Memesona di Kelas Superior

Pendidikan kita secara umum masih menerapkan sistem kelas klasikal. Sekolah ada yang menerapkan sistem moving class (siswa bepindah-pindah kelas sesuai dengan mata pelajaran) dan ada yang menerapkan sistem static class (guru yang berpindah-pindah menuju kelas). Kedua

Memesona di Kelas Superior

Oleh: Dr. Aries Purwanto, M.Pd

Pendidikan kita secara umum masih menerapkan sistem kelas klasikal. Sekolah ada yang menerapkan sistem moving class (siswa bepindah-pindah kelas sesuai dengan mata pelajaran) dan ada yang menerapkan sistem static class (guru yang berpindah-pindah menuju kelas). Kedua system ini memiliki kelebihan dan kekurangan sesuai dengan konteks sekolah. Ketercukupan ruang serta kelengkapan perangkat pembelajaran juga harus diperhitungkan. Di samping itu, pemenuhan guru bidang studi yang linear juga menjadi bahan pertimbangan.

Kalau dilihat dari sisi administratif, sistem pendidikan kita “memaksa” para guru atau pendidik untuk berbohong demi memenuhi kelayakan administrasi. Mulai dari daftar kehadiran, penilaian, proses pembelajaran, serta laporan jurnal mengajar. Ribuan manipulasi dilakukan untuk pemenuhan “kolom-kolom” yang harus diisi. Dengan sistem digital yang berbasis online menjadikan “kemudahan” by system, tetapi mengandung “kepalsuan” by system juga. Sudah banyak yang mengurai sisi-sisi lemah system yang diterapkan. Hal ini akan menjadi bahan evaluasi ke depan untuk lebih cermat dan teliti.

Sistem yang sudah berjalan saat ini suatu hari perlu dibongkar dengan regulasi baru sistem pendidikan nasional yang lebih humanis. Ketika mengajarkan tentang ketuhanan, maka harus benar-benar mengemban sifat-sifat Tuhan. Ketika mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, maka harus  benar-benar mengimplementasikan tugas-tugas manusia hadir ke bumi ini. Dengan demikian, pendidikan tidak sebatas bercerita tentang kebaikan, ketaqwaan, kejujuran, dan sebagainya, namun yang lebih hakiki “melakukan kebaikan”. Dengan mempertimbangkan keberadaan Tuhan, manusia, alam semesta, dan hubungan ketiganya.  

Suatu hari penulis memasuki kelas yang menurut para guru “mengerikan”. Kelas yang satu ini benar-benar dahsyat. Bukan bagaikan kuburan, tapi melebihi pasar malam. Suara keras bersahutan, permainan smack down diaktifkan. Benar-benar kelas superior. Kasus ini membuat guru enggan untuk “menaklukkannya”, sebab ending-nya pasti sakit hati. Rasa kesal, marah, emosi, bercampur dongkol menjadi sebuah adonan pagi yang suntuk. 

Benar-benar kelas superior. Kelas ini memiliki 32 siswa yang berasal dari kaum the haves dan keturunan Arab. Apakah karena berdarah Arab, kemudian mereka merasa lebih superior? Lantas, mereka menganggap gurunya yang berdarah Jawa ndeso itu lebih inferior? Sungguh action mereka melebihi “brandalan” jalanan. Di sini  mereka tidak boleh hanya bercerita tentang kebaikan, sopan santun, etika, kreativitas dan seterusnya. Kalau masih berbicara tentang bla-bla-bla…, mereka akan melakukan aksi yang tidak terkendali.

Guru adalah seorang aktor sekaligus dalang. Guru harus bisa bermain cantik dan memesona. Kalau ingin laku, seorang guru bisa ber-acting menjadi gila dan bisa membuat skenario kelas karena perannya sebagai dalang. Siswa harus mau menjadi wayang yang dikendalikan oleh dalangnya. Ketika para siswa berteriak keras dan tak berarturan, maka guru harus mampu berteriak lebih keras dan lebih liar. Saat gerakan anak-anak tersebut melampaui batas kelas, maka guru harus bergerak secepat kilat sekaligus selembut angin puting beliung. Artinya, untuk menghentikan “arogansi” kelas, guru harus bisa membikin mereka terpesona. 

Guru yang memesona adalah guru yang mampu membuat siswa “manggut-manggut” di depannya. Tentu karena “kedahsyatannya” atau “kesaktiannya”. Kesimpulannya, guru harus multitalenta. Guru harus mampu menjadi sutradara, aktor, dalang, dan “orang sakti”. 

Penulis juga teringat pada seorang guru sastra yang mengajak siswanya merobek buku-buku teori belajar. Mulai halaman pertama dirobek secara massal klasikal. Robekan demi robekan ternyata membangun sebuah musik orkestra yang memesona. Kelas menjadi lebih hidup, seakan datang “roh” yang memerdekakan dari belenggu teori yang mengurungnya. Dengan sigap Sang Guru melompat ke atas meja, kemudian ia melihat siswanya dari arah atas kepala. Ini sebuah demensi baru, cara pandang baru untuk mngenali siswa. 

Hal ini diperintahkan juga kepada siswanya untuk naik ke atas meja secara bergantian. Tidak berhenti di situ, Sang Guru mengajak siswa untuk “berslogan” dan meneriakkannya sambil melempari tiang bendera di halaman sekolah. Mereka melempar dengan botol, gelas, cangkir, dan berbagai benda pecah belah sehingga menghasilkan suara benturan yang nyaring. Semakin keras suara benturan, maka semakin meningkat tensi semangatnya. 

Banyak kreativitas yang dibangun dalam kelas, sehingga kelas superior menjadi “takluk” sepenuh hati. Warna beda telah dipancarkan, Goresan-goresan inspiratif telah ditorehkan. Pembangunan rasa percaya diri serta bangkitnya nyali telah dikolaborasikan. 

Guru sastra pernah menyuruh siswanya berjalan satu-satu di ruang yang hening. Hanya suara langkah kaki bersepatu yang terdengar, kemudian siswa yang lain memastikan langkah temannya yang berjalan tanpa melihat orangnya. Talenta guru telah ditumpahkan sepenuhnya untuk sebuah “kesadaran” dan terbentuknya karakter sesuai jati diri siswa. Ternyata sebuah totalitas tidak selamanya mendapatkan apresiasi positif oleh sistem kelembagaan pendidikan. 

Hingga akhirnya, esok harinya para siswa harus menangis yang tak tertahankan. Mereka dipamiti guru inspiratornya yang “di-PHK” oleh Kepala Sekolah karena dianggap “melanggar “ kurikulum. Hujan tangis dari hati mereka yang merasa sangat kehilangan “roh” belajarnya. Dengan lambaian tangan penuh doa, mereka berkata….”Di mana pun engkau berada, engkau akan selalu memesona.  Selamat jalan wahai Sang Inspiratorku….”, Meskipun teriakan ratusan siswa menggemuruh, tetapi tidak mampu mengubah sistem yang telah “beku” dalam konvensi kolonial. Masuk sistem atau melawan sistem adalah sebuah kebijaksanaan…..

Dr. Aries Purwanto, M.Pd., adalah dosen Pascasarjana IAI Al Khoziny Sidoarjo dan anggota Persatuan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI). 

Tulisan ini telah disunting oleh Dr. Aris Wuryantoro, M.Hum., adalah dosen di Universitas PGRI Madiun dan Dewan Pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).