IDAI Laporkan 131 Anak RI Kena Gangguan Ginjal Misterius, Penyebab Belum Diketahui

Kasus gagal ginjal akut menyerang 131 anak di Indonesia. Adapun penyebabnya dari penyakit tersebut masih belum diketahui

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) temukan kasus gagal ginjal akut yang menyerang 131 anak di Indonesia. Adapun penyebabnya dari penyakit tersebut masih belum diketahui sampai saat ini.

"Masih merupakan hal yang perlu terus kita dalami seperti apa," tutur Ketua Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso dalam konferensi pers, Selasa (11/10/2022).

BACA JUGA: Begini Cara Mudah Hilangkan Bau Mulut Tak Sedap

Berikut sebaran laporan kasus, gejala, hingga penanganannya yang dilakukan terkait gangguan ginjal misterius.

1. Sebaran Kasus Gangguan Ginjal Misterius

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nefrologi IDAI dr Eka Laksmi Hidayati, SpA(K) mengungkapkan ada 14 provinsi yang sudah melaporkan kasus gagal ginjal akut misterius tersebut, di antaranya:

  • Jakarta
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • Banten
  • Bali
  • Kalimantan Timur
  • Kalimantan Selatan
  • Sulawesi Selatan
  • Aceh
  • Sumatera Barat
  • Jambi
  • Kepri
  • Papua Barat
  • NTT

"Ada 14 provinsi yang sudah melapor (kasus gagal ginjal akut misterius)," tuturnya.

dr Eka juga menjelaskan, pasien gagal ginjal akut misterius kebanyakan diidap oleh anak berusia di bawah lima tahun (balita). Namun, ada juga yang mencapai usia delapan tahun.

2. Gejala Gangguan Ginjal Misterius

dr Eka juga menjabarkan sejumlah gejala pada anak dengan gangguan ginjal misterius. Menurutnya, gejala awal yang muncul dapat berupa infeksi seperti batuk-pilek.

BACA JUGA : Studi: Bau Mulut Dapat Disebabkan oleh Infeksi Helicobacter Pylori

Pada dasarnya, infeksi tersebut umumnya tak tergolong berat dan seharusnya tak berpotensi memicu gangguan ginjal akut. Namun pada kasus-kasus ini, anak mengalami perburukan gejala berupa gangguan buang air kecil hanya dalam hitungan tiga hingga lima hari.

"Diawali dengan gejala infeksi seperti batuk-pilek, atau diare dan muntah. Infeksi tersebut tidak berat. Bukan tipikal infeksi yang kemudian harusnya menyebabkan AKI secara teoritis kami pelajari di kedokteran. Itulah yang membuat kami heran," terang dr Eka.

"Dia hanya beberapa hari timbul diare atau muntah, kemudian demam, kemudian dalam tiga sampai lima hari mendadak tidak ada urine-nya. Jadi tidak bisa buang air kecil, betul-betul hilang sama sekali buang air kecilnya. Jadi anak-anak ini hampir semuanya datang dengan keluhan tidak buang air kecil, atau buang air kecilnya sangat sedikit," sambungnya.

3. Penanganan Gangguan Ginjal Misterius

Penanganan yang dilakukan terhadap pasien gangguan ginjal akut misterius tergantung dari kondisinya. Menurut dr Eka, apabila pasien tersebut tidak memproduksi urine dan menjalani terapi obat, kemudian hasil terapi tersebut membuat produksi urinenya ada lagi, maka tak perlu menjalani terapi cuci darah.

"Untuk pasien seperti ini artinya kami hanya memberikan pengobatan konservatif tanpa terapi cuci darah," terangnya.
Namun bagi pasien yang sudah menjalani terapi obat namun tetap tak ada urine, maka penanganan yang dilakukan berupa cuci darah hingga plasma exchange atau transfusi tukar.

"Tetapi untuk pasien yang sudah berikan obat kemudian tetap tidak ada urine, maka kami akan lakukan cuci darah, hemodialisis atau peritoneal dialisis (cuci darah dengan mesin) atau melalui selaput perutnya dari pasien itu sendiri. Atau metode lain yang advanced misalnya dialisis continues, dan kami juga melakukan plasma exchange atau tranfusi tukar," lanjutnya lagi.

4. Gangguan Ginjal Di-cover BPJS Kesehatan?

Pihak BPJS Kesehatan menyebut bakal mengcover pembiayaan pengobatan pasien. Dengan syarat, pasien anak anak tersebut betul-betul terindikasi secara medis, sebagaimana prosedur yang ditetapkan BPJS Kesehatan.

"Anak-anak terutama terkena ginjal, gagal ginjal, (harus) hemodialisa. Tentu sepanjang terindikasi medis, BPJS akan mengcover. Sepanjang sesuai dengan prosedur yang sudah kita buat," ungkap Direktur Utama BPJS Kesehatan Prof Ghufron Mukti dalam media workshop BPJS Kesehatan 2022, Bali, Rabu (12/10/2022).

"Jadi BPJS siap untuk membayari dan menjamin untuk penyakit misterius termasuk gagal ginjal sepanjang indikasi medis, tidak mengarang-ngarang sendiri," sambungnya. (ros)