Penanaman Karakter Positif pada Anak

Oleh: Dian Krisnawati, S.Pd

Penanaman Karakter Positif pada Anak

 Beberapa dekade yang lalu, hampir semua orang memandang hardskill sangat penting dalam kehidupan kita. Hardskill  dianggap sebagai faktor utama pendukung kesuksesan seseorang. Orang yang memiliki hardskill yang baik diyakini dapat sukses dalam berbagai bidang, termasuk dalam mendapatkan dan mempertahankan profesinya.

Hasil penelitian yang dilakukan di Harvard University menunjukkan bahwa hardskill hanya menyumbang 20% kesuksesan seseorang. Selebihnya, 80%, justru ditentukan oleh softskill. Fakta ini mendorong adanya pendidikan yang membekali siswa dengan softskill. Softskill lebih diperlukan dalam dunia kerja dan industri. Bahkan beberapa perusahaan tidak mengedepankan prestasi akademik, tetapi lebih memilih karyawan yang memiliki softskill bagus.

Beberapa contoh softskill yang diperlukan dalam dunia kerja, antara lain: ketekunan, kejujuran, kemampuan bekerja sama, dan kemampuan bertoleransi. Oleh karena itu, penanaman dan pembentukan karakter merupakan bagian penting dalam ranah pendidik.

Namun, ironisnya sering kali orang tua lupa menanamkan sikap-sikap baik kepada anak. Orang tua lebih menuntut anak berprestasi dalam bidang akademik dibandingkan dengan perilakunya. Orang tua lebih bangga ketika anak mendapatkan ranking satu daripada anak yang jujur. Demikian juga dengan guru yang lebih membanggakan anak-anak yang pandai dalam bidang ilmu pengetahuan.

Penanaman karakter positif dapat dilakukan melalui keteladanan. Jika menghendaki anak bersifat jujur, maka orang tua harus berperilaku jujur. Anak yang dapat menghargai orang lain mencerminkan sikap orang tua juga harus menunjukkan rasa hormat kepada orang lain.

Sifat jujur harus ditanamkan sejak dini karena sifat jujur akan melekat sampai dewasa. Sifat jujur pada anak dapat ditanamkan melalui pemberian contoh. Sebagai contoh, ketika anak membeli suatu barang, maka harus membayar sesuai harga barang dan berani memberitahukan jika ada uang kembalian yang berlebih.

Kejujuran sangat perlu diajarkan di sekolah. Sekolah menghendaki anak belajar dengan sungguh-sungguh untuk meraih prestasi belajar yang baik. Oleh karenanya, guru harus tetap menghargai anak yang jujur menyelesaikan soal berdasarkan kemampuannya sendiri dan tidak mencontek meskipun gagal dalam menyelesaikan soal tersebut.  

Peran guru sangat penting dalam pembentukan karakter anak. Penguasaan metode dan materi pembelajaran saja tidak cukup bagi guru. Kepandaian anak harus diimbangi dengan kecakapan hidup. Guru hendaknya dapat mengembangkan kecerdasan budi pekerti anak. Anak yang memiliki karakter baik atau positif merupakan salah satu indikator keberhasilan guru.

Kecerdasan budi pekerti atau softskill dikemukakan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara. Menurut beliau budi pekerti merupakan kemampuan individu yang berkaitan dengan bagian biologis yang berhubungan dengan rasa, misalnya: rasa takut, cemas, putus asa, gelisah, senang, bahagia, dan sebagainya.

Selain rasa, terdapat juga bagian kognitif (berpikir) untuk menyerap pengetahuan. Kedua bagian tersebut (rasa dan kognitif) dijadikan sebagai dasar ajaran Ki Hadjar Dewantara. Kemampuan individu dalam rasa dan kognitif akan menentukan karakter seseorang. Kecerdasan budi pekerti merupakan perpaduan antara cipta (kognitif) dan rasa (afektif). Perpaduan kognitif dan afektif akan menghasilkan karsa (psikomotorik), seperti sifat jujur.

Anak yang berbudi pekerti jujur sangat kecil kemungkinan melakukan kebohongan. Anak tidak akan mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Anak akan terganggu jika melihat ketidakjujuran terjadi di sekitarnya. Kita dapat melihat wawasan tentang kejujuran (kognitif) dari siswa. Perasaan tidak nyaman yang mengikutinya ketika melihat ketidakjujuran (afektif). Hal ini akan menghasilkan budi pekerti jujur yang ditampilkan (psikomotorik).

Lalu, bagaimana watak tersebut dapat terbentuk?  Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa keluarga merupakan tempat utama yang paling baik dalam melatih karakter anak.  Keluarga menjadi proses anak menjadi sempurna. Keluarga merupakan laboratorium awal dalam melatih budi pekerti anak.

Guru di sekolah ikut membantu anak untuk menemukan kecerdasan budi pekerti melalui tuntunan dan keteladanan. Anak yang memiliki kecerdasan budi pekerti akan senantiasa memikirkan, merasakan, dan mempertimbangkan perilaku yang ditampilkannya. Pendidikan erat kaitannya dengan bagian kognitif budi pekerti karena berhubungan dengan kecerdasan pikiran.

Anak dapat menumbuhkan kecakapan berpikir karena pengaruh situasi dan kondisi. Kebersamaan siswa dengan guru akan mempengaruhi karakter anak. Oleh karena itu, guru diharapkan senantiasa menuntun dan melatih kecerdasan pikiran anak.

Selain itu, guru dapat membantu anak menemukan budi pekerti atau watak baiknya. Guru dapat membantu anak mengendalikan dan memperbaiki watak kurang baik, misalnya guru menemukan anak yang pemalu di kelas. Apakah guru dapat membantu kondisi anak ini agar menjadi lebih berani?

Dengan tuntunan dan pendampingan yang tepat guru dapat mengupayakan yang terbaik. Guru dapat menggali potensi anak dengan melatih keberanian berpendapat (akal). Guru dapat mengasah perasaan anak agar berpikir untuk berani (rasa) serta memunculkan kehendak (karsa) berani. Selanjutnya, mempertimbangkan perilaku berani mengungkapkan pendapatnya.

Akan tetapi, guru juga harus mampu memahami kodrat anak sebagai individu. Guru harus mempunyai rasa empati dan memahami kehendak anak. Hal ini agar guru mampu merefleksi dengan baik pembelajaran di sekolah. Jika ini terjadi maka anak akan menjadi individu yang berbudi pekerti atau softskill yang baik. (****)  

 

 

Dian Krisnawati, S.Pd., adalah mahasiswa Program Magister Pendidikan Matematika Universitas PGRI Kanjuruan Malang dan Guru Matematika dan BK di SMKS Sunan Ampel Poncokusumo Kabupaten Malang.

Tulisan ini telah disunting oleh Dr. Aris Wuryantoro, M.Hum., adalah dosen di Universitas PGRI Madiun dan Dewan Pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).