Rabu, Agustus 17, 2022
BerandaLifestyleHealthHati-hati! Diet Yoyo Meningkatkan Risiko Serangan Jantung dan Diabetes

Hati-hati! Diet Yoyo Meningkatkan Risiko Serangan Jantung dan Diabetes

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Semakin banyak penelitian yang menyebutkan bahwa diet yoyo buruk bagi kesehatan. Diet ini menurunkan berat badan dengan cepat, namun tidak bertahan lama berat badan kembali seperti semula.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

BACA JUGA: Awas Para Dieters, Ini Sayuran yang Malah Bikin Gendut

Penelitian menemukan bukti bahwa fluktuasi berat badan yang disebabkan oleh pengurangan dramatis dan peningkatan kalori dapat menyebabkan perubahan fisiologis yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes di kemudian hari.

Dikutip dari cankaoxiaoxi, istilah diet yoyo diciptakan oleh Kelly Brownell dari Univetsitas Yale. Nama ini meminjam dari permainan yoyo karena memiliki kemiripan.

BACA JUGA: Mengenal Diet 1975, Cara Diet Orang Jepang yang Bikin Langsing dan Panjang Umur

Dalam proses diet yoyo pelaku diet pada awalnya akan berhasil menurunkan berat badan, tetapi tidak dapat mempertahankan berat badan dalam jangka panjang. Kemudian akan mulai menambah berat badan lagi. Pelaku diet kemudian mencoba menurunkan berat badan lagi, dan siklus akan terulang – ulang lagi.

Bukti baru berasal dari penelitian pada tikus, dipresentasikan selama Kongres Eksperimental Biologi 2022 di Philadelphia. Eksperimen ini meneliti efek jangka panjang dari diet penurunan berat badan dan pengurangan paksa dalam asupan makanan yang disebabkan oleh kerawanan pangan.

BACA JUGA: 5 Efek Samping Diet Keto, Merusak Bakteri Usus hingga Mual Muntah

Dalam percobaan, para peneliti membagi 16 tikus menjadi dua kelompok. Satu kelompok menerima makanan dalam jumlah normal, dan kelompok lainnya menjalani tiga siklus diet yoyo.

Pada akhir penelitian, para peneliti menilai fungsi jantung dan ginjal pada tikus menggunakan pencitraan resonansi magnetik. Mereka juga melakukan analisis darah untuk menilai sensitivitas insulin, melihat bagaimana tubuh memproses gula.

BACA JUGA: Manfaat Diet Rendah Protein bagi Penderita Ginjal

“Kami menemukan bahwa tikus yang mengalami beberapa siklus penurunan berat badan dan berat badan kembali mengalami penurunan fungsi jantung dan ginjal. Mereka juga memiliki resistensi insulin yang lebih besar, yang mungkin menjadi kontributor diabetes. Meskipun hewan-hewan ini tampak sehat setelah ‘pulih’ dari diet, jantung dan metabolisme mereka tidak sehat,” kata para peneliti.

BACA JUGA: Berat Badan Dinar Candy Naik, Diet Herbal Tolak Sedot Lemak

“Kita perlu melakukan lebih banyak penelitian di bidang ini, tetapi hasil saat ini menunjukkan bahwa semakin ketat diet, semakin buruk hasil kesehatannya. Diet penurunan berat badan harus fokus pada kesehatan jangka panjang,” lanjutnya.(nd3/lna)

BERITA KHUSUS

BERITA TERBARU

Digugat Eks Pengacara Bayar Fee Rp 15 M, Begini Respons Bharada E

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Bharada Richard Eliezer atau Bharada E digugat mantan kuasa hukumnya Deolipa Yumara untuk membayar fee Rp 15 miliar. Gugatan itu...