Gosip Digital Chat GPT

Chat GPT menjadi trend tidak hanya di kalangan akademisi, seperti guru/dosen atau siswa/mahasiswa, tetapi kini juga trend di kalangan umum. Hampir semua apa yang kita tanyakan ke Chat GPT akan dengan cepat direspon. Chat GPT merespon dengan menampilkan jawaban berdasarkan pola yang telah ada di database internet.

Gosip Digital Chat GPT
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

 

Oleh:

Ahsan Muafa S.T., M.Pd.

 

Chat GPT menjadi trend tidak hanya di kalangan akademisi, seperti guru/dosen atau siswa/mahasiswa, tetapi kini juga trend di kalangan umum. Hampir semua apa yang kita tanyakan ke Chat GPT akan dengan cepat direspon. Chat GPT merespon dengan menampilkan jawaban berdasarkan pola yang telah ada di database internet.

Saat ini, chat GPT begitu powerfull membantu kita menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi. Bagai dewa penyelamat, hampir semua permasalahan yang kita miliki bisa segera mendapatkan penyelesaian. Tidak hanya jawaban singkat, bahkan mendapatkan jawaban lengkap sesuai dengan topik yang dibahas.

Chat GPT merupakan model bahasa alami yang dilatih oleh Open AI dan beroperasi dengan teknik transformer. Teknik ini memungkinkan untuk memahami urutan kata yang panjang dan kompleks. Model ini dilatih dengan menggunakan jutaan atau bahkan miliaran kata dan frasa yang diambil dari korpus teks besar seperti wikipedia atau twitter.

Meskipun secara umum performa Chat GPT memuaskan, ada kelemahan yang perlu diperhatikan. Model bahasanya cenderung bias. Respon yang dihasilkan tidak cocok untuk kebutuhan pengguna yang berbeda. Kelemahan ini bisa diatasi dengan fine-tuning dan data argmentation untuk situasi yang lebih kompleks.

Bila mengacu pada cara kerja yang mengandalkan database, yang perlu dipertanyakan adalah kebenaran informasi pada database yang telah dibangun. Belum pernah ada piranti yang memantau kebenaran informasi yang tersaji di internet. Yang ada justru perang opini untuk mempertahankan pendapat masing-masing.

Melihat kenyataan tersebut, tulisan yang disajikan  oleh chat GPT harus ditelaah kembali. Seyogyanya, kita tidak langsung percaya begitu saja. Perlu ada cross check.  Apa yang disajikan oleh chat GPT perlu divalidasi kebenarannya karena sangat mungkin terjadi kesalahan. Di sini, fungsi manusia sebagai makhluk yang mampu berpikir sangat diharapkan agar informasi yang didapatkan tidak salah.

Kesalahan yang sangat mungkin terjadi adalah karena data base berasal dari tulisan bebas. Sangat mungkin tulisan dengan opini tertentu menjadi sumber kesalahan. Bayangkan bila tulisan mengandung unsur politis. Informasi yang tersedia di internet secara umum menyudutkan sehingga orang yang menulis sangat tendensius dalam menuangkan opini.

Sebagai contoh, tulisan opini yang mengandung unsur politis. Ketika tulisan bernuansa politis dan tendensius disebarkan oleh simpatisan, yang terjadi adalah internet dipenuhi informasi sesuai opini mereka. Bukan lagi fakta yang bisa dipertanggungjawabkan. Internet akan dipenuhi informasi yang sangat mungkin tidak benar, tetapi dianggap benar oleh orang di lingkarannya. Semua akan merujuk pada kebenaran yang dibangun berdasarkan opini semata.

Bila chat GPT diminta untuk menyajikan satu topik, chat GPT akan merujuk pada informasi tentang topik yang sejenis. Topik yang ditemukan chat GPT merupakan hasil opini publik yang belum tentu mengandung informasi yang benar. Kebenaran dibangun dari opini tertentu di luar fakta. Nilai kebenaran hanya dibangun dari banyaknya pola informasi yang terekam sebagai database.

Dengan demikian, informasi chat GPT masih bersifat nisbi. Kebenaran yang hanya terlihat di permukaan. Kebenaran yang perlu dicross check kembali. Kita harus bijak menyikapi informasi yang ditampilkan. Bukan tidak mungkin informasi yang muncul merupakan informasi yang berpola dari database opini yang sengaja dibangun. Bila hal ini dibiarkan, nilai kebenaran hanya merupakan kesepakatan opini. Bukan merupakan kebenaran sejati.

Opini akan menjadi sebuah nilai kebenaran tanpa ada proses cross check. Bila banyak yang membenarkan, informasi dianggap benar, padahal pada kenyataannya salah. Demikian pula sebaliknya. Bila banyak yang beropini salah terhadap sesuatu hal, opini tersebut dianggap salah, meskipun pada kenyataannya opini tersebut benar.

  Bagaimana kita menyikapinya? Seyogyanya sebagai insan manusia dengan kemampuan berpikir, kita boleh saja memanfaatkan chat GPT tersebut. Namun, harus tetap diingat bahwa informasi yang dihasilkan chat GPT merupakan informasi awal yang belum tentu mengandung kebenaran sejati. Kita harus menanggap informasi ini hanya sebatas informasi awal. Hanya sekadar goysip digital yang perlu ditindaklanjuti dan menelusuri kebenarannya.  

Dengan menganggap sebagai gosip digital, segala sesuatu gosip perlu disandingkan dengan akal sehat kita. Perlu adanya judgement logika dan counter dengan kepercayaan dan pengalaman hidup sebagai awal mengetahui nilai kebenarannya. Gunakan hati dan pikiran jenih untuk memaknai kebenaran sehingga informasi yang disajikan adalah sebuah kebenaran dan patut disebarkan bila kita ingin menyebarkan kembali informasi yang didapatkan dari chat GPT.

 

Ahsan Muafa S.T., M.Pd. adalah dosen Prodi Teknik Komputer, Fakultas Teknik, Universitas Maarif Hasyim Latif Sidoarjo. Tulisan ini disunting oleh Dr. Indayani, M.Pd., dosen PBI, FISH, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dan pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).