Mathophobia

Mathophobia juga dikenal dengan mathematic anxiety. Mathophobia adalah kecemasan atau ketakutan terhadap matematika. Mathophobia bisa berupa kecemasan ketika berhadapan dengan soal atau rumus matematika pada semua cabang matematika.

Mathophobia
Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Oleh: Dr. Rahaju, S.Pd., M.Pd.

Mathophobia juga dikenal dengan mathematic anxiety. Mathophobia adalah kecemasan atau ketakutan terhadap matematika. Mathophobia bisa berupa kecemasan ketika berhadapan dengan soal atau rumus matematika pada semua cabang matematika.

Mathophobia dialami oleh banyak siswa. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mathophobia bisa dialami siswa sejak dini. Hampir 50% siswa kelas 1 dan 2 sekolah dasar mengalami mathophobia pada tingkat menengah sampai tinggi.

Seseorang dapat mengalami mathophobia seumur hidup. Hal ini disebabkan penderita mathophobia sulit mengalihkan rasa takut dan kegagalan belajar matematika menjadi perasaan positif. Kegagalan belajar matematika membentuk penolakan secara emosional dan intelektual terhadap matematika.

Gejala Mathophobia

Mengenali gejala mathophobia merupakan hal penting. Siswa, guru, dan orang tua hendaknya mengetahui gejala-gejala mathophobia. Mengenali gejala mathophobia sejak dini dapat membantu untuk mengatasi secara tepat dan cepat.

Banyak siswa yang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami mathophobia. Sebagai contoh, seorang siswa tidak percaya diri terhadap hasil penyelesaian soal yang dilakukannya. Hal ini sering dianggap wajar karena banyak siswa lain yang mengalami hal tersebut. Karena itu, mari kita kenali gejala mathophobia.

Gejala mathophobia dapat berupa perasaan tegang, cemas, takut, atau panik ketika menyelesaikan soal matematika. Bahkan, ketakutan tersebut terjadi sebelum siswa mengetahui soalnya. Yang berkembang dalam pikiran siswa adalah soal matematika pasti sulit sehingga ia sudah panik atau memvonis dirinya tidak mampu menyelesaikannya.

Gejala yang lebih tinggi berupa ketidaknyamanan ketika mengikuti pembelajaran matematika. Hal ini ditandai dengan keengganan siswa untuk terlibat dalam pembelajaran matematika. Matematika dianggap pelajaran yang membosankan dan tidak menarik sehingga siswa menarik diri pada pembelajaran matematika.

Pada tingkat yang lebih tinggi, siswa merasa mengantuk ketika membuka atau hanya melihat buku matematika. Beberapa siswa merasa sakit perut, mual, atau pusing ketika mengikuti pembelajaran matematika. Bahkan, dengan hanya mendengar kata “matematika”, siswa merasa gelisah, berkeringat, atau tidak nyaman.

Hendaknya guru juga mengenali siswa yang mengalami mathophobia. Gejala mathophobia ditunjukkan dengan siswa kurang memperhatikan pembelajaran matematika. Siswa izin keluar kelas dalam waktu yang lama untuk menghindar dari tugas menyelesaikan soal matematika. Siswa yang cepat menyerah atau mengatakan “saya tidak bisa” sebelum mencoba juga merupakan gejala mathophobia.

Gejala mathophobia kadang muncul ketika di rumah. Siswa yang sering buang air ketika akan berangkat ke sekolah harus diwaspadai. Orang tua hendaknya mencari tahu apakah kondisi tersebut merupakan gangguan fisik atau psikis. Jika siswa berkali-kali buang air pada hari yang ada pelajaran matematika, itu merupakan gejala mathophobia.

Penyebab mathophobia

Mengapa seseorang mengalami mathophobia? Mathophobia pada setiap orang dapat disebabkan oleh hal yang berbeda. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penyebab mathophobia adalah orang tua dan guru yang mengalami mathophobia.

Ketika membantu anak menyelesaikan soal matematika, orang tua yang mathophobia secara tidak sengaja menunjukkan bahwa matematika itu sulit, misalnya orang tua tampak kesulitan membantu anak menyelesaikan soal. Secara tidak sengaja orang tua mengatakan “matematika itu sulit lho karena itu kamu giat belajar”. Hal ini menyebabkan siswa juga berpikir bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit.

Guru yang mathophobia biasanya mengajar konsep sama persis dengan isi buku teks. Guru lebih mengandalkan hapalan rumus dan prosedur penyelesaian masalah. Pembelajaran matematika hanya menggunakan metode drill, tanpa penalaran.

Pola pembelajaran di atas akan mengembangkan pemikiran bahwa matematika adalah pelajaran yang membosankan atau tidak menarik. Siswa yang sulit menghapal akan menganggap matematika itu sulit. Prosedur penyelesaian soal yang tetap menyebabkan matematika dianggap sebagai ilmu yang kaku dan mengekang kebebasan berpikir siswa.

Pengalaman belajar juga menjadi penyebab mathophobia. Kegagalan menyelesaikan soal sebelumnya berakibat pada rasa tidak percaya diri dalam menyelesaikan soal selanjutnya. Kegagalan menyelesaikan soal kadang menyisakan rasa malu sehingga menimbulkan kecemasan ketika berhadapan dengan soal matematika.

Dampak mathophobia

Matematika bersifat hierarkis. Pemahaman konsep awal memengaruhi pemahaman konsep selanjutnya. Kesulitan memahami konsep awal berakibat pada kesulitan memahami konsep selanjutnya. Hal ini berpotensi menimbulkan kecemasan yang lebih tinggi ketika memelajari konsep selanjutnya. Karena itu, penyandang mathophobia akan terhambat ketika memelajari konsep selanjutnya atau konsep baru.

Penyandang mathophobia cenderung tidak memerhatikan dan sulit berkonsentrasi pada pembelajaran matematika. Ia sulit beradaptasi dengan hal-hal yang berhubungan dengan matematika. Alam bawah sadarnya mengatakan “matematika sulit, saya pasti tidak bisa”, walaupun belum melihat soalnya.

Pemikiran semacam itu akan terus meningkat sejalan dengan meningkat pertemuan dengan soal matematika. Mereka akan kesulitan menyelesaikan berbagai soal matematika mulai dari yang mudah sampai sulit. Hasil akhirnya adalah kinerja akademik atau prestasi belajar yang buruk.

Kegagalan menyelesaikan soal matematika dapat mengakibatkan rasa rendah diri. Kegagalan demi kegagalan menurunkan rasa percaya diri. Rendahnya kepercayaan diri mengakibatkan penderita mathophobia kesulitan mengingat kembali konsep yang telah dikuasai sebelumnya.

*Anggapan matematika sebagai pelajaran sulit menyebabkan orang tidak menyadari dirinya mengalami mathophobia. Mengenali gejala dan penyebabnya membantu penanganan secara tepat dan cepat. Selain itu, menghindari semakin banyak orang yang mengalami mathophobia.*

Dr. Rahaju, S.Pd., M.Pd. adalah dosen Prodi Pendidikan Matematika, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang. Tulisan ini disunting oleh Dr. Indayani, M.Pd., dosen Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dan pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).