Ratusan Ribu Tukang Pos di Inggris Gelar Aksi Mogok Kerja, Tuntut Kenaikan Upah

Sebanyak 115 ribu pekerja pos Royal Mail di Inggris menggelar aksi mogok kerja mulai Kamis (13/10) karena menuntut kenaikan upah dan kondisi kerja yang lebih baik di tengah lonjakan biaya hidup.

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Sebanyak 115 ribu pekerja pos Royal Mail di Inggris menggelar aksi mogok kerja mulai Kamis (13/10) karena menuntut kenaikan upah dan kondisi kerja yang lebih baik di tengah lonjakan biaya hidup.

Mogok kerja akan berlangsung selama 19 hari atau bertepatan dengan puncak musim belanja liburan, termasuk Black Friday, dan Cyber Monday.

Selama aksi tersebut layanan Royal Mail akan tidak beroperasi selama beberapa hari.

Serikat Pekerja Komunikasi (CWU), yang mewakili para pekerja, mengatakan dalam siaran pers yang dirilis Selasa lalu mengungkapkan pemogokan adalah bagian dari "pemogokan terbesar yang sedang berlangsung tahun ini."

CWU mengatakan para pekerja sedang melawan rencana Royal Mail untuk mengubah syarat dan ketentuan termasuk pengenalan standar kinerja baru dan peningkatan jam kerja untuk staf baru.

Serikat pekerja juga mengatakan perusahaan telah memberlakukan kenaikan gaji 2 persen pada pekerja, jauh di bawah tingkat inflasi.

BACA JUGA : Sadis! Suster di Inggris Diduga Bunuh 7 Bayi dengan Diracuni

"Pekerja pos menghadapi serangan terbesar terhadap gaji, pekerjaan, syarat dan ketentuan mereka dalam sejarah Royal Mail," kata Sekretaris Jenderal CWU Dave Ward dalam sebuah wawancara radio yang diunggah serikat pekerja di Twitter.

Royal Mail menyatakan sebagian besar surat tidak akan dikirimkan pada hari-hari mogok, dan pelanggan harus mengantisipasi penundaan pengiriman paket.

Pada Kamis kemarin, seorang juru bicara Royal Mail mengatakan kepada CNN Business bahwa tindakan pemogokan itu "melemahkan posisi keuangannya."

"Kami melakukan semua yang kami bisa untuk meminimalkan penundaan dan membuat orang, bisnis, dan negara tetap terhubung," kata juru bicara itu seperti dilansir CNN.

Pemogokan adalah yang terbaru dalam gelombang aksi industri di Inggris tahun ini. Staf kereta api, sopir bus, dan pengacara termasuk di antara kelompok pekerja yang mogok untuk menuntut kenaikan upah karena inflasi yang membumbung tinggi merusak standar hidup.

Selanjutnya, Pekerja Amazon (AMZN) sedang dalam pemungutan suara untuk aksi mogok, dengan hasil pemungutan suara diharapkan minggu depan.

BACA JUGA : Tuchel Sebut Liga Inggris Makin Sulit Tiap Musim

Harga konsumen Inggris melonjak 9,9 persen pada Agustus lalu secara tahunan.

Inflasi mendapat tekanan semakin parah setelah rencana Perdana Menteri Liz Truss untuk mendorong pemotongan pajak yang tidak didanai senilai miliaran membuat nilai pound sterling jatuh dan imbal hasil obligasi pemerintah melonjak.

Kondisi itu sudah mendorong pembayaran hipotek karena pemberi pinjaman menilai kenaikan suku bunga yang lebih agresif oleh Bank of England untuk mengatasi dampak inflasi dari pemotongan pajak dan pound yang lebih lemah.

Mogok kerja tidak hanya terjadi di Inggris. Di Prancis, pekerja yang mogok telah memblokade kilang bahan bakar ExxonMobil dan TotalEnergies selama beberapa minggu dalam perselisihan mengenai gaji, mengganggu pasokan ke ribuan pompa bensin.

Di Amerika Serikat, ancaman pemogokan kereta api yang lebih lanjut dapat mengganggu rantai pasokan yang sedang berjuang untuk pulih. Awal pekan ini, serikat pekerja pemeliharaan rel kereta api menolak perjanjian tentatif dengan pengangkut barang karena kurangnya cuti sakit yang dibayar.(lal)