Pertarungan Capres Bolsonaro vs Lula di Brasil dan Nasib Hutan Amazon ke Depan

Pilpres kali ini dinilai juga bakal berpengaruh pada nasib hutan Amazon sebagai salah satu paru-paru dunia. Seperti diketahui, Brasil akan menentukan presiden terpilih Minggu (30/10).

Pertarungan Capres Bolsonaro vs Lula di Brasil dan Nasib Hutan Amazon ke Depan
Kandidat Capres Bolsonaro x Lula (Source: Jornal O Popular)

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Dua kandidat Capres Barsil, Ignacio Lula Da Silva yang pernah menjabat sebagai presiden antara 2003-2010, dengan presiden petahana Jair Bolsonaro yang memerintah sejak 2019.

Pilpres kali ini dinilai juga bakal berpengaruh pada nasib hutan Amazon sebagai salah satu paru-paru dunia. Seperti diketahui, Brasil akan menentukan presiden terpilih Minggu (30/10).

Lula yang jauh lebih diunggulkan memperoleh suara lebih besar pada pilpres putaran pertama 2 Oktober lalu, tetapi gagal memenuhi syarat 50% lebih suara untuk mengakhiri Pilpres satu putaran. Bolsonaro tampil mengejutkan karena perolehan suaranya jauh lebih tinggi daripada yang diindikasikan oleh berbagai survei sebelum Pilpres.

Jajak pendapat terbaru menunjukkan Lula masih unggul dengan 52,0% suara sementara Bolsonaro didukung 46,2% suara. Posisi kelompok sayap kanan dan Partai Sosial Liberal yang mendukung Bolsonaro juga menguat di Kongres karena penambahan anggota terpilih dalam Pemilu legislatif awal Oktober lalu.  

BACA JUGA : Warga di Sekitar Pesta Halloween Itaewon Ikut Bantu Beri Pertolongan CPR ke Korban

Meski merupakan agenda politik rutin empat tahunan, pemilihan kali ini dianggap sebagai "penentu nasib" bumi karena pentingnya peran hutan tropis Amazon yang dalam masa kekuasaan Bolsonaro terus-menerus digerus oleh pembalakan liar, pertambangan, dan pembukaan hutan untuk peternakan dan pertanian.

Ekosistem hutan tropis Amazon terbentang meliputi berbagai negara di Amerika Selatan termasuk Peru, Bolivia, Colombia, Suriname dan Venezuela. Namun bagian terbesar Amazon masuk wilayah Brasil (65%).

Sorotan berbagai media dunia termasuk New York Times, BBC, Washington Post, Aljazeera dan CNN menunjukkan kekhawatiran kemenangan Bolsonaro akan menguatkan daya rusak lingkungan di Amazon dan mendorong dampak lebih buruk terhadap perubahan iklim ke seluruh dunia.

'Kriminal'

Saat mengunjungi Brazil untuk meliput isu pelestarian hutan Amazon bersama UN Foundation dua pekan lalu, wartawan CNN Indonesia Dewi Safitri mendengar langsung kekhawatiran pemilih di Brasil jika Bolsonaro kembali terpilih terutama berkait nasib Amazon.

Salah satu kelompok yang paling gencar bersuara adalah kalangan ilmuwan yang menyuarakan kegusaran akibat kerusakan hutan tropis Amazon yang makin parah sepanjang 4 tahun terakhir.

Kehancuran di hutan hujan Amazon tahun lalu mencapai tingkat tertinggi sejak 2006, menurut badan penelitian luar angkasa pemerintah INPE. Data tersebut juga menyatakan deforestasi meningkat 23% lebih dalam sembilan bulan pertama tahun 2022.

Menurut laporan Greenpeace pembalakan menyebabkan meningkatnya kasus kebakaran hutan hebat yang dalam kurun Januari-Agustus 2022 saja meningkat sebesar 16,7% titik api dibandingkan dengan periode waktu yang sama tahun 2021 - juga tingkat tertinggi sejak 2019.

"Mereka ini kawanan kriminal. Kalau pemerintahan ini masih terpilih dan berkuasa lagi, saya sangat pesimistis terhadap (masa depan) Amazon," kata Dr Thelma Krug, salah satu penulis laporan Perubahan Iklim PBB, IPCC, yang juga merupakan ilmuwan Brasil, Kamis (13/10) lalu.

Peran hutan tropis Amazon sebagai alat perangkap emisi karbon dunia, sangat penting untuk mencegah kenaikan suhu bumi menjadi lebih tinggi dari target 1,5 derajat celcius yang digariskan IPCC sebagai titik tertinggi yang bisa ditoleransi makhluk hidup agar planet tetap dapat berjalan selaras.

"Yang dikhawatirkan saat ini adalah peran Amazon sebagai penangkap emisi terancam berubah justru jadi sumber pelepas emisi (carbon sink to source). Dalam 5-10 Amazon masih akan ada di sini, tetapi apakah perannya bisa tetap sama?" tukas praktisi konservasi Amazon John Reid, Kamis (13/10) lalu.

Saat Presiden Lula menjabat tahun 2003, ia mewarisi tingkat perusakan Amazon yang mendekati titik tertinggi sepanjang masa. Pemerintahannya kemudian memperkuat peran penegak lingkungan federal dan menciptakan badan layanan taman nasional milik negara termasuk dengan memperkuat jaminan atas hak suku pedalaman Amazon sebagai pemilik hak atas hutan Amazon. 

.BACA JUGA : Usai Beli Twitter, Elon Musk Akan Jadi CEO Baru

Langkah ini berhasil mengurangi angka deforestasi sampai 80%, salah satu program penurunan angka perusakan paling berhasil di dunia dan Amazon memasuki tahun dengan rekor pembalakan terendahnya.

Kerusakan Amazon terutama disebabkan oleh program ekonomi pemerintah Bolsonaro yang sangat pro-bisnis terutama untuk usaha peternakan sapi (cattle ranch), pertanian kedelai, jagung dan tebu, serta pertambangan.

Brasil saat ini adalah pengekspor daging sapi terbesar di dunia (23% dari ekspor global) dengan jumlah kawanan ternak mencapai 213,6 juta ekor sapi.

Sementara ekspor kedelainya mencapai 86,63 juta ton tahun 2021, naik dari 82,3 juta ton tahun sebelumnya menurut Asosiasi Eksportir Sereal Nasional (ANEC). Pasar kedelai Brasil sangat besar, termasuk ekspor ke Indonesia sebagai bahan baku utama industri tempe dan tahu.

Sejak tahun lalu sudah beberapa kali terjadi guncangan harga yang menguntungkan petani dan akibatnya mendorong perluasan lahan kedelai Brasil terus bertambah.

Amazon juga kaya bahan tambang termasuk minyak bumi, emas, biji besi dan mineral berharga lainnya. Pada bulan Mei, Bolsonaro menjadi tuan rumah kedatangan orang terkaya di dunia, Elon Musk.

Melalui cuitan di Twitter, Musk menyatakan kunjungan itu berkait dengan isu memperkuat layanan internet satelit Starlink-nya "untuk 19.000 sekolah yang tidak terhubung di daerah pedesaan dan pemantauan lingkungan Amazon".

Namun aktivis Brasil menduga pertemuan sesungguhnya membahas masa depan Brasil sebagai penyedia nikel untuk produksi beterai Tesla, pabrik mobil milik Musk. Pertambangan nikel ini lagi-lagi diduga berada di sekitar hutan Amazon.

Upaya perlindungan atas Amazon sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. Pada tahun 1965, Brasil mengesahkan Kode Hutan pertamanya, sebuah dekrit yang mewajibkan pemilik tanah di Amazon mempertahankan 80 persen lahan mereka sebagaimana kondisi asli alamanya - berarti hanya 20 persen yang boleh dieksploitasi.

Sejauh ini, kubu Bolsonaro tidak banyak bersuara soal tudingan dunia bahwa kemenangannya akan membuat kerusakan Amazon makin parah. Seorang perwakilan dari Partainya mengatakan kepada Reuters tim sukses partainya tidak punya juru bicara untuk menjawab pertanyaan media soal isu Amazon.

Namun platform kampanye Bolsonaro menyatakan warga Brasil berhak memanfaatkan sumber daya alam Amazon. Dokumen kampanyenya menyorot peran militer, polisi dan lembaga lain untuk memerangi deforestasi dan kebakaran hutan di Amazon, namun data menunjukkan pemerintahan Bolsonaro gagal menjalankan peran itu.(han)