Bahasa adalah Obat

Oleh: M. Mudlofar

Jul 9, 2023 - 17:16
Bahasa adalah Obat

Saat berobat ke rumah sakit, karena sakit tertentu, aneka perasaan mengikuti kita sebagai pasien. Utamanya bagi kita yang kala itu sedang berhubungan dengan pengobatan yang serius. Dokter yang berada di dalam rumah sakit menjadi orang yang paling penting bagi setiap pasien.

Keberadaannya sangat menentukan nasib pasien. Kedatangannya amat ditunggu-tunggu. Arahannya tentang obat atau tentang apa pun yang berhubungan dengan penyakit begitu memperoleh perhatian serius dari pasien.

Tak ada satu pun arahan tentang resep obat yang tidak dituriti. Semuanya dituruti bahkan bila dokter tidak memberikan arahan tertentu, malah pasien menjadi bertanya-tanya dalam hati mengapa dokternya kok tidak memberikan arahan padanya. Sudah sedemikian parahkah penyakitnya, sehingga dokter tak mampu dan tak mau memprediksi jenis obat yang cocok baginya. Begitu seterusnya. Aneka perasaan yang terus menghantui setiap pasien.

Bagi pasien yang pernah menjalani rawat inap, maka tak hanya dokter yang jadi panutan. Sosok tenaga kesehatan (nakes) juga menjadi orang yang amat dibutuhkan. Sejak pagi nakes sudah menemuinya untuk mengontrol tensi darahnya. Tak hanya sekali. Bahkan berulang kali, pagi-siang-malam. Karena itu, nakes menjadi orang yang paling dekat dengan pasien. Bahkan, terkadang lebih dekat daripada keluarga pasien itu sendiri.

Dalam kondisi seperti itu, sikap dan segala perilaku nakes menjadi hal yang tak luput dari perhatian pasien. Bagaimana nakes memperlakukan diri pasien amatlah menentukan bagaimana perasaan dan kondisi psikologisnya.

“Selamat pagi, Pak!”, sapa nakes kepada pasien saat akan mengontrol tensi darahnya di pagi hari.

“Ya, selamat pagi,” jawab pasien.

“Permisi, Pak ya, kita tensi dulu pagi ini untuk mengetahui kondisi Bapak,” lanjut nakes sambil menata peralatan tensi ke arah tangan pasien.

Rupanya tidak hanya kata-kata itu yang dikomunikasikan (sapaan “selamat pagi”) oleh nakes terhadap pasien.

Ia pun menyampaikan beberapa kata atau kalimat-kalimat yang acapkali disampaikan secara bergantian dan kondisional. Misalnya, “bagaimana kondisi Bapak/Ibu hari ini”, “nyenyakkah tidur Bapak/Ibu tadi malam”, “apa yang Bapak/Ibu keluhkan saat ini”?, “kita bersabar, Pak/Bu yaaa”, “kita berdoa Pak/Bu yaaa”, “bagaimana kondisi buang airnya, normalkah!”, “bagaimana makan dan minumnya, sudah bisakah!, “semoga, lekas sembuh Pak/Bu yaaa!”, “Insya Allah, sembuh Pak/Bu!”, dan sebagainya.

Kata-kata atau kalimat-kalimat tersebut diucapkan oleh nakes dalam kondisi pasien yang pikiran dan perasaanya terguncang akibat sakit yang dideritanya. Sapaan dengan kata-kata atau kalimat-kalimat yang bijak dengan diksi yang pas, cocok, sesuai, dan penuh makna seperti itu laksana es yang dikucurkan ke arah tenggorokan yang kehausan. Atau laksana air hujan yang dideraskan di kala kemarau yang panjang.

Sungguh sangat amat menyejukkan dan menyegarkan. Bahkan amat terasa bahwa kata-kata atau kalimat-kalimat itu telah menjadi obat yang mujarab dan ampuh untuk menyembuhkan segala jenis penyakit. Kata-kata atau kalimat-kalimat itu telah menjadi obat terlebih dahulu sebelum obat-obat  lain ditelan.

Mengapa? Sebab, kata-kata dan kelimat-kalimat itu telah menyentuh relung  rasa dan hati yang terdalam bagi pasien. Rasa dan hati adalah muara bagi segala penyakit sekaligus dari sanalah kesembuhan itu akan datang.

Seorang pesien akan merasa bahwa ada orang yang memedulikannya secara tulus dan bahkan berharap secara tulus pula agar ia bisa sembuh normal seperti sedia kala. Ini adalah obat tak berbayar, yang mujarab, meski hanya berupa kata-kata atau kalimat-kalimat.

Bila demikian masalahnya, maka kompetensi  kebahasaan bagi seorang dokter atau nakes menjadi begitu amat penting. Tindakan medis dan pengobatan yang mereka lakukan akan menjadi semakin bermakna manakala didukung dengan komunikasi yang estetis melalui rajutan bahasa yang mengenakkan bagi pasien.

Ini penting. Dan, ini sejalan dengan keberadaan  bahasa dalam bidang kesehatan yaitu sebagai alat komunikasi dalam pelayanan kesehatan. Secara spesifik bahasa juga berperan untuk menyampaikan perasaan, ide, gagasan, dan pengalaman kepada orang lain. Termasuk perasaan antara dokter (nakes) terhadap pasien atau pasien terhadap dokter (nakes). Semoga! (***)

 

M. Mudlofar adalah dosen Universitas Qomaruddin Gresik dan Pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI). Editor: Wadji