Gelombang Panas Ekstrem Melanda, Warga Miskin Paling Menderita di Bangladesh

Warga miskin di ibu kota Bangladesh, Dhaka, yang paling menderita merasakan panas ekstrem tersebut.

Gelombang Panas Ekstrem Melanda, Warga Miskin Paling Menderita di Bangladesh
Kota Dhaka Bangladesh semakin panas setiap tahun. (Mamunur Rashid/NurPhoto via Getty Images)

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Gelombang panas melanda sejumlah negara di Asia termasuk Bangladesh.

Warga miskin di ibu kota Bangladesh, Dhaka, yang paling menderita merasakan panas ekstrem tersebut.

Nelangsa itu dialami pula dua bocah Dhaka, Mohammad Arif dan Mohammad Arafat saat gelombang panas mencapai puncaknya ketika Bulan Ramadhan lalu. Sepulang sekolah, mereka selalu berteduh dari panas sinar mentari yang menyengat kulit di Taman Ramna Dhaka.

Setelah berteduh Arif yang berusia 12 dan Arafat (10) melanjutkan aktivitas mereka dengan bekerja di dapur mausoleum.

Begitu pula banyak anak-anak tunawisma bersama orang tua mereka yang pengangguran berjongkok di emperan gedung Pengadilan Tinggi Bangladesh sembari menyantap sedikit makanan untuk berbuka puasa.

BACA JUGA : Ini Daftar Negara Asia yang Terpapar Gelombang Panas Ekstrem

"Kami senang datang untuk bermain dan bertemu teman-teman kami di sini," kata bocah lelaki yang datang ke taman Ramna dan Suhrawady di sebelahnya.

Taman-taman itu merupakan lokasi yang mudah diakses oleh semua orang, bukan taman eksklusif yang rimbun dan hijau untuk kelas atas di negara itu.

Taman tersebut seolah menjadi 'oase' penyejuk bagi para warga Dhaka Bangladesh ketika negara itu diterpa gelombang panas menyengat hingga 40 derajat Celsius.

Di sisi lain, taman dan ruang hijau kota-kota di Bangladesh semakin menciut lantaran laju urbanisasi yang amat cepat bahkan di tengah pemanasan global. Kenyataan itu pula yang menambah penderitaan warga miskin di negara itu.

Berdasarkan data pemerintah seperti dikutip dari Japan Times, sekitar 80 persen warga Bangladesh bakal tinggal di kota-kota pada 2041.

Kondisi kian mengkhawatirkan masalah ketersediaan lingkungan yang layak di kota besar seperti Dhaka yang dihuni lebih dari 10 persen populasi keseluruhan negara itu.

Dhaka juga menjadi kota ketujuh yang paling tidak layak huni dalam peringkat global oleh Economist Intelligence Unit pada 2022.

Dalam survei Institut Ekonomi dan Perdamaian, Dhaka menjadi kota keempat menghadapi masalah terbesar karena populasinya yang membludak sehingga berisiko bencana yang tinggi dan hilangnya ruang hijau.

Jumlah orang-orang yang tinggal di wilayah Dhaka Raya meningkat tajam dari 6,6 juta pada 1990 menjadi 23 juta saat ini.

Peneliti postdoctoral dari Australia's University of New South Wales Md Imran Hosen luas area pembangunan Dhaka hingga 67 persen antara 1993 hingga 2020.

Pembangunan itu menutupi dataran rendah, ruang hijau terbuka dan serapan air. Hal itu mengakibatkan kehilangan ruang hijau sebesar 56 persen hanya dalam tiga dekade terakhir.

BACA JUGA : Cuaca di Indonesia Beberapa Hari Terakhir Sangat Panas,...

Bangunan beton dan aspal semakin menyerap panas menciptakan "pulau panas". Kondisi itu menyebabkan temperatur di kota lebih tinggi beberapa derajat Celsius dibandingkan wilayah sekitarnya yang lebih hijau.

Dalam rentang 1993 hingga 2020, temperatur di Dhaka meningkat sebesar 6,43 derajat Celsius atau 0,24 derajat Celsius per tahun berdasarkan studi dari Hosen.

Musim panas tahun lalu, temperatur di Dhaka naik drastis dalam tiga bulan beruntun dengan rata-rata temperatur tertinggi pada Agustus.

Hosen kemudian mengatakan saat ini sekitar 60-70 persen penduduk mengalami stres akibat kegerahan.

Orang-orang miskin yang tinggal di bawah atap seng mengalami penderitaan akibat cuaca panas yang tak bisa ditoleransi. Namun, suhu udara begitu cepat turun pada malam hari. Sementara suhu udara di gedung-gedung bertingkat sedikit sekali mengalami penurunan sehingga menciptakan malam yang panas.(lal)