Kritis dan Bijak Menggunakan Ai

Sebagai seorang pengajar di era digital, pemahaman penggunaan fitiur-fitur Artificial Intelligence (AI) menjadi keharusan. Dosen dan guru  sebaiknya sering melakukan explore fitur-fitur AI dan mempraktikannya, agar lebih familiar terhadap aplikasi AI. Dengan begitu, dapat memiliki sikap kritis, tegas, dan bijak kepada mahasiswa yang menggunakan AI untuk menjawab soal-soal/pertanyaan dari dosen/guru.  Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi dalam menghadapi mahasiswa yang menggunakan fitur AI untuk menjawab pertanyaan dosen.

Kritis dan Bijak Menggunakan Ai

Oleh: Ichi Ahada, M.M, M.Pd 

Dosen Bahasa Inggris FKIP Universitas Mulawarman

 

Sebagai seorang pengajar di era digital, pemahaman penggunaan fitiur-fitur Artificial Intelligence (AI) menjadi keharusan. Dosen dan guru  sebaiknya sering melakukan explore fitur-fitur AI dan mempraktikannya, agar lebih familiar terhadap aplikasi AI. Dengan begitu, dapat memiliki sikap kritis, tegas, dan bijak kepada mahasiswa yang menggunakan AI untuk menjawab soal-soal/pertanyaan dari dosen/guru.  Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi dalam menghadapi mahasiswa yang menggunakan fitur AI untuk menjawab pertanyaan dosen.

Suatu hari, penulis memberikan soal/pertanyaan kepada mahasiswa. Ada beberapa mahasiswa yang meminta izin menggunakan HP untuk memotret soal-soal yang saya tampilkan di TV kelas. Pada awalnya, saya kurang menyadari bahwa dengan memotret soal-soal yang saya tampilkan, mahasiswa dapat menjawab semua pertanyaan dengan mudah. Ternyata, mahasiswa yang sudah menginstal AI photosolver, sangat cepat menjawab semua pertanyaan. Hanya dengan memotret soal kemudian klik “solve” dengan cepat semua soal terjawab. Padahal perkuliahan yang disajikan masih dalam Review Prior Knowledge yang sangat sederhana.

Sebagai dosen, saya tidak patut apabila menyalahkan mahasiswa karena sejatinya AI dibuat untuk memudahkan manusia. Pengalaman ini, menantang saya untuk  menformulasi ulang kontrak perkuliahan, terutama yang berkait dengan kapan saat yang tepat diperbolehkan menggunakan HP. Kejadian tersebut juga membuat saya harus bisa memilah dan memilih soal-soal yang bisa dan yang tidak bisa dikerjakan menggunakan AI.

Saat ini banyak dosen yang sudah mengetahui bahwa mahasiswa menggunakan chatgpt untuk menyelesaikan tugas seperti halnya dosen menggunakannya sebagai assistant. AI memang dapat membantu kita dalam hal efisiensi pekerjaan dalam bidang apapun. AI lebih cepat menyelesaikan tugas, atau ‘sat-set’. Dengan AI kerja menjadi lebih mudah, cepat tidak banyak memakan waktu. Jalan pintas menyelesaikan tugas dengan AI memang sangat mudah dan efisien, namun belum tentu efektif. Kita harus menjelaskan perbedaan bahwa efisien itu tidak selalu efektif, karena efektif berkaitan dengan kuallitas hasil. Kerja AI memang cepat tetapi hasilnya masih bersifat robotik atau masih menggunakan bahasa yang kaku. Jadi AI belum dapat memberikan hasil yang bagus sesuai dengan kriteria dosen.

Begitu mudahnya menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas belajar, sehingga timbul pertanyaan pada saat saya menyampaikan materi seminar tentang aplikasi AI. Apakah AI bisa menggantikan peran dosen dan guru sebagai pengajar? Dalam konteks pengajar, AI dapat menggantikannya. Namun  dalam konteks pendidik, AI tidak bisa menggantikannya. AI hanya bisa membantu melengkapi aktifitas belajar-mengajar, tetapi tidak bisa mengganti peran pendidik, karena mendidik adalah membangun karakter. Membangun karakter jujur, disiplin, tanggung jawab, dan berinegritas hanya dapat dilakukan oleh manusia. Oleh karena itu, mendidik adalah hal yang noble (mulia) yang tidak bisa digantikan oleh robot termasuk AI.

Sebagai pengajar, kita berhak menikmati fasilitas yang diberikan oleh AI, namun sebagai pendidik kita harus mampu memberikan teladan yang baik agar mahasiswa menjadi pribadi yang beradab dan bermoral.

Interaksi dengan mesin AI sifatnya hanya satu arah, yaitu AI menunggu perintah kita. Untuk itu, kita harus mampu menjadi ‘Ironman’ (pelaku utama), sedangkan  AI adalah ‘Jarvis’(pembantunya). Dengan demikian posisi AI hanya sebagai pembantu.  Role’/perannya kita jangan sampai terbalik. Jika perannya dibalik, manusia sebagai pengguna AI akan kehilangan kemanusiaannya, mereka akan menjadi robot.

Fenomena AI yang dapat merobotkan manusia mendorong banyak sekolah di Swedia kembali memberlakukan menulis tangan dan membaca buku. Informasi itu tertulis dalam sebuah di artikel VOA Indonesia. Tampaknya, Pemerintah Swedia tidak mau terlalu jauh membiarkan peserta didik beralih peran menjadi robot. Untuk itu, mereka segera membuat kebijakan untuk menggembalikan fungsi kemanusiaannya pada peserta didik di negaranya. 

Apabila zaman dulu, kita sangat mendambakan kemajuan teknologi termasuk AI, kemungkinan kelak kita akan bosan dengan teknologi AI. Kita akan kembali menghargai kepakaran dosen/atau guru dalam mendidik. Dunia memang selalu berputar. Jadi biarkanlah teknologi itu berkembang dengan pesat karena kemajuan teknologi menunjukkan suksesnya dunia pendidikan. Namun kita harus tetap kritis dan bijak dalam menggunakan teknologi agar kemanusiaan kita tidak tergeser menjadi robot teknologi.

Satu hal yang menarik ketika saya menjadi pembicara dan menggunakan chatgpt, yaitu mahasiswa aware (menyadari) bahwa tampilan chatgpt kami berbeda. Sebagai pengajar saya sudah menggunakan prompt AI. Ketika saya diminta kembali untuk memberikan pelatihan aplikasi  prompt AI, saya jelaskan, bahwa banyak pekerjaan dapat digantikan dengan robot yang dikendalikan AI. AI terus menyempurnakan mesin aplikasinya, seperti  prompt engineer, prompt writer dan lain sebagainya. Jadi kalau tidak bisa menggunakan AI, maka kita akan sangat tertinggal.

Pernah mahasiswa saya memberi pernyataan “Miss, saya masih kurang yakin mengerjakan soal/tugas mengunakan AI, karena ada kesan kalau saya curang/cheating”. Saya tersenyum dan mengatakan “Silahkan merasa seperti itu, itu kembali ke cara pandang masing-masing, namun saya juga harus mengatakan “Anda rugi’ jika tidak menguasai AI”.

Sebagai pengajar, kita tidak melarang mahasiswa menggunakan AI assistant untuk menyelesaikan tugas kuliah. Namun, kita harus memiliki kriteria assestment yang baik dalam penilaian tugas. misalnya relevansi, kreativitas, pemakaian diksi, dan kelengkapan referensi.

Dengan demikian. meskipun menggunakan AI namun tidak asal di-copypaste 100%. Sebab bahasa AI masih sangat kaku  jadi tetap memerlukan sentuhan kreatifitas. Apalagi kalau mahasiswa mendapatkan tugas seperti ‘project’, ‘case dealing’, dan memerlukan ‘further discussion’ atau ‘future research’ yang lebih mendalam.

Dengan kriteria tersebut, mahasiswa dan dosen sama-sama akan menjadi kritis dan bijak. Meskipun dibebaskan memakai AI assistant, dosen harus meminta mahasiswa untuk menjawab pertanyaan disertai referensi yang mendukungnya. Disunting oleh Dr. Umi Salamah, M.Pd, Pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial dan Humaniora Indonesia (PISHI), Dosen Universitas Insan Budi Utomo Malang.