Memilih …

Oleh: Lusia Kristiasih Dwi Purnomosasi, M.A.

Memilih …

Menonton “drama MK” di panggung pertunjukan bernama Jakarta yang tayang bersliweran di media memancing saya menyimaknya lebih serius daripada sekadar pengisi waktu luang seperti biasa. Mencermati komentar dan berbagai analisis sampai banyolan berbau “politik dinasti” mengisyaratkan kekecewaan mendalam terhadap seorang presiden favorit. Seorang pemimpin negara role model baru saja menoreh sayatan pedih di hati pengagumnya, menjungkirbalikkan logika, dan meninggalkan pertanyaan besar “siapa sebenarnya Bapak?”

Para ahli berargumen, para politisi berorasi, para reporter berburu narasumber, para pelawak mengumbar sindir, dan common people sibuk menimbang keputusan pilih siapa di pemilu tahun depan. Sebab pertunjukkan telah dimainkan, sebab intrik telah dipertontonkan, sebab api dalam sekam disulut bara, sebab “dulu wayang sekarang dalang” telah ditayangkan, ini show time baru buka layar.

Tradisi menjelang coblosan selalu chaos!!

Masih lekat dalam ingatan saya, kami berjajar bersorak sorai di sepanjang jalan raya menyambut arakan kampanye di atas truk bak terbuka penuh partisan berwarna sama. Hidup Golkar … hidup Golkar … Lain hari, ada kampanye lagi. Kali ini, kami kembali berbondong di tepi jalan raya tidak untuk bersorak sorai lagi, tetapi untuk mengumbar hate speech secara terbuka kepada tetangga kami yang berteriak “hidup banteng … hidup banteng” … Hhhhh … Begitulah kenyataannya … pemilu di masa kanak-kanak saya …

Di suatu coblosan di masa yang berbeda, republik ini dibelah dua dengan julukan “kecebong” dan “kalong”. Keluarga besar, tetangga, handai taulan, dan kolega seruangan turut pecah. Gesekan dan sikut-sikutan sudah mengarah ke antipati yang bersifat laten. Tiba-tiba saja merasa “ogah” tanpa alasan. Silaturahim dan tepo sliro terkikis oleh kebencian yang entah siapa yang memulai.

Sementara itu, dua anak saya menjadi pemilih untuk kali pertama. Paparan ujaran kebencian banyak mereka dengar dan sikap kebencian banyak mereka temui. Si sulung berkali-kali “misuh” sebab tidak habis pikir mengapa rakyat Indonesia tetap saja “nggak cerdas”. Maklum, dia mahasiswa ilmu politik Unair. Si tengah kelihatan cuek dengan situasi, sikapnya apatis sebagai puncak kemuakan mana yang benar dan salah. Dan, saya sibuk mengembalikan kemurnian mereka “what happened happens, this is your country. Do something someday”, kata saya, meskipun dengan alot dan a lot of worries.

Pemilu ini, si ragil akan masuk ke daftar pemilih. Tadi malam, dia gelisah menanyakan “piye to jane?” “O, ngono .. “ responnya enteng setelah mendengar sinopsis “drama MK”.

Ini kejadian terulang. Anak-anak saya mesti mengalami memori buruk menjelang pemilu seperti saya. Sudah sekian pemilu berlalu, sudah dua generasi. Keriuhan indikasi kecurangan di tingkat elite dengan cara yang tidak elite mengajarkan pada mereka bahwa segala cara dapat ditempuh untuk mencapai kekuasaan di negeri ini. Barangkali, mereka menyimpan simpulan-simpulan lain yang saya tidak bisa duga. Dan sekali lagi, saya menjejali mereka untuk berbaik sangka bahwa memilih itu mencegah kejahatan berkuasa, seperti nasihat Romo Magnis kepada Butet Kertaredjasa.

Sebagai seorang ibu, menjaga prasangka baik di tengah kecamuk menjijikkan seperti ini merupakan perang batin hebat. Mungkin ini sekadar paranoia seorang menjelang tua. Sebentar lagi, saya akan menjalani masa pensiun dari pekerjaan. Hidup seperti apa yang akan saya temui kelak? Seperti apa Indonesia bagi anak-anak dan cucu-cucu saya besok? Jangan-jangan mereka hidup pas-pasan saja karena saya tidak punya cukup tabungan untuk membeli kepastian kesejahteraan mereka. Jangan-jangan mereka benci Indonesia sebab titel akademik bapak dan ibunya dari universitas tidak menjadi jaminan sebuah kesejahteraan. Jangan-jangan mereka hilang kepercayaan kepada pemerintah karena pemimpinnya terpilih dengan jalan kotor setiap lima tahunan. Jangan-jangan … aarrgggghhhh … semoga ini hanya paranoia.  

Mendengar seorang Goenawan Muhammad (GM) di “Rosi” di akhir wawancara mengurai kecamuk sikap saya. Di puncak kehancuran dan kesedihannya melihat Indonesia yang diacakadul, GM memutuskan untuk “cawe-cawe” sekali lagi sebagai bentuk pertanggungjawabannya terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Seperti The Myth of Sisyphus-nya Albert Camus, kegagalan berkali-kali membopong batu ke puncak bukanlah pekerjaan sia-sia, melainkan menuai nilai berharga dari setiap kegagalan itu. Imajinasi saya meluncur ke Santiago, “man can be destroyed but not defeated” (seseorang bisa dihancurkan, tetapi tidak bisa dikalahkan) tulis Ernest Hemingway dalam The Old Man and the Sea. Sehancur-hancurnya kondisi, tetap gagah menghadapi fakta.   

Saya tercenung dalam solitude yang tiba-tiba. Saya menggerayang jauh ke dalam intinya hati, mempertanyakan lagi paranoia tadi, memenuhi kekosongan energi yang terkikis kekecewaan. Dan …, yah …, saya sepakat dengan sikap GM untuk mengkreasikan harapan. Tegakah kita negeri ini rusak tempat anak cucu kita tinggal? Masih ada harapan yang harus diperjuangkan. Harapan itu seperti jalan setapak di tengah hutan, jika dilalui banyak orang, maka setapak itu akan terbuka menjadi jalan, kata GM dari Lu Xun. Saya teringat The Road Not Taken, oleh Robert Frost, yang mengatakan … and that has made all the difference. Ada nilai mulia dalam setiap rintangan.

GM memverbalkan kemelut pikir saya saat ini sebagai seorang ibu dari anak-anak generasi muda Indonesia. Akan saya catat, tidak ada yang salah dengan berprasangka baik, tetapi jahatlah mereka yang menyalahgunakan prasangka baik itu. Demikian “Rosi”. “Nak, jangan berhenti memelihara harapan. Yakinlah banyak patriot di barisan kalian. What will happen happens.(****)

 

Lusia Kristiasih Dwi Purnomosasi, M.A. adalah dosen Universitas PGRI Madiun dan pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI). Tulisan ini disunting oleh Dr. Indayani, M.Pd., dosen Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dan pengurus PISHI.