Rayakan World Interfaith Harmony Week (WIHW), Peace Leader Indonesia Bersih-Bersih Rumah Ibadah

Berpuluh-puluh pemuda dari lintas komunitas di Kabupaten Jember melakukan kerja bakti membersihkan Tempat Ibadah Tridharma (TITD) Pay Lien San di Dusun Karang Asem, Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember.

Rayakan World Interfaith Harmony Week (WIHW), Peace Leader Indonesia Bersih-Bersih Rumah Ibadah

NUSADAILY.COM - JEMBER - Berpuluh-puluh pemuda dari lintas komunitas di Kabupaten Jember melakukan kerja bakti membersihkan Tempat Ibadah Tridharma (TITD) Pay Lien San di Dusun Karang Asem, Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember. Kegiatan ini mewarnai perayakan World Interfaith Harmony Week (WIHW) yang diperingi tiap tanggal 1-7 Februari. WIHW kali pertama diusulkan oleh Raja Abdullah II dari Yordania pada tahun 2010 dan didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNO).

Kepada Nusadaily.com, Ketua Peace Leader Indonesia, Redy Saputra mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menghilangkan prasangka antar satu kelompok agama dengan kelompok agama yang lain. Di samping itu juga untuk membangun perjumpaan lintas agama, sinergi dan kolaborasi dalam ikut menyuarakan kampanye keberagaman lintas agama di dunia dengan cara-cara yang kreatif dan kerja nyata di masyarakat.

Rata-rata peserta yang hadir dalam kegiatan ini adalah mereka yang belum pernah masuk tempat ibadah orang lain, artinya mereka pertama kali mengalami masuk rumah ibadah selain gereja atau masjid mereka. Di tempat ini mereka mendapatkan penjelasan tentang rumah ibadah Tridharma juga pengenalan tentang Imlek dan fungsi membersihkan patung dan sebagainya.

“Harapan ke depan kegiatan-kegiatan ini banyak direplikasi di berbagai rumah ibadah yang ada di berbagai kota di Indonesia. Saya berharap yang bergabung dalam program ini makin banyak, baik dari kalangan mahasiswa, pelajar, masyarakat umum dan sebagainya. Tujuannya adalah agar mereka juga  mengalami perjumpaan dan melakukan moderasi beragama secara nyata. Ini  dalam rangka pencegahan ekstrimisme dan radikalisme. Berbagai kelompok bisa saling mengenal satu dengan yang lainnya serta tidak saling menghakimi, tidak saling menaruh rasa curiga. Mereka dapat berdialog tentang narasi-narasi agama yang damai dan juga menciptakan rumah ibadah yang ramah anak,” tegas Redy.

Mereka yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain pemuda LDII, Panti Asuhan Kanaan dan sejumlah komunitas yang ada di Kabupaten Jember. Redy menambahkan bawa kegiatan semacam ini sudah dilakukan selama kurang lebih 10 tahun, sejak Peace Leader Indonesia berdiri. Peace Leader adalah  sebuah organisasi anak muda lintas agama dan suku yang memiliki komitmen untuk membangun perjumpaan dan membangun toleransi. Dalam melakukan serangkaian programnya, Peace Leader Indonesia terbuka bekerjasama dengan komunitas dan lembaga manapun yang memiliki visi dan misi yang sama.

Beberapa waktu lalu, Peace Leader Indonesia juga kerjasama dengan Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI). Organisasi profesi yang diketuai oleh Dr. Wadji, M.Pd. ini bersama Peace Leader Indonesia melaksanakan Roadshow Jember-Bondowoso dengan melibatkan banyak komunitas, mulai dari kalangan gereja, pondok pesantren, akademisi, politisi, sampai instansi pemerintah. Acara yang digelar pun sangat ragam, mulai dari edukasi pengolahan sampah, eco enzym, sampai tentang kesadaran hukum. Tujuan yang ingin dicapai jelas, membangun sinergi tanpa batas, tanpa sekat agama dan suku.

Dua komunitas ini bersepakat untuk melakukan kerjasama jangka panjang yang dimulai dari Jawa Timur. Dihubungi terpisah, Dr. Wadji, M.Pd. membenarkan bahwa PISHI dan Peace Leader Indonesia sudah memiliki program bersama yang bersinergi dengan banyak lembaga.

“Kami sepakat bahwa sinergi pemerintah dan masyarakat harus diwujudkan secara maksimal untuk mempercepat penyelesaian sejumlah permasalahan di negeri ini. PISHI dan Peace Leader Indonesia sama-sama memiliki visi dan misi yang sama, terutama masalah kesetaraan dan keadilan sosial. PISHI dan Peace Leader Indonesia siap menerjunkan para relawannya untuk membantu pemikiran dan tenaganya untuk Indonesia yang bersih, toleran dan berkeadilan sosial,” jelas Wadji.(*)