Wanita Konsultan Pajak Gelapkan Uang Perusahaan Klien di Malang Senilai Rp 1,9 M

Jul 9, 2024 - 22:53
Wanita Konsultan Pajak Gelapkan Uang Perusahaan Klien di Malang Senilai Rp 1,9 M
Sidang penggelapan uang pajak perusahaan berlangsung di ruang Cakra Pengadilan Negeri Malang, Kota Malang, Jawa Timur pada Senin (8/7/2024).

NUSADAILY.COM - KOTA MALANG - Seorang wanita bernama Rizky Marthalianingtyas (37) di Kota Malang berprofesi sebagai konsultan pajak dari CV Ferrano Tax Advisor, Surabaya nekat menggelapkan uang kliennya dari PT Pangkat Dewata Makmur asal Malang. 

 

Pelaku sudah menjadi konsultan bagi perusahaan yang bergerak di bidang properti itu sejak tahun 2015. Dia bekerja menghitung pajak PPH dan PPN perusahaan tersebut, sehingga membantu meringankan urusan pembayaran pajak yang sebelumnya dihitung sendiri.

 

Masalah muncul ketika kode billing yang diberikan terdakwa tidak dapat melalukan transaksi pembayaran. Terdakwa meminta inisiatif pembayaran melalui rekening pribadinya.

 

Herry sempat curiga, tetapi terdakwa meyakinkan korban bahwa perusahaan konsultan tempat ia bekerja memberikan kewenangan hal itu.

 

Pada 3 November 2023, PT milik Herry menerima surat dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Malang yang meminta Herry untuk datang ke kantor memberikan penjelasan terkait pajak yang tak terbayarkan. Korban kemudian menanyakan hal itu ke terdakwa, tetapi terdakwa selalu berkelit.

 

Sidang kasus tersebut terus berlangsung di ruang Cakra Pengadilan Negeri Malang, Kota Malang, Jawa Timur. Belum lama ini sidang digelar pada Senin (8/7/2024).

 

Sidang itu menghadirkan empat orang saksi. Diantaranya, rekan dari terdakwa di CV Ferrano Tax Advisor, Surabaya yakni Mulyadi Tedja Sukmana dan Ervina. Namun, satu orang saksi mengundurkan diri.

 

"Empat orang saksi, satu orang menyatakan mengundurkan diri yaitu kakak dari terdakwa, tiga orang kami periksa, namun satu orang dalam keadaan sakit, tetapi dia semangat untuk memberikan keterangan," kata Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Kota Malang, Su'udi, Selasa (9/7/2024).

 

Mulyadi dan Ervina mengerti kaitan dengan tugas dan fungsi dari terdakwa yaitu selaku orang yang menghitungkan pajak baik PPH (pajak penghasilan) dan PPN (pajak pertambahan nilai) dari PT Pangkat Dewata Makmur milik Herry Wiyono, 49.

 

Mulyadi dan Ervina mengetahui terdapat pajak yang telah dihitung sebelumnya oleh terdakwa. Namun, terdakwa kemudian tidak membayarkan pajak tersebut. Sebenarnya terdakwa tidak memiliki tugas dan fungsi untuk membayarkan pajak. 

 

Mulyadi baru mengetahui adanya pajak yang tidak dibayarkan oleh terdakwa pada saat adanya konfirmasi dari Herry. Terdakwa juga sempat dimediasi oleh Mulyadi.

 

"Tahunya kemudian pada saat ada konfirmasi dari Pak Herry kepada Pak Mulyadi bahwasannya ada pajak yang dibayarkan melalui terdakwa, yang kemudian tidak terbayarkan dan ditagih oleh kantor pajak," katanya.

 

Total kerugian yang dialami oleh PT Pangkat Dewata Makmur yakni Rp 1,9 miliar pada tahun 2023. Sejauh ini, aliran dana yang diketahui hanya antara korban ke rekening pribadi terdakwa.

 

"Kami agendakan untuk keterangan terdakwa, di hari Senin (15/7/2024), satu minggu kedepan," katanya.

 

Herry mengatakan, fakta baru dari persidangan bahwa terdakwa diketahui tidak memiliki sertifikasi untuk menangani perpajakan suatu perseroan.

 

"Juga terkait dengan sertifikasi Kiki (terdakwa), itu tidak ada," katanya. (oer/wan)