Peringatan Hari Buruh: Mengapa Demonstrasi?

Asal mula hari buruh adalah terjadinya konfrontasi dengan kekerasan yang dikenal sebagai kerusuhan Haymarket. Kerusuhan ini terjadi di Amerika Serikat pada tanggal 4 Mei 1886, para buruh menuntut pengurangan jam kerja dengan upah yang lebih layak.

May 15, 2024 - 08:03
Peringatan Hari Buruh: Mengapa Demonstrasi?
Dr. Sulistyani, M.Pd

Oleh: Dr. Sulistyani, M.Pd.

Asal mula hari buruh adalah terjadinya konfrontasi dengan kekerasan yang dikenal sebagai kerusuhan Haymarket. Kerusuhan ini terjadi di Amerika Serikat pada tanggal 4 Mei 1886, para buruh menuntut pengurangan jam kerja dengan upah yang lebih layak. Untuk menghormati para buruh dan mengenang kejadian itu, sebuah federasi internasional organisasi sosialis dan serikat pekerja mendeklarasikan tanggal 1 Mei 1889 sebagai Hari Buruh. Namun demikian, Hari Buruh diperingati di AS pada hari Senin pertama bulan September, bukan pada tanggal 1 Mei.

Grover Cleveland, Presiden Amerika Serikat ke-24, secara resmi mengubah perayaan Hari Buruh AS menjadi hari Senin pertama bulan September setelah Pullman Strike di Amerika Serikat. Pullman adalah kota terbesar di Whitman County. Ada yang berpendapat bahwa keputusan itu diambil untuk mencegah mengingat kerusuhan yang terjadi pada tahun 1886.

Masyarakat Indonesia memperingati Hari Buruh pertama pada tahun 1920. Hal ini sebagai cara untuk menunjukkan dukungan terhadap upaya gerakan buruh untuk mencapai kesetaraan upah dan persamaan hak. Perayaan Hari Buruh sempat dilarang di Indonesia pada masa Orde Baru karena dikaitkan dengan ideologi komunis. Namun, Hari Buruh diperingati setiap tahun setelah sistem baru tersebut runtuh. Kemudian, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan tanggal 1 Mei 2013 sebagai hari libur nasional.

Bagaimana hari buruh diperingati? Hari Buruh, yang juga diperingati di banyak negara lain juga dikenal sebagai May Day atau Labor Day. Hari ini diakui sebagai hari libur resmi di setidaknya 66 negara. Setiap negara mempunyai tradisi berbeda dalam merayakan Hari Buruh.

Hari Buruh diperingati di Inggris, Australia dan Selandia Baru dengan demonstrasi yang menyoroti hak asasi manusia atau masalah kemanusiaan. Setiap Senin keempat di bulan Oktober adalah Hari Buruh di Selandia Baru. Negara-negara lain, seperti Jerman dan Jepang, merayakannya dengan piknik dan pesta bersama dan menggunakan kesempatan tersebut untuk melakukan protes demi hak-hak pekerja.

Perayaan Hari Buruh di Indonesia biasanya melibatkan unjuk rasa dan demonstrasi di  jalanan. Para buruh menyampaikan tuntutan mereka mengenai isu-isu seperti undang-undang ketenagakerjaan, jam kerja, dan upah. Oleh karena itu, perayaan Hari Buruh cukup bervariasi antarnegara dalam hal seluk-beluk dan adat istiadatnya. Namun, tujuan dasarnya selalu sama: untuk menghormati pekerja dan membela hak-hak mereka.

Hari Buruh diperingati karena beberapa alasan. Pertama-tama karena kesadaran akan perjuangan buruh. Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 12 Tahun 1948 yang disahkan oleh pemerintahan Soekarno menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh. Hal ini mengakui tantangan dan keberhasilan yang dihadapi oleh tenaga kerja.

Kedua, ini merupakan momen untuk merenungkan perjuangan masa lalu dan menghormati keberhasilan. Hari Buruh adalah waktu untuk merayakan pencapaian dan menghormati kontribusi yang telah diberikan pekerja terhadap perekonomian dan masyarakat, selain memperingati perjuangan sebelumnya.

Ketiga, mendorong peningkatan produktivitas kerja dan kesejahteraan buruh. Dalam upaya mendongkrak pasar kerja nasional, pemerintah juga mendukung perayaan Hari Buruh. Peringatan ini didukung karena kesejahteraan dan produktivitas pekerja dapat meningkat dalam lingkungan kerja yang damai dan mendukung.

Keempat, ini menjadi kesempatan bagi pekerja, pengusaha, dan pemerintah berkumpul bersama. Perayaan Hari Buruh harus menjadi kekuatan pemersatu bagi pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja dalam menciptakan lingkungan kerja yang adaptif. Penciptaan lingkungan kerja yang dinamis, mendukung, dan damai diperkirakan akan berdampak positif terhadap pertumbuhan kesempatan kerja.

Terakhir, untuk meresapi makna dan sejarah Hari Buruh. Hari Buruh diperingati sebagai unjuk persatuan antarburuh untuk mengenang Kerusuhan Haymarket tahun 1886 di Amerika. Hari Buruh juga merupakan momen penting untuk menutup kesenjangan yang ada antara perusahaan, karyawan, dan pemerintah guna menumbuhkan lingkungan kerja positif yang bermanfaat bagi semua pihak.

Oleh karena itu, Hari Buruh tidak hanya waktu untuk merenungkan masa lalu, tetapi juga untuk mengakui pencapaian, menghargai upaya karyawan, dan meningkatkan produktivitas kerja dan kesejahteraan pekerja.

Lalu, mengapa peringatan hari buruh selalu dilakukan dengan demontrasi? Mengapa tidak musyawarah saja? Secara umum, demonstrasi merupakan salah satu cara untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Masyarakat melakukan demonstrasi untuk memperjuangkan hak-hak tertentu, menyampaikan keinginannya, dan mengungkapkan ketidakpuasan terhadap tindakan pemerintah atau perusahaan. Demonstrasi juga merupakan cara lain untuk mendorong perubahan sosial, politik, atau ekonomi.

Demonstrasi dianggap sebagai hak warga negara untuk menyampaikan pikiran dan keinginannya kepada pemerintah dalam suasana demokratis, sedangkan proses musyawarah melibatkan pemberian seluruh potensi dan kecerdasan seseorang untuk memilih ide yang paling akurat. Karena musyawarah merupakan praktik khas Indonesia dan menumbuhkan persatuan, musyawarah memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat.

Setiap peserta musyawarah mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama untuk menyuarakan pendapatnya dan keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan dan diterima dengan tetap mengutamakan kepentingan moral dan bertindak berdasarkan hati nurani.

Sebenarnya, perundingan dapat menjadi alternatif yang lebih tertib dan damai dibanding demonstrasi ketika membahas masalah dan menyampaikan tujuan daripada mengadakan protes yang dapat memicu ketegangan atau konflik, musyawarah memungkinkan semua pihak mengambil bagian pengambilan keputusan, memperhatikan kepentingan bersama, dan mencapai mufakat.

Namun, penting untuk diingat bahwa setiap demonstrasi atau musyawarah mempunyai konteks dan tujuan yang berbeda. Selain itu, setiap cara mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Demonstrasi sering dipandang sebagai sarana untuk menyuarakan tujuan masyarakat agar didengar oleh khalayak yang dituju, yang dapat mencakup perwakilan pemerintah atau dunia usaha. Kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil oleh masyarakat menjadi alasan terjadinya kegiatan ini dengan harapan untuk dapat dikaji ulang dan ditemukan solusi terbaik.

Di sisi lain, perspektif mengenai efektivitas demonstrasi bisa berbeda-beda. Beberapa orang percaya bahwa demonstrasi adalah alat yang berguna untuk menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan, mendidik masyarakat tentang berbagai bentuk ketidakadilan, memberikan solusi, dan memberikan saran atau nasihat kepada pemerintah. Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa aksi protes tidak efektif, hanya memakan korban jiwa, serta membuang-buang waktu dan tenaga.

Jadi, demonstrasi dapat dipandang sebagai salah satu cara terbaik untuk mengungkapkan kebenaran, tetapi demonstrasi tetap perlu dilakukan dengan cara yang baik secara moral dan masuk akal.

 

Dr. Sulistyani, M.Pd. adalah dosen Universitas Nusantara PGRI Kediri dan Pengurus Pusat Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).

 

Editor: Dr. Indayani, M.Pd., dosen Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dan Pengurus Pusat PISHI.