Mbah Rono Sebut Penanggulangan & Mitigasi Bencana di Indonesia Masih Nol

Surono mengibaratkan masyarakat Indonesia sebagai tamu yang seharusnya mengenal tuan rumah yaitu alam. Pengetahuan tentang lokasi tempat tinggal, ancaman bencana, hingga cara mengantisipasi sangat penting disosialisasikan kepada masyarakat. Dengan begitu, ia meyakini korban jiwa akibat bencana tidak sebanyak yang sudah-sudah. "Kita tamu, alam ini adalah tuan rumah. Kalau kita datang kan kita harus tahu karakter punya rumah seperti apa," kata Surono.

Mbah Rono Sebut Penanggulangan & Mitigasi Bencana di Indonesia Masih Nol

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Gempa berkekuatan magnitudo 5,6 yang mengguncang Kabupaten Cianjur pada Senin (21/11) setidaknya telah mengakibatkan 268 orang meninggal dunia, seratusan orang hilang, ribuan rumah rusak, hingga fasilitas sosial dan umum rusak parah.

Penanggulangan dan mitigasi bencana selalu menjadi sorotan pascaperistiwa, tak terkecuali dengan gempa Cianjur.

Sempat terjadi perbedaan data untuk korban meninggal antara BNPB, Kepolisian dan Pemerintah Daerah.

Pakar Geologi Surono lebih sering dipanggil Mbah Rono menekankan sistem satu orang, satu komando, dan satu keputusan dalam penanggulangan bencana.

Menurut dia, sistem itu harus diterapkan agar tidak terjadi kekeliruan dalam melakukan pekerjaan. Termasuk di dalamnya mengenai pemberian informasi publik soal korban jiwa.

"One man, one command, one decision, termasuk juga (memberi info) jumlah korban berapa, yang meninggal berapa, jangan simpang siur. Enggak boleh semua bicara," ujar Surono mengutip CNNIndonesia.com, Selasa (22/11) malam.

Dalam situasi yang masih diselimuti duka, Surono menginginkan agar tidak semua hal harus ditanyakan dan diungkap. Dia meminta masyarakat saling mengerti dan memahami pekerjaan kemanusiaan pascabencana.

"Saya bukan semua harus diungkap, tidak. Mari kita dalam kondisi duka biarlah yang mengangkut mayat jangan diganggu, yang distribusi jangan diganggu dan lain sebagainya," imbuhnya.

Senada, Dosen Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjajaran (Unpad) Yoga Adriana Sendjaja mengatakan perbedaan informasi sebisa mungkin harus dihindari dalam menanggulangi bencana.

"Kalau misalnya ada dobel data kita juga kan tidak inginkan seperti itu, jadi mungkin dari BNPB atau Pemkab Cianjur bisa melakukan koordinasi," kata dia saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Yoga memberikan catatan penting terkait proses awal penanggulangan bencana.

Menurut dia, langkah pertama yang harus dikerjakan adalah melakukan asesmen guna mengetahui kondisi pascagempa di Cianjur. Asesmen penting dilakukan agar bantuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan.

"Kita melakukan asesmen karena kita tahu mereka perlu bantuan, tetapi jangan sampai bantuannya salah target. Bantuan apa yang paling prioritas kita utamakan," imbuhnya.

Yoga menjelaskan dari berbagai asesmen yang telah dilakukan, wilayah terdampak gempa Cianjur masih memerlukan tim medis khususnya dokter spesialis bedah ortopedi dan bedah umum. Kebutuhan tim medis non fisik juga diperlukan untuk menangani trauma penyintas.

"Medis secara fisik maupun medis secara psikologis. Oleh karena itu, tim dokter dari Unpad akan berangkat ke Cianjur," tegasnya.

Mitigasi Bencana di Indonesia Masih Nol
Surono yang merupakan mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ini berpendapat mitigasi bencana di Indonesia masih nol. Dia menyamakan mitigasi dengan pendidikan.

"Pendidikan di kita tentang lingkungan di sekitar kita, tentang ancaman di sekitar kita, itu nol. Mitigasi kan masalah pendidikan," kata Surono.

Surono yang sempat mengambil studi geofisika di Prancis menyatakan kurikulum pendidikan sejak dini merupakan kunci untuk bisa mengurangi dampak bencana.

Ia lantas menceritakan pengalamannya mengajar sejumlah anak-anak di Garut tentang kebencanaan pada suatu waktu. Ia mengajar begitu lama berharap orang tua murid menanyakan anaknya mengapa pulang terlambat.

Dia berharap sang anak bisa menjelaskan apa yang diperolehnya dalam pelajaran sebelumnya. Namun, terang dia, hanya sekitar 10 persen orang tua yang menanyakan alasan anaknya terlambat pulang.

"Dan sekolah, masalah bencana kan enggak ada di Indonesia. Padahal hitung berapa triliun rugi karena bencana," tutur dia.

"Apakah kita sudah mendidik? Kita lebih mengatakan bahwa matematika plus Bahasa Inggris sama dengan sukses tanpa harus mengetahui saya berada di mana, apa ancamannya dan bagaimana cara mengantisipasinya," sambungnya.

Surono mengibaratkan masyarakat Indonesia sebagai tamu yang seharusnya mengenal tuan rumah yaitu alam. Pengetahuan tentang lokasi tempat tinggal, ancaman bencana, hingga cara mengantisipasi sangat penting disosialisasikan kepada masyarakat.

Dengan begitu, ia meyakini korban jiwa akibat bencana tidak sebanyak yang sudah-sudah.

"Kita tamu, alam ini adalah tuan rumah. Kalau kita datang kan kita harus tahu karakter punya rumah seperti apa," kata Surono.

"Kita betul-betul harus menyesuaikan diri dengan sang punya rumah. Kita harus mempelajari dulu wong kita bertamu kok. Jadi, jangan kita 'ah saya mau tinggal di sini, mau saya begini.' Enggak bisa," lanjutnya.

Hal-hal seperti dijelaskan di atas, menurut Surono, belum diterapkan betul di Indonesia. Dia pun mengkritik keras penanggulangan dan mitigasi bencana yang sejauh ini dilakukan.

"Apakah cukup nantinya setiap terjadi bencana para pejabat datang ke lokasi bencana dengan biaya tinggi, yang dibagi beras dan mi instan. Apa itu? No. Itu sudah keliru," kata mantan Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ini.

Surono berharap pemerintah dan masyarakat sama-sama sadar betapa penting pendidikan kebencanaan. Pasalnya, terang dia, sudah teramat sering bencana terjadi di Indonesia dan sudah teramat banyak kerugian yang dialami.

"Kita mendidik kepenginnya kalau bisa ketika ada sesuatu [bencana], tidak terjadi apa-apa. Atau hanya pengin geger terus?" kata Surono.

"Menghitung korban jiwa, menghitung kerugian sekian ratus miliar, kemudian kebutuhan mi instan, beras dan sebagainya, tanggap darurat waktunya sekian, apa itu tiap tahun?" tandasnya.

Ketua Pusat Riset Kebencanaan Unpad Yoga Adriana Sendjaja menambahkan kewaspadaan penting sebagai bentuk mitigasi ke depan. Terlebih gempa Cianjur dikatakan sebagai gempa 20 tahunan.

Ia pun menekankan literasi pendidikan kebencanaan harus diperkuat lagi di sekolah-sekolah dan lingkungan keluarga. Hal itu akan membuat masyarakat sadar terhadap bencana.

"Begini, mitigasi kurangnya literasi pendidikan bencana di sekolah-sekolah. Sebetulnya bencana kan enggak bisa dihindari di Indonesia karena Indonesia di atas lempeng," kata Yoga.

"Literasi bencana bukan sesuatu yang tabu. 'Sudah jangan bicarain bencana', orang kan selalu begitu. Sudahlah itu wallahualam, memang wallahualam, tapi alangkah baik kita mengetahui mitigasi," sambungnya.

Yoga menginginkan setiap sekolah menerapkan secara rutin latihan kebencanaan bagi para peserta didik.

"Pokoknya harus diterapkan latihan kebencanaan real di sekolah, mau setiap semester dua kali atau gimana. Bukan kurikulum khusus sih, tapi sesuatu yang terjadwal saja," pungkasnya.(han)