Senin, Oktober 25, 2021
BerandaNewsNusantaraPetani Sayur di Timor Tengah Selatan Merugi karena Kesulitan Jual Hasil Panen

Petani Sayur di Timor Tengah Selatan Merugi karena Kesulitan Jual Hasil Panen

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM -SOE – Penutupan pasar mingguan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) untuk memutuskan mata rantai penyebaran covid-19 membawa masalah baru. Karena hasil pertanian tidak bisa dijual ke pasar lagi.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Kelompok Tani Usaha Baru, Desa Tetaf, Kecamatan Kuantana Noven Talan, kepada nusadaily.com Senin (25/5) di SOE.

Noven mengaku kesulitan untuk menjual hasil pertanian akibat penutupan pasar mingguan di kabupaten Timor Tengah Selatan. “Sehingga kami mengalami kerugian,” katanya.

Pasca diputuskan penutupan Pasar Mingguan, menurut Noven hasil tanaman kelompok tani usaha baru selama ini tidak bisa dijual lagi.

Akibatnya sayur mayur yang tidak dijual jadi tua dan terpaksa jadi santapan ternak. Selain itu ada yang dibagikan ke sesama secara cuma-cuma.

“Kami tidak bisa menjual sehingga kami bagikan kepada saudara-saudara yang tidak tergabung dalam kelompok tani,” tambah Noven.

Dia memprediksi petani sayur lain juga mengalami hal serupa. Dengan demikian pemerintah daerah perlu memikirkan nasib petani . “Saya pikir bukan hanya kelompok tani usaha baru yang alami hal ini, tapi pasti petani lain juga merasakan hal sama,” ucapnya.

Menurut Noven, kelompok tani Tunas beranggotakan 25 orang dengan luas lahan usaha sekitar lima hektare yang di tanami sayur kol, pitsai, sawi, wortel dan tomat.

Penutupan Pasar Tidak Salah, Tapi Petani Dirugikan

Dikatakannya, kebijakan menutup pasar tradisional atau pasar mingguan di Kabupaten TTS tidak salah karena ada baiknya juga untuk kebaikan bersama masyarakat. Namun petani sayur mengalami kerugian. “Sebenarnya bukan menolak kebijakan menutup pasar tradisional karena untuk kebaikan bersama. Namun kami petani dirugikan karena tidak bisa menjual hasil pertanian yang ada,” keluhnya.

Ia juga berharap pemerintah memikirkan hal ini. Sehingga petani juga tidak mengalami kerugian.

Noven menambahkan saat ini, hasil dari kelompok tani Usaha Baru yang berupa tanaman sayur sudah tiba waktu untuk panen. “Tapi tidak bisa menjual karena pasar di tutup akibat ancaman virus corona jadi kami merana,” akunya.

Menurut dia, penghasilan menurun karena sayur yang terjual sangat sedikit. Dalam sehari kalau lagi mujur ada warga yang mengunjungi . “Memang ada yang terjual tapi hanya sedikit. Paling banyak Rp 10.000, sedangkan sayur yang ditanam cukup banyak, dan bila dijual hasilnya jutaan rupiah, ” ucapnya.

Noven berharap, pemerintah memikirkan nasib petani dengan kebijakan tertentu. Karena hasil pertanian tidak bisa di jual kepada masyarakat . “Selaku ketua kelompok tani berharap agar pemerintah daerah memikirkan nasib kami. Karena hasil tani tidak bisa dijual dan pada akhirnya rusak. Diperparah lagi ada kelompok tani yang waktu tanam mengambil pinjaman untuk beli pupuk dari koperasi. Sehingga sangat sulit untuk melunasi. Untuk itu pemerintah perlu memikirkan solusi bagi masyarakat,” harapnya.(jef/aka)

- Advertisement -spot_img
Nusa Magz Edisi 46

BERITA POPULAR

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Istri Selingkuh, Suami Bawa Alat Berat Hancurkan Rumah😱##tiktokberita

♬ kau curangi cintaku - Milan indramayu