit dan terawat baik.

BACA JUGA : Mengenal Ambergris, Muntahan Paus dengan Harga Selangit

Setelah jeda panjang dalam penggalian, lubang ketiga kemudian ditemukan pada akhir 2019, yang mengarah ke penemuan lima tahun lalu. Para ahli percaya bahwa lubang tersebut digunakan untuk tujuan pengorbanan, karena banyak barang yang terkandung dibakar secara ritual saat dijatuhkan dan dikubur.

Sanxingdui diyakini berada di jantung negara bagian Shu. Kawasan itu diduga ada sejak abad ke-12 dan ke-11 SM, dan banyak dari barang-barang tersebut sekarang dipajang di museum.

Merevolusi Pemahaman Para Ahli

Situs itu dinilai telah merevolusi pemahaman para ahli tentang bagaimana peradaban berkembang di Tiongkok kuno. Secara khusus, bukti budaya Shu yang unik menunjukkan bahwa kerajaan berkembang secara independen dari kelompok masyarakat lain di Lembah Sungai Kuning, yang secara dianggap sebagai tempat lahir peradaban Tiongkok.

BACA JUGA : Ketika Misteri Badai Matahari Terungkap

Wakil direktur Administrasi Warisan Budaya Nasional China, Song Xinchao mengatakan penemuan terbaru memperkaya dan memperdalam pemahaman tentang budaya Sanxingdui. Penemuan serat sutra dan sisa-sisa tekstil juga dapat memperluas pemahaman kita tentang Shu.

Kepala tim penggalian dari Institut Penelitian Arkeologi dan Relik Budaya Provinsi Sichuan, Tang Fei mengatakan bahwa penemuan tersebut menunjukkan bahwa kerajaan adalah salah satu asal penting sutra di Tiongkok kuno.

Meskipun belum diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, Sanxingdui telah masuk daftar tentatif. Ada kemungkinan UNESCO menjadikan kawasan itu sebagai warisan dunia di masa mendatang.(han)