Wayang dan Makna Spiritualnya

Bulan November menjadi bulan yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Dikatakan istimewa karena di bulan ini aneka peringatan mewarnai aktivitas manusia Indonesia. Dulu kita mengenal bulan November hanya sebagai bulan perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya. Tepatnya tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Namun, kini di bulan November itu pula kita mempunyai hajatan yang juga istimewa yaitu di tanggal 7 November kita mempuyai hajat besar sebagai Hari Wayang Nasional.

Wayang dan Makna Spiritualnya
Pertunjukan Wayang (Foto : Freepick)

Oleh : M. Mudlofar*

Bulan November menjadi bulan yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Dikatakan istimewa karena di bulan ini aneka peringatan mewarnai aktivitas manusia Indonesia. Dulu kita mengenal bulan November hanya sebagai bulan perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya. Tepatnya tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Namun, kini di bulan November itu pula kita mempunyai hajatan yang juga istimewa yaitu di tanggal 7 November kita mempuyai hajat besar sebagai Hari Wayang Nasional.

Hajatan yang satu ini tergolong baru bila dibandingkan dengan keberadaan peringatan Hari Pahlawan. Meskipun demikian, hajatan Hari Wayang Nasional ini terkesan sangat istimewa. Sebab, menyangkut pengakuan dunia atas seni yang lahir dari kreativitas kerohanian bangsa Indonesia. Karena itulah sejak 7 November 1913 UNESCO menetapkan wayang sebagai warisan budaya yang lahir dari Indonesia dan menjadi milik sah bangsa Indonesia.

Wayang adalah budaya rohani. Apa yang diartikulasikan oleh pagelaran bentuk wayang semuanya mencerminkan pola pikir dan pola hati masyarakat pemiliknya. Wayang tidak hanya mempertontonkan seni pertunjukan, akan tetapi sekaligus mengeskpresikan bagaimana aspek spiritual bangsa Indonesia.

Konon, penemu tradisi wayang adalah Sunan Kalijaga. Ia adalah seorang wali sufi penyebar agama Islam di tanah Jawa. Oleh Sunan Kalijaga wayang dijadikan sebagai media untuk menjelaskan bagaimana sejatinya menjadi manusia Jawa. Karena itulah apapun yang termuat di dalam pertunjukan wayang tidaklah bisa dilepaskan dari muatan ajaran Islam Jawa. Secara spesifik berbagai adegan dalam wayang menggambarkan laku kultural sufistik manusia Jawa.

Sedikitnya ada 4 hal atau istilah pewayangan yang mengusung makna simbolis sufistik. Pertama, gamalen yaitu perangkat pertunjukan wayang. Gamelan merupakan simbol dari kehidupan ini yang penuh gemuruh suara dengan aneka peristiwa yang menyertainya. Gemuruh itu ialah suasana yang mau tidak mau harus diikuti oleh manusia. Sebab, memang kehidupan itu penuh dengan gemuruhnya ujian dan cobaan.

Kedua, dalang yaitu gambaran dari Dzat Yang Maha Kuasa, Tuhan, Allah SWT. Dalang adalah pengatur laku berbagai adegan yang dipergelarkan dalam lakon pewayangan. Begitulah Tuhan. Sejatinya Tuhan adalah pemilik kejadian sekaligus pengatur laku berbagai peristiwa yang telah, sedang, dan akan dialami oleh manusia. Dalang memiliki hak prerogratif atas semua lakon dan benda-benda yang terdapat di panggung pertunjukan. Berbagai tokoh yang menyertai pertunjukan wayang semuanya bergantung bagaimana sang dalang mempola dan memperlakukannya. Tiada daya sedikit pun dari tokoh-tokoh itu untuk bertindak atau berbuat. Tokoh-tokoh itu tidak punya daya dan kekuatan apa pun. Semuanya bergantung kemauan (kodrat) dan kehendak (iradat) sang dalang.

Ketiga, wayang yang berarti ‘bayangan’, yang mengusung makna simbolis bahwa sejatinya manusia dalam kehidupan ini hanyalah bayangan saja. Kehidupan yang sejati bukanlah di dunia ini akan tetapi di akhirat kelak. Meskipun demikian, dalam kehidupan bayangan ini seharusnya manusia mengisinya dengan amal-amal yang baik agar nantinya bisa berbuah kehidupan yang abadi. Dalam rangka itu, maka manusia harus bermain dalam “Ma Hyang” (wayang) yang artinya menuju kepada roh spiritual. Sebab, ke sanalah semua makhluk, termasuk manusia, akan kembali.

Keempat, balencong, yaitu alat penerangan yang berada di depan “kelir” pertunjukan wayang. Balencong ini berfungsi untuk menghidupkan bayangan sehingga akan tampak jelas laku tokoh-tokoh yang dipergelarkan oleh dalang. Tanpa balencong maka tentu tidak akan tampak secara jelas dan artistik bebagai adegan pewayangan. Makna simbolis dari balencong ialah cahaya hidup manusia. Berbagai peristiwa dalam gemuruh gamelan yang ditabuh oleh dalang akan dapat diikuti oleh manusia secara benar bila balencong itu bersinar dengan baik. Sinar itu ialah cahaya spiritual, nur ilahi, yang bersemayam di dalam hati sanubari manusia. Kejernihan dan kepekaan hati sanubari, dengan demikian, menentukan kualitas gambar (perilaku, akhlak) yang dimiliki oleh manusia. Bila tiada balencong maka wayang tidak akan bisa terlihat, demikian pula, tanpa nur ilahi manusia takkan bisa menjalankan tugasnya sebagai khalifah dengan baik dan benar.

Uraian keempat hal pokok dalam wayang tersebut menunjukkan bahwa sejatinya wayang merupakan media para sufi untuk mengajari laku sufistik atau tasawuf terhadap murid-muridnya. Pertunjukan wayang terambil dari kreativitas para wali untuk menciptakan kearifan lokal yang bermuatan nilai spiritual yang multidimensi. Wayang, dengan demikian, tidak hanya merupakan seni pertunjukan, akan tetapi juga merupakan media pembelajaran berbasis kesalehan normatiif-sufistik. Sebuah kecerdasan estetika sufistik yang dihasilkan oleh manusia unggul di negeri ini. Mari kita hargai!

Penulis adalah pengurus DPP PISHI dan dosen Universitas Qomaruddin Gresik.

Penyunting : Dr. Risa Triassanti, M.Pd., Universitas PGRI Ronggolawe Tuban