Mengenal Hasil Karya Budaya Sendiri

Mengenal orang lain, dalam hal ini memahami karakter orang lain merupakan hal penting. Pengetahuan terhadap karakter atau sifat-sifat orang lain (teman, anggota keluarga, siapapun) sangat bermanfaat bagi kelangsungan hubungan pertemanan, kekeluargaan, dan bermasyarakat atau bersosialisasi. Lebih dari itu, mengenal diri sendiri tidak kalah penting dari mengenal orang lain.

Mengenal Hasil Karya Budaya Sendiri
(Foto: Istimewa)


Oleh: Dra. Lis Setiawati, M.Pd

Mengenal orang lain, dalam hal ini memahami karakter orang lain merupakan hal penting. Pengetahuan terhadap karakter atau sifat-sifat orang lain (teman, anggota keluarga, siapapun) sangat bermanfaat bagi kelangsungan hubungan pertemanan, kekeluargaan, dan bermasyarakat atau bersosialisasi. Lebih dari itu, mengenal diri sendiri tidak kalah penting dari mengenal orang lain.

Berdasarkan pengamatan (belum diteliti), sebagian besar masyarakat Indonesia mudah kagum pada produk-produk luar negeri dibanding dengan produk negara sendiri (Indonesia). Produk-produk yang dikagumi bisa berupa barang, teknologi, kuliner, dan budaya. Kekaguman yang berlebihan ini  berdampak buruk jika sampai melupakan produk dan karya-karya bangsa sendiri, terlebih pada karya budaya yang menjadi identitas diri bangsa.

Satu dari ribuan karya budaya bangsa Indonesia yaitu rumah adat. Data jumlah suku bangsa Indonesia yang dicatat oleh badan pusat statistik (BPS) pada tahun 2010, Indonesia dihuni oleh 1.340 suku bangsa. Secara hitungan kasar, terdapat 42 jumlah suku terbesar di Indonesia. Dengan demikian, sedikitnya terdapat 41 rumah adat yang bisa kita kenal, satu di antaranya yaitu rumah adat Betawi.

Setiap rumah adat di Indonesia memiliki luas dan bentuk yang berbeda. Bukan hanya itu, masing-masing rumah adat setiap suku memiliki ciri-ciri yang mengandung nilai atau norma yang diyakini dan diimplementasikan di dalam kehidupan bermasyarakat suku tersebut. Demikian halnya dengan rumah adat suku Betawi. Rumah adat suku Betawi memiliki ciri-ciri berupa ornament-ornamen yang melambangkan kebaikan bagi penghuni rumah. Terdapat beberapa jenis rumah adat Betawi seperti rumah kebaya, rumah joglo, dan rumah gudang. Namun nilai-nilai filosofi yang terkandung pada rumah adat Betawi tidak berbeda.

Nilai-nilai filosofi ini tidak lepas dari ajaran agama yang dianut masyarakat Betawi yaitu Islam. Nilai-nilai tersebut antara lain tentang tata krama yang tulus, kemanusiaan, kebersihan, dan lain-lain sifat kebaikan. Berikut ciri-ciri dan nilai filosofi rumah adat Betawi.

1. Rumah adat Betawi memiliki halaman atau teras yang luas. Ciri ini menunjukkan bahwa masyarakat Betawi memiliki sifat terbuka. Masyarakat Betawi bersikap sukacita, senang, terbuka, dan selalu ramah dalam menerima tamu atau pendatang. Sikap ini merupakan implementasi ajaran agama yang dianutnya (Islam) sesuai sabda Rasulullah bahwa “Barang siapa yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.(HR Bukhari dan Muslim).

2. Masyarakat Betawi pantang membangun kamar mandi dan toilet di dalam rumah. Hal ini terkait dengan nilai-nilai kebersihan dan kesehatan. Kebersihan di sini tidak hanya kebersihan secara lahir tetapi juga kebersihan batin. Secara islami, masyarakat Betawi harus jauh dari najis. Ini merupakan implementasi firman Allah, salah satunya ujung ayat 108 Al Quran surat At-taubah berbunyi: “Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” Rasulullah banyak menyampaikan hal tentang kebersihan. Berikut dua hadis yang penulis dari kumpulan hadis.

Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mencuci pakaian yang dikenakan. Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata:

  • "Rasulullah SAW mendatangi kami dan beliau melihat seseorang berdebu dan rambutnya terburai. Maka beliau bersabda, "Apakah dia tidak mendapatkan sesuatu yang dapat merapikan rambutnya. Dan beliau melihat orang lain memakai baju kotor, maka beliau bersabda, "Apakah dia tidak mendapatkan apa yang dapat mencuci bajunya." (HR Abu Dawud).

 

Sabda Rasulullah yang lain.

  • "Bersihkanlah segala sesuatu semampu kamu. Sesungguhnya Allah ta'ala membangun Islam ini atas dasar kebersihan dan tidak akan masuk surga kecuali setiap yang bersih." (HR Ath-Thabrani).

Seperti dipaparkan di atas bahwa yang dimaksud perhatian terhadap kebersihan di sini secara filosofi meliput kebersihan lahir dan batin atau kebersihan diri dan kebersihan hati. Berdasarkan hal tersebut maka rumah adat Betawi memiliki dua bangun yaitu bangunan utama yang terdiri atas teras atau ruang tamu yang luas yang disekat/tidak menyatu dengan keluarga dan bagian-bagian rumah lainnya. Sedangkan bangunan tambahan (di belakang rumah) merupakan kamar mandi dan toilet.

3. Rumah adat Betawi memiliki ornamen-ornamen berupa ukiran bunga matahari, bunga melati, gigi balang, gunungan, dan beberapa simbol lain.

  • Bunga matahari biasa diletakan di atas pintu ruang tamu. Ornamen ini menyimpan makna sebagai penerang. Sinar matahari tidak hanya menerangi bumi tetapi juga mampu menerangi hati dan pikiran penghuni rumah sehingga selalu menjadi inspirasi bagi masyarakat sekitar.
  • Bunga melati dikenal dengan warnanya yang putih bersih serta keharumannya. Ukiran bunga melati biasanya diletakkan pada tiang-tiang rumah. Ornamen ini melambangkan kebaikan hati si pemilik rumah. Kebaikan hati sang pemilik mengahrumkan namanya di tengah-tengah masyarakat sekitar.
  • Gigi balang merupakan hiasan berbentuk segitiga terbalik yang dipasang berjajar di bawah atap rumah (lipslang). Ornamen ini mengandung makna kekuatan (jujur, rajin, ulet, sabar) pemiliknya dalam menjalani kehidupan ini secara benar (sesuai kepercayaan/agama yang dianutnya).
  • Ornamen gunungan melambangkan bahwa penghuni rumah memiliki kepercayaan yang teguh terhadap Tuhan. Tuhan yang maha kuasa, Sang Pencita alam semesta dan isinya, termasuk segala sesuatu yang gaib.

Selain lambang-lambang yang dipaparkan di atas ada pula ornament-ornamen lain yang juga digunakan seperti bentuk untaian rantai.yang melambangkan kebersamaan. Artinya, pemilik rumah merupakan orang-orang yang mudah diajak bekerja sama dalam kebaikan (bergotong royong, saling menolong, dan kebersamaan lain). Ornamen umum seperti lambang garuda juga ada digunakan, hal ini melambangkan kecintaan terhadap negara.

Ornamen-ornamen pada rumah adat Betawi dibuat dan diletakkan dengan memperhatikan segi keindahan. Keindahan ornamen-ornamen tersebut terdapat pada bentuk dan warna ornament dan bagian-bagian rumah (dinding, tiang, dll). Rumah adat Betawi umumnya diberi warna cerah seperti hijau dan kuning. Ini menggambarkan penghuni rumah selalu bersikap ramah dan ceria kepada setiap yang datang serta optimis di dalam menjalani hidup sebagai rahmat Sang Maha Kuasa.

Nilai-nilai filosofi rumah adat Betawi memberi banyak pelajaran bagi masyarakat Betawi itu sendiri, juga bagi masyarakat dari suku lain. Tidak menutup kemungkinan menjadi pengetahuan  bagi bangsa lain yang belajar tentang budaya Indonesia. Pelajaran yang dapat diambil dari hasil budaya berupa rumah adat Betawi yaitu tentang kesucian hati (apresiatif, simpati, empati) kepada sesama, kebersihan lingkungan, dan keimanan.

Nilai-nilai filosofi ini tidak hanya terpampang dalam wujud rumah yang menarik tetapi juga diajarkan kepada generasi penerus untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah sudah menyusun peraturan daerah (Perda) untuk melestarikan kebudayaan Betawi, namun jika tidak pernah lagi dibangun rumah-rumah adat niscaya rumah-rumah adat yang lama akan hancur juga. Perlu kiranya dibangun rumah-rumah adat Betawi yang baru dengan kualitas bahan yang baik sebagaimana orang-orang tua kita memilih dan membangun rumahnya dengan teliti dan hati-hati. Kepedulian terhadap hasil karya budaya ini dapat diwujudkan oleh pemerintah dan orang-orang berlebih yang dermawan dan cinta tanah pertiwi ini.

Tulisan ini berisi harapan lestarinya karya budaya bangsa, tidak hanya rumah adat Betawi tetapi juga rumah-rumah adat suku lain. Disamping itu, nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam rumah adat di Indonesia, hasil dan nilai karya budaya bangsa perlu diketahui oleh para generasi bangsa ini. Pengetahuan ini diharapkan dapat menyadarkan mereka (generasi penerus bangsa) akan kekayaan bangsanya sendiri. Bukan sebaliknya, mengagumi budaya bangsa lain melupakan budaya bangsa sendiri. Jika ini terjadi akan membahayakan bangsa ini karena ketika mereka sadar, mereka telah kehilangan semuanya. Hilangnya sebuah bangsa dengan peninggalan hasil budaya akan menjadi sebuah sejarah. Hilangnya sebuah karya budaya bangsa sama dengan hilangnya satu bangsa di bumi.

Dra. Lis Setiawati, M.Pd. adalah dosen tetap pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Terbuka. Tulisan ini disunting oleh Dr. Sulistyani, M.Pd., dosen Universitas Nusantara PGRI Kediri dan anggota PISHI.