Duh! Warga Antar Desa di Maluku Tenggara Bentrok Rebutan Lahan Adat

Warga Desa Bombay yang mengklaim sebagai kepemilikan lahan adat mendatangi wilayah perbatasan antar desa untuk memasang 'sasi' atau pelarangan aktivitas bagi warga Elath. Namun, saat warga Bombay mendatangi lokasi tersebut sempat diadang warga Elath.

Duh! Warga Antar Desa di Maluku Tenggara Bentrok Rebutan Lahan Adat
ilustrasi bentrok

NUSADAILY.COM – MALUKU – Sabtu (12/11) pagi, bentrok antara warga Desa Bombay dan warga Desa Elath, Kecamatan Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara, memecah kesunyian.

Bentrokan dipicu akibat saling klaim kepemilikan lahan adat di wilayah perbatasan Desa Elath.

Warga Desa Bombay yang mengklaim sebagai kepemilikan lahan adat mendatangi wilayah perbatasan antar desa untuk memasang 'sasi' atau pelarangan aktivitas bagi warga Elath. Namun, saat warga Bombay mendatangi lokasi tersebut sempat diadang warga Elath.

Warga Elath sempat memblokade jalan guna mencegah warga Bombay tidak bisa melanjutkan perjalanan mereka untuk memasang "sasi" atau pelarangan di lokasi lahan adat.

Warga Bombay pun marah dan terjadi bentrokan. Mereka sempat saling serang menggunakan senjata tajam dan melepaskan anak panah di sebuah lorong Desa Wakatran yang berdiri di tengah-tengah antar kedua desa tersebut.

Aparat yang tiba dilokasi sempat mengeluarkan tembakan beberapa kali ke udara guna membubarkan massa. Bentrokan pun meluas hingga ke sebuah lapangan. Mereka saling serang menggunakan parang dan anak panah.

Aparat TNI dan Polri yang melakukan pengamanan sempat meminta massa mundur dan meminta masalah tersebut akan diselesaikan aparat keamanan. Namun massa terus melakukan penyerangan ke dalam sebuah rumah ibadah sehingga polisi kembali melepaskan tembakan ke udara.

"Bu balik sudah, nanti katong kawal, balik sudah, nanti katong kawal, nanti katong kawal,"ujar seorang anggota di sebuah video.

Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Mohamad Roem Ohoirat mengatakan bentrokan dipicu akibat masalah klaim lahan adat antar kedua desa sejak 6 Oktober 2022 lalu.

Ohoirat berkata bentrokan terjadi kala warga Bombay datang memasang "sasi" atau pelarangan aktivitas di lahan adat yang diklaim milik warga Bombay. Namun warga Elath menolak dan memblokade jalan menuju lokasi lahan adat. Pasalnya, mereka juga mengklaim lahan tersebut kepemilikan warga Elath.

Akibatnya, warga Bombay marah dan terjadi bentrokan. Mereka sempat bentrok di sebuah Desa Wakatran namun sempat dihalau aparat dengan melepaskan tembakan ke udara. Ohoirat menuturkan akibat bentrokan tersebut ada beberapa warga luka terkena panah.

Saat ini, kata Ohoirat satu pelaton Brimob dan Sabara dibantu prajurit TNI sudah berada dilokasi bentrok.

"Pagi tadi juga sudah ada tambahan personel dari Brimob dan Polres Maluku Tenggara," ujarnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Sabtu (12/11) siang.(han)