Ini Penyebab Mayoritas Korban Tewas Tragedi Itaewon Perempuan

"Kekuatan untuk melawan tekanan bagi perempuan umumnya lebih lemah daripada laki-laki, bersama dengan kemampuan untuk diresusitasi, jadi mungkin itu sebabnya ada lebih banyak korban perempuan," kata profesor pencegahan kebakaran dan bencana di Universitas Soongsil Cyber, Park Jae Sung, seperti dikutip Korea Herald.

Ini Penyebab Mayoritas Korban Tewas Tragedi Itaewon Perempuan

NUSADAILY.COM – SEOUL - Korban tewas dalam tragedi Halloween di distrik Itaewon, Korea Selatan, mencapai 156 jiwa per Selasa (1/11).

Dari angka itu, 100 di antaranya merupakan perempuan. Mengapa jumlah korban lebih banyak perempuan?

Kesenjangan gender yang signifikan membuat banyak orang bertanya-tanya kecelakaan itu lebih banyak korban perempuan daripada laki-laki.

Rasio gender di kerumunan Halloween saat data kematian ini muncul masih belum jelas. Namun, sejumlah ahli medis mengatakan mereka dengan kerangka tubuh yang lebih kecil dan kekuatan fisik yang lebih rentan terhadap cedera di situasi kerumunan besar.

Mereka yang secara fisik lebih lemah dianggap bisa menjadi korban saat orang terperangkap dalam kerumunan. Di situasi ini orang membutuhkan oksigen, dan untuk bisa bernapas perlu gerakan konstan dari otot pernapasan serta diafragma.

"Kekuatan untuk melawan tekanan bagi perempuan umumnya lebih lemah daripada laki-laki, bersama dengan kemampuan untuk diresusitasi, jadi mungkin itu sebabnya ada lebih banyak korban perempuan," kata profesor pencegahan kebakaran dan bencana di Universitas Soongsil Cyber, Park Jae Sung, seperti dikutip Korea Herald.

Orang secara naluriah menyilangkan tangan mereka untuk membuat ruang bernapas saat daerah dada mereka di bawah tekanan, demikian menurut Profesor di Asan Medical Center, Kim Won-young.

Tindakan tersebut akan lebih sulit dilakukan bagi orang yang lebih lemah di tengah keramaian.

Sementara itu, profesor ilmu kerumunan dari University of Suffolk di Inggris selatan, G. Keith Still, mengatakan umumnya perempuan memiliki kerangka lebih kecil daripada laki-laki.

Namun, para perempuan ini memiliki massa tubuh lebih banyak di dada bagian atas.

"Jika ada tekanan di sana, ada lebih banyak massa yang mendorong ke dalam, lebih merugikan bagi perempuan," ungkap Still.

Ia juga menggarisbawahi laki-laki yang memiliki kekuatan tubuh bagian atas yang lebih besar akan bisa keluar dari situasi semacam itu.

Menurut National Health Institute Service, rata-rata laki-laki Korea Selatan memiliki tinggi 170,6 sentimeter dan berat 72,7 kilogram.

Sementara itu, rata-rata perempuan di negara ini memiliki tinggi 157,1 sentimeter dan berat 57,8 kilogram.

Beberapa saksi mata melihat sejumlah laki-laki berhasil melarikan diri dari kerumunan ke toko terdekat, sementara perempuan tak bisa melakukannya.

Pengamat lain menilai sebagian besar kematian tampaknya disebabkan serangan jantung karena asfiksia atau kekurangan oksigen dalam tubuh.

Sederhananya, orang-orang mati lemas, kekurangan kadar oksigen, sehingga mereka tak bisa bernapas.

"Ketika [petugas penyelamat] berusaha menyelamatkan, sebagian besar [korban] tidak responsif terhadap CPR, mati lemas," kata profesor di Rumah Sakit Universitas Nasional Seoul, Hong Ki Jong.

Ia menilai saat itu, banyak yang sudah menderita kerusakan otak karena asfiksia, dan tindakan darurat memiliki efek terbatas.

Waktu yang tepat melakukan pertolongan pertama terhadap serangan jantung adalah dalam lima menit pertama, setelah itu terjadi kerusakan otak.

Setelah 10 menit, kerusakan menjadi permanen. Dalam kasus tragedi Itaewon, waktu kritis telah berlalu bagi sebagian korban karena butuh beberapa menit untuk mengeluarkan mereka dari kerumunan.(han)