Ketiadaan Tokoh Sentral Jadi Musabab Golkar Keog di Tiga Pemilu

Misalnya PDIP memiliki Megawati Soekarnoputri, Gerindra dengan Prabowo Subianto, Partai NasDem dengan Surya Paloh, dan Partai Demokrat dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Pada hari ini Kamis (20/10), Partai Golongan Karya (Golkar) genap berusia 58 tahun. Celakanya, diusianya yang lebih dari setengah abad, partai politik berlambang pohon beringin tersebut terus mengalami penurunan suara di tiga pemilu terakhir.

Kedigdayaan Partai Golkar berakhir pada pemilihan umum (Pemilu) pada 2004. Itu pun dengan perolehan suara yang mengalami penurunan dibandingkan pemilu sebelumnya, yaitu dari 22,43 persen di Pemilu 1999 menjadi 21,57 persen suara.

Setelah itu, Golkar selalu menjadi partai nomor dua. Perolehan suara pun terus tergerus.

Partai beringin seakan tak pernah mampu mengalahkan PDIP yang menang dalam dua kontestasi pemilu terakhir.

Pada Pemilu 2019, bahkan perolehan suara Golkar kalah tipis dari Partai Gerindra besutan Prabowo Subianto. Namun, perolehan kursi Golkar di DPR lebih banyak dari Gerindra.

Direktur Eksekutif KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo mengatakan kelemahan Golkar sehingga gagal menang di tiga edisi pemilu terakhir karena tidak memiliki tokoh sentral seperti parpol lain.

Misalnya PDIP memiliki Megawati Soekarnoputri, Gerindra dengan Prabowo Subianto, Partai NasDem dengan Surya Paloh, dan Partai Demokrat dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Golkar ini enggak ada tokoh sentral di nasional, tokoh mereka lebih banyak di daerah yang kemudian memelihara elektabilitas Golkar," kata Kunto saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Rabu (19/10).

Kunto menyebut karakteristik politik Indonesia dewasa ini, parpol harus memiliki tokoh sentral sehingga mempermudah pemilih untuk mengidentifikasi partai tersebut.

Menurutnya, keberadaan tokoh sentral dalam sebuah parpol diperlukan karena parpol bersifat abstrak.

"Partai abstrak, platform partai abstrak, visi misi partai abstrak, tapi kalau ada tokoh maka lebih mudah membayangkan partai dengan personifikasi tokoh itu. Gerindra ya kayak Prabowo tegas," ujarnya.

"Sehingga lebih mudah pemilih punya asosiasi personalitas terhadap sebuah partai," kata Kunto.

Kunto menyebut ketiadaan tokoh sentral menyulitkan masyarakat mengidentifikasi Partai Golkar. Menurutnya, situasi di Partai Golkar sekarang mirip dengan situasi yang terjadi di Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Di sisi lain, Kunto menyatakan sejarah kelam Orde Baru juga menjadi penyebab Golkar belum berhasil menang lagi dalam tiga pemilu terakhir. Menurutnya, Golkar dianggap memiliki dosa politik selama Soeharto berkuasa.

Namun, Kunto menilai Golkar berpeluang meraih kemenangan kembali di Pemilu 2024 mendatang. Menurutnya, terbuka kemungkinan pemilih PDIP dan Gerindra pindah memilih Partai Golkar di Pemilu 2024 nanti.

"Mungkin Golkar bisa juga punya momentum bouncing back ketika PDIP sebagai kompetitiornya dan tak ada partai baru lagi dan Gerindra turun, PDIP turun maka pemilih mayoritas floating mass akan kembali ke Golkar," katanya.

Terpisah, pengamat politik dari Universitas Padjadjaran Idil Akbar mengatakan langkah Prabowo, Surya Paloh, hingga Wiranto meninggalkan Golkar kemudian membentuk parpol sendiri membuat situasi partai beringin itu seperti saat ini.

Keputusan mereka keluar dan mendirikan partai baru membuat soliditas di internal Partai Golkar terpecah. Menurutnya, ketokohan di Partai Golkar semakin hilang setelah Jusuf Kalla tak berperan lagi secara aktif.

"Golkar terpecah, beberapa tokohnya sudah bentuk parpol sendiri, Surya Paloh (bentul) NasDem, Prabowo (bentuk) Gerindra, Wiranto (bentuk) Hanura. Jadi secara politis itu merugikan Golkar keutuhannya, karena kadernya tadinya solid jadi terpecah," katanya.

Namun begitu, Idil memandang kondisi di Partai Golkar sudah lebih baik saat ini. Menurutnya, Golkar sudah mulai membangun karakter yang meninggalkan cap Orde Baru.

"Terbukti mereka banyak menarik orang muda yang secara sejarah mereka bukan bagian Orde Baru. Banyak anak muda secara sadar masuk Golkar," ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan keberhasilan Golkar di Pemilu 2024 mendatang sangat tergantung pada strategi dan pemilihan kader. Menurutnya, Golkar sudah memiliki infrastruktur yang baik peninggalan Orde Baru.

"Golkar punya infrastruktur yang baik peninggalan Orde Baru, jadi masyarakat masih melihat Golkar itu ada. (Tinggal) bagaimana strategi mereka dan penerapan kader mereka," kata Idil.(han)