Tantangan Perguruan Tinggi dalam Menggaet Mahasiswa Baru

Oleh: Prof. Dr. Daniel Ginting

May 17, 2024 - 19:27
Tantangan Perguruan Tinggi dalam Menggaet Mahasiswa Baru

MENDEKATI pertengahan tahun, perguruan tinggi di Indonesia mulai sibuk menjaring mahasiswa baru. Pemerolehan mahasiswa merupakan program penting karena merupakan salah satu komponen pemasukan terbesar untuk mendukung penyelenggaraan PT secara berkesinambungan.

 

Tulisan ini membatasi deskripsinya pada 30 hasil riset yang telah terpublikasi di beberapa platform jurnal nasional dan internasional yang membahas minat calon mahasiswa memilih perguruan tinggi di Asia Tenggara khususnya Indonesia selama periode tahun 2020-2024.  Ada dua hal yang paling sering disebut dalam artikel-artikel imiah tersebut yaitu: reputasi perguruan tinggi dan jaminan peluang karier yang cerah setelah lulus dari perguruan tinggi.

 

Pertama, reputasi perguruan tinggi adalah persepsi masyarakat dan calon mahasiswa terhadap kualitas PT.  Keunggulan akademik seperti status/jenjang akreditasinya adalah salah satu faktor yang membentuk reputasi itu. Hasil akreditasi menyebutkan kualitas dosen (gelar pendidikan, sertifikasi, hasil publikasi, hibah, rekognisi akademik/pembicara di forum seminar, kualitas proses belajar mengajar, sarana dan prasarana penunjang, retensi mahasiswa, program kemahasiswaan, kerjasama, dst.  

 

Selain itu, prestasi mahasiswa dalam memenangkan kompetisi akademik dan non akademik turut membentuk reputasi PT. Hal lain, lulusan, meliputi kualitas dan kuantitas kelulusan (kesesuaian jenis pekerjaan dengan profil lulusan dari prodi saat mendapatkan penempatan kerja, jumlah gaji, kemajuan karier, dan kepuasan pemberi kerja dengan kinerja alumni).

 

Hasil laporan pemeringkatan akreditasi oleh lembaga internasional dan nasional turut membentuk reputasi perguruan tinggi. Beberapa lembaga akreditasi internasional yang terkemuka dalam pendidikan tinggi adalah Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET), Association to Advance Collegiate Schools of Business (AACSB), European Quality Improvement System (EQUIS), Association of MBAs (AMBA), dan The Higher Learning Commission (HLC). ABET fokus pada akreditasi program-program teknik, teknologi, dan rekayasa, sementara AACSB fokus pada akreditasi program bisnis.

 

EQUIS dan AMBA menilai program-program bisnis pada perguruan tinggi di negara-negara di Eropa. HLC memberikan akreditasi pendidikan tinggi di Amerika Serikat. Di dalam negeri, kita menemukan BAN PT dan LAM sebagai lembaga yang mengakreditasi perguruan tinggi dan prodi secara nasional.

 

Laporan perankingan turut membentuk reputasi PT seperti yang dilakukan oleh Ditjen Dikti Kemendikbudristek, Times Higher Education (THE), Webometrics, dan QS World University Ranking (QS WUR). Ditjen Dikti menetapkan standar kualitas pendidikan tinggi nasional melalui penilaian empat aspek: input, proses, output, dan outcome. 

 

THE memberikan ranking perguruan tinggi berdasarkan penelitian, dampak, dan pengajaran, dengan menggunakan 13 indikator yang mencakup pendidikan pengajaran, penelitian, pandangan internasional, dan transfer pengetahuan dan teknologi. Webometrics menggunakan pemeringkatan web perguruan tinggi berdasarkan volume dan konten web serta sitasi publikasi perguruan tinggi. 

 

QS WUR melakukan penilaian berdasarkan reputasi akademik, reputasi lulusan di dunia kerja, rasio dosen dan mahasiswa, sitasi setiap dosen, dan rasio dosen internasional. Intinya, hasil evaluasi ini baik akreditasi maupun pemeringkatan mencerminkan visibilitas dan pengakuan institusi secara global dan nasional yang memengaruhi persepsi calon mahasiswa tentang kualitas pendidikan yang ditawarkan.  

 

Kedua adalah keinginan calon mahasiswa untuk mendapatkan peluang karier yang cerah. Ini bukan hanya soal mendapatkan ijazah, tetapi juga tentang mendapatkan kesempatan nyata di pasar kerja. Tidak ada satu pun orang tua menghabiskan uangnya untuk anak mereka tanpa tujuan yang jelas di masa depan. Sebaliknya, orang tua pasti menginginkan anak mereka berhasil dalam hidupnya dengan pekerjaan yang layak untuk kmenjamin kelangsungan hidup di masa depan. Dalam hal ini, perguruan tinggi yang memiliki catatan dalam menjamin peluang kerja atau kemajuan karier pasca-lulusan menjadi pilihan utama untuk dipilih.

 

Memang reputasi dan jaminan masa depan lulusan adalah faktor penting, tetapi bukanlah satu-satunya. Sebaliknya, para calon mahasiswa memiliki preferensi lain dalam memilih perguruan tinggi, seperti kesesuaian program studi dengan minat akademik dan karier mereka, pengaruh orang tua atau anggota keluarga, pengaruh teman sebaya (word-of-mouth), lokasi (kedekatan dengan tempat tinggal), dan biaya (keterjangkauan keuangan).

 

Di beberapa kasus, banyak calon mahasiswa cenderung memilih perguruan tinggi karena menawarkan program studi yang sesuai dengan minat dan tujuan karier mereka. Minat ini merupakan motivasi intrinsik yang telah dipupuk sejak awal untuk memilih perguruan tinggi tertentu.

 

Pilihan mereka ini biasanya tidak akan menggoyahkan mereka untuk memilih program studi atau PT yang lain. Misalkan, mereka memiliki minat belajar di program studi yang unik seperti Ilmu Pangan Berbasis Insektarium karena tertarik pada masalah pangan global, keberlanjutan, dan penelitian terapan di bidang pertanian. Beberapa kampus memiliki program seperti itu dengan pendekatannya yang inovatif terhadap sumber daya pangan alternatif tersebut.

 

Selanjutnya, orang tua dan anggota keluarga sebagai agen sosial primer sangat berperan dalam memberikan pengaruh kepada anak mereka memilih perguruan tinggi. Jika orang tua atau anggota keluarganya memiliki pandangan positif tentang institusi tersebut maka besar kemungkinan seorang calon mahasiswa mengikuti pandangan orang tua dan memilih perguruan tinggi tersebut. Sebagai contoh, jika orang tua mereka telah melihat kesuksesan lulusan dari universitas tersebut dalam karier mereka, maka besar kemungkinan seorang siswa lebih termotivasi untuk mendaftar di Universitas X, no matter what.

 

Informasi dari teman sebaya atau rekan-rekan sebaya sebagai agen sosial lainnya juga memiliki dampak besar. Teman sebaya adalah individu yang sering memiliki pengalaman langsung dengan institusi pendidikan yang sama, sehingga pandangan mereka dianggap lebih kredibel dan dapat dipercaya oleh calon mahasiswa.

 

Selain itu, penjelasan dari teman sebaya umumnya lebih mudah diterima dan dipahami karena mereka berada dalam lingkungan yang sama dan mungkin memiliki minat, kebutuhan, dan preferensi yang serupa. Misalnya, jika seorang mahasiswa mendengar dari teman sekelasnya bahwa Universitas Y menawarkan pengalaman belajar yang menarik dan fasilitas yang memadai, mereka mungkin cenderung untuk mempertimbangkan universitas tersebut sebagai pilihan mereka. Sebaliknya, jika teman sebaya memberikan pandangan negatif tentang perguruan tinggi tertentu, calon mahasiswa tersebut mungkin akan menghindari institusi tersebut.

 

Lokasi geografis perguruan tinggi juga menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan calon mahasiswa. Beberapa calon mahasiswa mungkin lebih memilih perguruan tinggi yang berdekatan dengan tempat tinggal mereka karena alasan praktis, seperti kenyamanan, biaya transportasi, atau keterikatan dengan lingkungan yang sudah dikenal.

 

Terakhir, keterjangkauan biaya pendidikan juga merupakan pertimbangan utama bagi calon mahasiswa dan keluarga mereka. Mereka cenderung memilih perguruan tinggi yang menawarkan biaya pendidikan yang sesuai dengan kemampuan keuangan mereka atau mencari opsi beasiswa dan bantuan keuangan lainnya.

 

Reputasi yang baik dari sebuah perguruan tinggi ternyata mewakili keinginan sebagian besar dari orang tua dan calon maba untuk dipilih. Para orang tua dan calon maba seolah memiliki trust yang kuat terhadap PT ini karena akan jaminan masa depan putra-putrinya.

 

Namun demikian, tidak ada yang ideal di dunia ini. Pasti ada keterbatasan termasuk meraup semua jumlah calon mahasiswa. Tidak ada PT yang bisa memenuhi semua preferesi stakeholder seperti minat akademik maba akan prodi tertentu telah dibangun sejak awal, pengaruh agen sosial termasuk orang tua, anggota keluarga dan teman sebaya (word-of-mouth) yang positif, lokasi (kedekatan dengan tempat tinggal), dan biaya (keterjangkauan keuangan).

 

Harapan orang tua akan masa depan anak mereka yang dititipkan kepada PT harus diseriusi. Tempat-tempat magang harus dipersiapkan dengan baik sesuai dengan kompetensi yang diajarkan. Kerjasama dengan DUDI harus diekspansi untuk lebih memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa di tempat-tempat yang berbeda, baru dan menantang yang menguji dan menumbuh kembangkan komptensi dan perilaku yang berkarakter. Juga diintensifkan agar DUDI memberikan peluang untuk jaminan pekerjaan bagi lulusan. Jadi, kerjasama tidak hanya berupa lembaran kertas MoU yang tersedia saat visitasi asesor saat akreditasi.

Selamat menggaet mahasiswa.  

 

Prof. Dr. Daniel Ginting adalah dosen Prodi Sastra Inggris, Universitas Ma Chung, dan pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).

Editor: Wadji