Jumat, Juli 8, 2022
BerandaNewsNusantaraHarga Minyak Goreng Tinggi, Petani Sawit Ogah Remajakan Tanaman Tua

Harga Minyak Goreng Tinggi, Petani Sawit Ogah Remajakan Tanaman Tua

NUSADAILY.COM – PALEMBANG – Petani sawit di Sumatera Selatan relatif menunda peremajaan lahan sawitnya karena tergiur dengan kenaikan harga komoditas tersebut sejak 2021.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Fungsional Analis Prasarana dan Sarana Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan Rudi Arpian di Palembang, Minggu, mengatakan, karena itu juga membuat Pemprov Sumsel sulit mencapai target maksimal untuk program Peremajaan Sawit Rakyat yang dicanangkan Presiden Joko Widodo pada 2017.

BACA JUGA : Minyak Goreng Rp14 Ribu di Ritel Modern Langka

Dari total kuota 13.000 hektare, hanya mampu diserap sekitar 50 persen saja oleh petani, kata Rudi.

Faktor nonteknis, yang mana saat ini petani sedang menikmati tingginya harga sawit menjadi alasan kuat untuk menunda peremajaan lahan. Walau usia tanaman sudah tua atau di atas 25 tahun tapi sejatinya masih menghasilkan meski produktivitas tak sebaik tanaman yang berusia 5-10 tahun.

BACA JUGA : Pemkot Jakpus Gelar Operasi Pasar Minyak Goreng Murah

Harga sawit di tingkat petani kini berkisar Rp3.000 per kilogram, sementara sebelum terjadi ‘bombing komoditas’ sejak 2021 hanya di kisaran Rp1.500 per kilogram. Bahkan saat anjlok pada tahun 2018, sempat di kisaran Rp500 per kilogram.

Petani takut kehilangan momen ini apalagi jika lahan diremajakan maka secara otomatis mereka tidak akan mendapatkan pemasukan dari areal sawitnya.

BACA JUGA : KPPU Endus Praktik Kartel di Balik Harga Minyak Goreng Selangit

Setidaknya dalam masa tiga tahun, lahan sawit yang diremajakan baru bisa dipanen kembali.

Namun, ada sebagian petani di Sumsel yang beruntung karena telah mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat tahap pertama seperti petani di Kabupaten Musi Banyuasin yang mulai menanam pada 2017.

BACA JUGA : Cerita Harga Minyak Goreng Mahal di Negeri Kaya Sawit

Petani di kabupaten itu sudah memanen lahannya sejak pertengahan tahun 2020 sehingga turut merasakan keuntungan berlipat atas kenaikan harga sawit yang sedang terjadi ini.

Di Muba, program PSR terbilang sukses yang menyasar lahan seluas 4.446 hektare yakni tepatnya di Kecamatan Sungai Lilin.

BACA JUGA : Pernah 10 Kali Gagal Nikah, Akhirnya Rizal Djibran akan Lepas Masa Lajang

Aditya Wibihafsoro (33), petani sawit di Desa Sidomulyo Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muaraenim, Sumatera Selatan, mengatakan dirinya bersukacita karena tak lama lagi lahan sawit seluas satu hektare dapat dipanen.

Ia yang mengikuti program PSR bersama puluhan petani sawit di desanya pada 2019 diperkirakan akan memanen Tandan Buah Segar kelapa sawit pada pertengahan 2022.

“Sekitar Juli sudah bisa panen, bibit yang baru ini dua tahun sudah bisa panen tidak mesti tunggu tiga tahun,” kata dia.(lal)

BERITA KHUSUS

Sampaikan LPJ APBD 2021, Gus Ipul: Jadi Motivasi Tingkatkan Transparansi dan Akuntabilitas Kinerja Keuangan

NUSADAILY.COM – KOTA PASURUAN – DPRD Kota Pasuruan menggelar Rapat Paripurna I dengan agenda Penyampaian Nota Keuangan Raperda tentang Pertanggungjawaban (LPJ) Pelaksanaan APBD Kota...

BERITA TERBARU

Chelsea Tawar Cristiano Ronaldo Rp 251 Miliar, MU Segera Beri Jawaban

NUSADAILY.COM - LONDON - Kabar terbaru dari situasi Cristiano Ronaldo yang rumornya mau tinggalkan Manchester United. Chelsea disebut akan tawarkan harga 14 juta Pounds...