Usai Terima Prince Abdul Qaw, Bamsoet Ingatkan Krisis Global dan Perubahan Iklim

Usai Terima Prince Abdul Qaw, Bamsoet Ingatkan Krisis Global dan Perubahan Iklim
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo saat menerima Prince Abdul Qaw Brunei Darussalam Foto ; Ist.

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Ketua MPR RI  Bambang Soesatyo usai bertemu Prince Abdul Qawi dari Brunei Darussalam mengatakan ancaman Krisis global sudah di depan mata.Karena saat ini ada 320 juta penduduk dunia mengalami kelaparan akut.

Bahkan, kata orang nomer dua di partai Golkar itu mengatakan menurut data dari IMF dan Bank Dunia perekonomian di 66 negara di prediksi akan ambruk dan bangkrut.Tentunya hal ini disebabkan adanya pelambatan dan kontraksi pertumbuhan ekonomi global, yang  diperburuk oleh tingginya kenaikan inflasi.

Selain itu, pria yang kerap disapa Bamsoet itu juga mengingatkan jika dunia saat ini sedang menghadapi perubahan iklim yang ditandai dengan peningkatan panas bumi.

Menurut Bamsoet, peningkatan suhu dari waktu ke waktu telah mengubah pola cuaca dan mengganggu keseimbangan alam.Sesuai dengan 

Kerangka kerja PBB untuk Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change / UNFCCC) pada 2019 menyatakan kenaikan suhu global harus ditahan di kisaran 1,5 derajat celcius.

" Hal itu guna mencegah tragedi terburuk pada ekosistem dan memastikan ketahanan peradaban manusia.Sehingga Negara-negara di dunia pun berbondong-bondong menyampaikan National Determinated Contributions (NDCs) sebagai deklarasi tentang rencana masing-masing negara untuk mengurangi emisi dan mencegah terjadinya krisis iklim," jelasa Bamsoet Kepada Wartawan Di gedung Parlemen Senayan Jakarta, Rabu (23/11/2022).

Terkait hal tersebut, Bamsoet sangat mendukung kerjasama antara Indonesia dan Brunei Darussalam guna menjalankan misi bersama dalam penyelamatan ekosistem global. Menurut dia misi itu dapat dibarengi 

dengan upaya menciptakan kesempatan ekonomi baru yang memperkuat daya tahan kelompok paling marjinal.

"Kita semua akan dihadapkan pada pilihan transisi untuk memasuki arena green economy yang mensyaratkan produksi berbasis rendah emisi yang disertai dengan komitmen dalam arena perdagangan karbon. Indonesia dan Brunei Darussalam dapat mengambil peran transformasi tersebut guna menciptakan pembangunan berkelanjutan serta menjawab krisis iklim yang ada di hadapan kita," tukasnya.(sir/wan)