China Bantah Tuduhan WHO Manipulasi Data Kematian Covid-19

Dia berujar dua hari yang lalu China berkomunikasi dengan WHO untuk melakukan diskusi teknis. Saat ini pun, kata Liu, para ilmuwan China "sedang bekerja dengan WHO untuk melakukan diskusi lebih lanjut tentang data (Covid-19)."

China Bantah Tuduhan WHO Manipulasi Data Kematian Covid-19
China bantah tuduhan WHO memanipulasi angka Covid-19 di negara itu. (REUTERS/STAFF)

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Kedutaan Besar China di Washington membantah tuduhan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) yang menyebut Beijing memanipulasi data jumlah kematian akibat Covid-19 di negara itu.

Juru bicara Kedutaan Besar Beijing di Washington, Liu Pengyu, menegaskan China selama ini selalu membagikan informasi dan data "secara bertanggung jawab" kepada global.

"China selalu membagikan informasi dan data secara bertanggung jawab kepada komunitas internasional," kata Liu dalam jumpa pers, seperti dikutip South China Morning Post, Jumat (6/1).

"Bulan lalu kami berhubungan dua kali (dengan WHO)," tutur Liu.

Dia berujar dua hari yang lalu China berkomunikasi dengan WHO untuk melakukan diskusi teknis. Saat ini pun, kata Liu, para ilmuwan China "sedang bekerja dengan WHO untuk melakukan diskusi lebih lanjut tentang data (Covid-19)."

BACA JUGA : Sudah 14 Negara Perketat Aturan COVID-19 Pelancong China,...

Lebih lanjut, Liu juga mengakui bahwa kasus Covid-19 di China belakangan tengah meroket. Namun begitu, menurutnya tingkat kasus keparahan dan kematian di China secara global adalah yang terendah.

"Kami telah melihat peningkatan pesat dalam kasus Covid-19 baru-baru ini. Namun, secara global, China masih memiliki tingkat kasus akut dan kematian terendah," ujarnya.

"Lonjakan infeksi di China bukanlah kasus luar biasa dibanding tempat lain di dunia."

WHO sebelumnya curiga China memanipulasi data soal angka kematian akibat Covid-19 di negara tersebut. Direktur Kedaruratan WHO, Michael Ryan mengatakan Beijing tak merilis data lengkap sehingga dia yakin data yang diberikan tak mewakili angka sesungguhnya.

"Kami tak mendapat data lengkap. Kami yakin jumlah saat ini yang dirilis China kurang mewakili dampak sebenarnya dari penyakit ini [Covid-19}," kata , kepada reporter Rabu (4/1), seperti dikutip AFP.

"Dalam hal ini data rawat inap di rumah sakit, jumlah pasien di ICU, dan terutama kematian."

Ryan lalu menyoroti perubahan definisi Beijing soal kematian yang hanya menghitung kasus kematian imbas Covid-19 bagi pasien yang mengalami masalah pernapasan.

"Ini definisi yang sangat sempit," ujar petinggi WHO itu.

BACA JUGA : Tahun 2023 di Stop Jokowi, Puluhan Tahun Ekspor Nikel RI...

Ryan juga menekankan bahwa memiliki data yang akurat merupakan hal yang penting. Sehingga penyeberan virus dan dampak bisa ditinjau dan diantisipasi.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, telah menggelar pertemuan guna membahas situasi di Negeri Tirai Bambu.

"Kami meminta China untuk [memberikan] data rawat inap dan kematian yang lebih cepat, rutin, dan andal, serta sequencing yang lebih komprehensif," kata Ghebreyesus.

China beberapa waktu terakhir memang tengah mengalami 'tsunami Covid-19'. Menurut catatan rapat badan kesehatan yang bocor ke media, pada 20 hari pertama Desember setidaknya 250 juta penduduk China diduga terinfeksi virus corona.

Namun, Komisi Kesehatan Nasional (National Health Commission/NHC) merilis angka berbeda. Menurut mereka, selama 20 hari pertama di Desember jumlah kasus di China tercatat 62.592 kasus.(lal)