Data, Gimana?

Tiba di POSKO KKN siang itu memberikan kesan, sekali lagi, kami adalah “orang kampus” yang mampu apa saja. Mampu berpikir, mampu mengajari ilmu baru, mampu secara finansial, dan dari golongan masyarakat level atas. Alammmaaakkkk … asumsi-asumsi ini ternyata belum terkikis. Percuma menjelaskan dan meyakinkan penduduk, toh, mereka tidak akan percaya posisi kami, yang sedang belajar mengabdi untuk negeri.

Data, Gimana?
Ilustrasi (itnews)

Oleh: Lusia Kristiasih Dwi Purnomosasi, M.A. 

Tiba di POSKO KKN siang itu memberikan kesan, sekali lagi, kami adalah “orang kampus” yang mampu apa saja. Mampu berpikir, mampu mengajari ilmu baru, mampu secara finansial, dan dari golongan masyarakat level atas. Alammmaaakkkk … asumsi-asumsi ini ternyata belum terkikis. Percuma menjelaskan dan meyakinkan penduduk, toh, mereka tidak akan percaya posisi kami, yang sedang belajar mengabdi untuk negeri.

Dan … jagongan (mengobrol saat santai) siang itu mengalir tanpa plot tentang Mbah Lurah Dongkol (mantan), kekayaan alam desa, posyandu, dan kegiatan senam lansia. Tentang sawah juga dan kesulitan hidup yang dihadapi sehari-hari. Lalu, tentang BLT.

Berkeluh kesah Bu Sumini (bukan nama sebenarnya) tentang hasil sawahnya yang tidak bisa diandalkan.

“Yang paling susah itu, ya, petani seperti saya. BLT nggak dapat, hasil sawah nggak bisa ditabung. Sekarang, gini. Pupuk (saya lupa jenis yang disebutkannya, yang saya ingat ada tiga jenis pupuk) di drop untuk bantuan para petani. Pupuk itu hanya cukup satu dua bulan saja, nggak sampai proses selesai. Selanjutnya, saya mesti beli sendiri yang harganya lumayan tinggi. Hidupnya petani nggak pernah bisa sejahtera dengan hasil taninya.

Banyak yang gagal panen, termasuk saya karena hama keong. Kalau nggak gitu, ya, tikus. Gropyokan (metode memburu tikus dengan asap atau rame-rame mengejar tikus) sudah nggak usum (tidak musim). Pakai setrum sekarang. Lha, itu, makan korban. Pak Paidi yang terakhir meninggal.

Kan, biasanya, mertuanya bertugas memutus aliran listrik di pagi hari. Hari itu mertuanya lupa. Pak Paidi pingin liat hasil nyetrum semalam gimana. Dia menginjak kabel dan … musibah terjadi. Ini sudah ke sekian kalinya, lho. Ketiga kalau nggak salah. Banyak korban.

Resikonya petani kecil, Mbaaakkk … kondisinya pas-pasan bahkan ngenes …”. Wajah Bu Sumini terlihat sendu.

“Sebenarnya hidup keseharian saya itu, ya, tidak banyak berbeda dengan mereka yang menerima bantuan dari pemerintah. Cuma karena saya terdaftar sebagai warga yang punya sawah, saya nggak dapat BLT.

Saya heran, orang-orang yang hidupnya nggak kekurangan, kok, dapat BLT. Gitu, ya, diterima aja (ekspresi Bu Sumini menyiratkan keheranan). Gimana nggak diterima wong bantuan berasnya tiga bulan sekali, sembako, belum lagi uang tunai (Bu Sumini mencari logika penerima BLT). Lihat orang-orang pada terima, kok, ati saya terus cemburu. Enaaakkknyaaa … bawa karungan, kardusan, tiap bulan trima bantuan. Lama-lama, ya, sakit dan sedih ati saya.

Saya pernah mempertanyakan keadaan ini ke Kasun, tapi, ya …, tinggal laporan. Katanya datanya sudah diperbaharui, nyatanya yang namanya muncul dapat bantuan, ya, orang-orang itu saja. Nggak ada perubahan. Katanya data sudah dikirim, tapi wong turunnya data sama dengan yang lalu, mau gimana lagi.

Yahhh … apa kata Gusti Allah saja, Mbak … memang rejekinya diparingi (diberi) segini, ya, terima saja.” Bu Sumini mengakhiri keluh kesahnya, menghibur diri dengan pandangan mata penuh kecewa mendalam.

Benar sekali yang dikatakan Bu Sumini tentang orang-orang yang merasa dapat rezeki nomplok dengan BLT. Tersebutlah Pak Bambang (bukan nama sebenarnya juga) penerima bantuan tetap. Terakhir rumahnya direnovasi ditambah AC, keramik, dan garasi mobil. Maklumlah anak-anak beliau sudah sukses dengan kariernya. Lalu, Pak RT memutuskan untuk mencoret nama beliau dari daftar penerima bantuan. Apa yang terjadi? Beliau komplain dan tetap tidak mau namanya dihilangkan dari daftar. Pak RT mempunyai argumen kuat sebab melihat perubahan kesejahteraan kehidupan Pak Bambang. Lagi pula Pak Bambang adalah imam dan penceramah di majelis-majelis, meskipun karier itu dijalaninya beberapa tahun terakhir ini. Di mana solidaritas dan kesadaran serta rasa malunya terhadap tetangga beliau yang masih belum se-sejahtera keseharian beliau? Status sosialnya pemuka agama, tetapi praktik hidupnya masih tidak mau tahu diri dan satru (mendiamkan) Pak RT. Kabar terakhir, tetangga kanan-kirinya juga disatru. Berat ini!!!

“Lha, mbok, orang-orang itu menyadari kalo dirinya sudah masuk kategori mampu, bantuan itu diberikan pada tetangga yang lebih membutuhkan?! Mbok, ya, semua fasilitas negara dengan label “subsidi” mulai dilepas?! Mbak, yang dosen ini, jangan-jangan masih pake tabung gas melon?! Atau masih maksa ngisi pertalite untuk mobilnya?! Masak nggak malu hidup dengan bantuan teruuusss?!”

Saya jadi sasaran kekecewaan Bu Sumini. Luapkan saja, Bu Sum … siapa tahu angin membawa suara ibu sampai di meja pejabat baik hati. Tertawa kami pun lepas, meskipun sumbang…

 

Lusia Kristiasih Dwi Purnomosasi, M.A. adalah dosen Universitas PGRI Madiun dan pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI). Tulisan ini disunting oleh Dr. Indayani, M.Pd., dosen Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dan pengurus PISHI.(***)