Hombo Batu: Tradisi Di Pulau Nias

Pulau Sumatera memiliki ragam pesona budaya dari berbagai daerah yang selalu menarik perhatian untuk dinikmati. Salah satu daerah yang belum pernah ditulis pada opini ini adalah daerah Nias. Daerah ini berada dalam satu kepulauan yaitu Pulau Nias. Tradisi yang sangat terkenal dari daerah tersebut adalah Hombo Batu.

Hombo Batu: Tradisi Di Pulau Nias
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Dr. Surya Masniari Hutagalung, M.Pd

Universitas Negeri Medan Anggota PISHI

 

 

Pulau Sumatera memiliki ragam pesona budaya dari berbagai daerah yang selalu menarik perhatian untuk dinikmati. Salah satu daerah yang belum pernah ditulis pada opini ini adalah daerah Nias. Daerah ini berada dalam satu kepulauan yaitu Pulau Nias. Tradisi yang sangat terkenal dari daerah tersebut adalah Hombo Batu.

Hombo batu adalah sebuah atraksi lompat batu dari pulau Nias yang sudah terkenal bahkan sampai ke manca negara. Tradisi lompat batu yang masih banyak  dilakukan sampai saat ini  di desa Bawamataluo. Desa ini berada di Kabupaten Nias Selatan. Lompat batu yang dipertahankan dan dijadikan  sebagai tradisi  dan  sebagai kebudayaan tradisional suku nias, dulunya  memiliki sejarah yang konon benar-benar nyata terjadi di sana.

Awal mula sejarah lompat batu terjadi, ketika munculnya perang antar desa dan antar wilayah. Perang ini biasanya terjadi karena perebutan wilayah, yang dipicu oleh permasalahan batas tanah, dendam, dan bahkan masalah perbudakan. Apabila ada anggota masyarakat yang merasa dijadikan budak, maka masyarakat sekampung akan merasakan hal yang sama dan melakukan perang.

Itulah sebabnya pada zaman dulu setiap desa dipagari bambu dengan tinggi minimal dua meter sebagai batas desa. Agar dapat melewati batas desa, syarat yang diwajibkan adalah setiap pemuda harus bisa melompati bambu setinggi dua meter. Setiap pemuda yang sudah bisa melompati bambu setinggi dua meter, akan diajak berperang sebagai prajurit raja. Pemuda yang sudah bisa melampaui bambu dua meter dianggap dan diakui sebagai prajurit tangguh.

Salah satu cara agar para pemuda dapat melompati bambu, maka warga desa-desa membangun tembok batu setinggi minimal dua meter sebagai tempat latihan bagi para pemuda. Lompat batu ini hanya di peruntukkan kepada para pria bukan wanita. Barang siapa yang dapat melompati batu setinggi dua meter atau lebih dinobatkan sebagai  pria yang perkasa dan layak membela desa. Jadi salah satu tolak ukur ketangkasan pemuda Nias untuk dapat mengikuti perang adalah dapat melompat batu.

Agar mampu melakukan lompat batu, para pemuda Nias harus memiliki pertahanan badan dalam bentuk mistis atau kekuatan gaib. Zaman dulu setiap pemuda yang sudah bisa lompat batu dan mahir menggunakan tombak dan perisai, akan ditanami penjaga badan dan kekebalan. Hal ini dilakukan  melalui mistis dan gaib. Kekuatan gaib dan mistis tersebut disalurkan oleh ketua-ketua adat yang memiliki ilmu tinggi.

Menurut salah satu narasumber, meskipun lompat batu diperuntukkan bagi para pria, tidak menutup kemungkinan bagi seorang wanita ikut berperang. Akan tetapi, wanita yang diikutkan perang adalah wanita yang memiliki ilmu tinggi, kekebalan tubuh, mempunyai jiwa perang, dan nalar tinggi. Pada umumnya, wanita yang memenuhi kriteria tersebut justru dipilih menjadi pemimpin perang jika ilmu mistis dan gaib yang dimiliki lengkap. Ilmu itu bukan diperoleh dalam waktu yang singkat, namun sudah ditanamkan ke dalam tubuhnya sejak bayi.

Narasumber yang diwawancarai adalah seorang wanita yang sudah sangat tua dan pernah memimpin perang. Dia  disebut ketua perang.. Posisi ketua perang diberikan karena memiliki ilmu mistis yang kuat yang susah dikalahkan oleh para musuh.

Seseorang yang berilmu tinggi seperti narasumber tersebut bisa menahan jiwa dan diri untuk tidak mati. Itulah sebabnya, jika diperhatikan banyak mantan pemimpin perang yang sudah berumur uzur di Nias, namun tetap masih sehat dan kuat.  Mungkin mereka lah yang berilmu tinggi dan masih memiliki kekuatan istimewa dari hal mistis dan gaib.

Lompat batu saat ini tetap dipertahankan, di hampir semua wilayah di Pulau Nias. Tradisi ini ditanamkan mulai usia dini. Hal ini dibuktikan dengan dibangunnya tembok batu di setiap sekolah. Di tingkat sekolah Dasar bangunan tembok batu setinggi 1,5 meter. Mulai tingkat  sekolah SMP  bangunan tembok batu setinggi 2 meter.

Makna lompat batu kepada generasi muda ditanamkan untuk memiliki ketangguhan dalam hidup dan mampu melompat tinggi mencapai kehidupan yang lebih baik lagi. Makna ketangguhan dan semangat melompat tinggi dalam kehidupan itulah yang paling utama, yang disimbolkan tradisi lompat batu. Tangguh dalam memperjuangkan hidup dan tangguh dalam mencapai tujuan hidup.

Selain bisa melompati batu, tolak ukur lainnya untuk dapat menjadi prajurit perang adalah dapat menggunakan tombak dan perisai. Itulah sebabnya suku Nias juga dikenal dengan tarian perangnya yang menggunakan tombak dan perisai. Tarian itu sekarang ditransformasikan menjadi tarian penyambutan tamu kehormatan. Disuntung oleh Dr. Umi Salamah, M.Pd Anggota Perkumpulan Ilmuan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).