Pengembangan Batik Kota Batu Harus Menarasikan Kearifan Lokal

  • Whatsapp
Peserta kompetisi desain batik khas Kota Batu membuat sketsa pola motif batik pada selembar kertas sebelum diaplikasikan pada lembaran kain
Peserta kompetisi desain batik khas Kota Batu membuat sketsa pola motif batik pada selembar kertas sebelum diaplikasikan pada lembaran kain
banner 468x60

NUSADAILY.COM-KOTA BATU– Sketsa beragam motif dan ornamen diguratkan pada selembar kertas oleh peserta kompetisi desain batik khas Kota Batu di Jambuluwuk Resort, Rabu-Kamis 17-18 Maret 2021. Kompetisi yang diinisiasi Dinas Pariwisata bekerjasama dengan Kadin Kota Batu ini mengangkat tema ‘Kearifan Lokal Kota Batu’. Tercatat ada 105 peserta bersaing menciptakan motif batik yang menonjolkan karakteristik Kota Batu.

Lembaran kertas menjadi medium menyelami serta menuangkan bentuk-bentuk pengalaman dan perjumpaannya dengan imajinasi tentang diri dan lingkungannya yang dapat diwujudkan ke dalam simbol motif. Motif yang dituangkan pada lembaran kertas kemudian diaplikasikan pada lembaran kain.

Baca Juga

Kepala Disparta Kota Batu, Arief As Siddiq mengatakan kegiatan ini kolaborasi antara Dinas Pariwisata dan Kadin Kota Batu untuk menggali dan mengembangkan seni batik. Ada visi yang diusung Disparta Kota Batu dalam melaksanakan kegiatan ini. Visi yang digaungkan ialah batik Kota Batu berjaya menembus dunia internasional. 

Setiap motif yang diciptakan harus memiliki karakteristik dan keunikan yang digali dari nilai-nilai kultural dan kearifan lokal yang berkembang di Kota Batu. Hal ini yang menjadi fokus utama dalam penyelenggaraan kompetisi ini. Sehingga bisa memunculkan karya-karya desain terbaik yang nantinya bisa menjadi ikon Kota Batu.

“Tentunya corak motif batik harus berangkat dari nilai kearifan lokal agar bisa menampilkan karakteristiknya,” kata mantan Arief dilansir Nusadaily.com.

Karakteristik dan orisinalitas motif yang diangkat dari nilai kultural dan filosofis menjadi acuan utama dalam penilaian. Arief merinci kriteria penilaian meliputi komposisi motif (bentuk, keunikan dan estetika). Komposisi warna dan corak, kualitas desain, kesesuaian tema ide dan motif serta kreativitas dan orisinalitas. Penilaian akan dilakukan dewan juri dengan latar belakang mulai dari budayawan, pengrajin batik dan Kadin Kota Batu.

“Sangat banyak nilai-nilai kearifan lokal  setiap desa Kota Batu. Tinggal sejauh mana peserta menggali dan meresapi lebih dalam nilai yang tersirat. Sehingga hasil kreasinya bisa memunculkan ikon Kota Batu,” papar mantan Kepala DLH Kota Batu itu.

Ia tak ingin pengembangan batik di Kota Batu hanya berhenti sebatas kegiatan yang diselenggarakan kali ini. Melainkan harus ada kesinambungan untuk mengembangkan seni batik di Kota Batu. Kolaborasi dengan Kadin Kota Batu diharapkan menjadi sebuah nafas yang dapat menggeliatkan pengrajin batik. 

Untuk itu perlu pengembangan SDM secara massif melalui sebuah wadah yang menampung para perajin batik dengan ditopang pula strategi pemasaran produk batik yang dihasilkan. Terlebih batik merupakan bagian dari sektor ekonomi kreatif yang perlu dipacu agar bisa memiliki daya tarik bagi wisatawan. Dengan begitu akan tumbuh ekonomi kreatif unggulan Kota Batu yang dilirik wisatawan.

“Ada tujuan yang ingin kami sasar berkenaan kerjasama dengan Kadin. Kami bersama-sama mengembangkan SDM. Kemudian mendorong promosi pemasaran secara massif baik di masyarakat, wisatwan hingga lembaga pemerintah atau wisatawan. Itu komitmen antara Disparta dan Kadin,” ungkap Arief.

Ketua Kadin Kota Batu, Endro Wahyu Wijoyono mengatakan, harus ada karakteristik dan keunikan yang ditampilkan dalam setiap motif batik Kota Batu. Karena hal ini sangat berdampak signifikan terhadap potensi pemasaran agar bisa menarik minat pembeli, khususnya wisatawan. 

“Karakteristik dengan nilai-nilai budaya dan filosofis harus dimiliki. Setiap daerah memiliki corak batik yang beragam. Untuk menciptakan nilai ekonomi, karakteristik dan keunikan harus diperkuat,” urai dia.

Hal senada diungkapkan Budayawan asal Kota Batu, Didik Sumintardjo. Didik menegaskan perlunya sebuah brand culture yang diinterpretasikan melalui motif dan corak batik Kota Batu. Sehingga ada identitas dan kebanggaan yang melekat kuat ketika memakai produk batik khas Kota Batu.

“Kalau itu jadi komitmen bersama, saya yakin bisa memunculkan identitas dan kebanggan. Misalnya motif kentang dari Sumber Brantas, motif lereng gunung dari Oro-oro Ombo. Simbol ini harus bisa menjadi pesan yang dinarasikan,” terang Didik. (wok/adv/wan)